The Pre-Lenten Sundays

Nama : Ribala Erniwati Gulo

The Pre-Lenten Sundays

1) Minggu Zakheus (Luk 19:1-10) mengajarkan kepada kita untuk datang dan aktif mencari anugerah Allah yang telah datang seperti Zakheus. Membuka pintu hati menerima Kristus dan mengalami pertobatan dari dosa-dosa kita seperti Zakheus adalah langkah awal yang harus kita kerjakan. Melalui pertobatan dan keselamatan kita ada banyak orang di sekitar kita juga boleh diselamatkan oleh anugerah Allah itu (ayat 9). Menjadi seperti Zakheus adalah langkah awal kita memasuki masa persiapan Paskah. Membuka pintu hati kita meresponi anugerah adalah iman yang hidup dan bersinergi dengan anugerah Allah.

Rasul Suci Zakheus adalah seorang pemungut cukai yang kaya di Yerikho. Karena tubuhnya pendek, dia memanjat pohon ara untuk melihat Juruselamat lewat. Setelah Kenaikan Tuhan, Zakheus menemani Rasul Petrus dalam perjalanannya. Menurut tradisi, ia menjadi Uskup Kaisarea di Palestina, di mana ia meninggal dengan tenang. Diperingati oleh Gereja setiap tanggal 20 April.[1]

2) Minggu Orang Farisi dan Pemungut Cukai (Luk 18: 14-18) mengajarkan kepada kita untuk rendah hati mengakui dosa-dosa dan meminta belas kasihan Allah mengampuni dosa-dosa kita. Kita tidak melihat diri kita seperti orang Farisi yang selalu merasa benar melainkan seorang pemungut cukai yang berdosa dan membutuhkan belas kasihan atau pengampunan Allah. Dengan kerendahan hati dia memohon belas kasihan Allah sebab dia orang berdosa dan akhirnya dia dibenarkan atau diampuni Allah. Pengakuan dosa mendatangkan pengampunan.

3) Minggu Anak yang Hilang (Luk 15:1-32) mengajarkan kepada kita untuk kembali kepada Bapa mendapatkan pengampunan dan pertobatan dari dosa-dosa. Kita semua seperti anak bungsu yang berdosa kepada Bapa namun hanya dengan cara kembali kepada Dia kita akan mendapatkan kehidupan sebab Dia adalah kasih bagi kita yang sungguh-sungguh mau bertobat. Pengakuan dosa harus diikuti pertobatan dosa dan itu menyenangkan hati Allah. Kita adalah anak yang hilang yang ditemukan kembali dan hidup kembali dengan jalan pertobatan.

4) Minggu Penghakiman Akhir (Mat 25:31-46) mengajarkan kepada kita untuk menjadi seperti domba yang mengasihi tanpa memandang muka yaitu mengasihi tuan dengan memberi makan, minum, merawat, memberi tumpangan, pakaian kepada orang yang paling hina. Kasih adalah buah dari pertobatan kita dan buah kasih inilah yang menyelamatkan kita dari kebinasaan atau api neraka yang mengerikan itu. Buah kasih adalah syarat lolos dari hari Kristus hari Penghakiman Akhir kepada setiap manusia di mana Kristus akan menjadi Hakim bagi mereka semua. Ketika kita bertemu Kristus kelak di hari yang menentukan dan menakutkan ini kita harus telah membawa buah pertobatan atau buah Roh itu.

5) Minggu Pengampunan Dosa (Mat 6: 14-15) mengajarkan kepada kita untuk berdamai dengan semua orang yaitu mengampuni kesalahan orang lain. Pengampunan ini menunjukkan kepada kita bahwa kita memang orang berdosa yang tidak layak diampuni namun Allah telah mengampuni kita. Kita wajib mengampuni dosa orang lain karena kita sendiri juga berdosa dan butuh pengampunan Allah. Jika kita tidak mengampuni maka Allah juga tidak mengampuni sebab kita telah menjadi orang munafik di hadapan Allah (baca Mat 7:1-5). Bahkan sebelum kita meminta ampun kepada Allah kita terlebih dahulu harus berdamai dengan sesama kita (Mat 5:23-24). Mengampuni orang lain artinya kita berbuat seperti yang Allah perbuat untuk kita dan dengan demikian dosa kita juga diampuni Allah sehingga kita dan orang itu akan sama-sama mendapat kasih Allah dan hidup di dalam kekudusan.

ἐγώ εἰμι ἡ ἄμπελος, ὑμεῖς τὰ κλήματα. ὁ μένων ἐν ἐμοὶ κἀγὼ ἐν αὐτῷ, οὗτος φέρει καρπὸν πολύν, ὅτι χωρὶς ἐμοῦ οὐ δύνασθε ποιεῖν οὐδέν. (Yohanes 15:5 BYZ)

“I am the vine, you are the branches. He who abides in Me, and I in him, bears much fruit; for without Me you can do nothing.” (John 15:5 NKJV)

Keselamatan adalah hasil sinergi antara anugerah Allah (karya Roh kudus yang mencurahkan kasih Allah) dan iman manusia (respons manusia yang dituntun oleh anugerah Allah) (Efe 2:8). Keselamatan atau sinergi anugerah dan iman ini bukan karya manusia melainkan karya atau pemberian Allah. Free will manusia yang meresponi anugerah Allah adalah iman yang menyelamatkan dan itu adalah pemberian Allah bukan hasil usaha manusia. Namun di dalam anugerah atau pemberian Allah ada respons atau usaha manusia terhadap kasih Allah. Ada anugerah yang diberikan Allah kepada Rasul Paulus, namun Rasul Paulus tidak berdiam diri melainkan bekerja keras di dalam anugerah untuk memberikan buah. Ada sinergi antara anugerah dan kerja keras Rasul Paulus namun itu semua semata-mata anugerah Allah (1 Kor 15:10).

Seperti yang ditegaskan oleh Tuhan Yesus bahwa di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya di dalam Kristus kita bisa berkarya menghasilkan buah. Buah adalah hasil sinergi antara pohon dan ranting yaitu Kristus berkarya di dalam perbuatan kita. Ada sinergi antara Kristus dan kita. Kita memikul kuk bersama Kristus (Mat 11:29-30). Kita berkarya di dalam Kristus atau kita berkarya bersama Kristus.

Cyril dari Alexandria menuliskan, “As the branch cannot bear fruit of itself, except it abide in the vine, so neither can ye, except ye abide in Me. For unless the branch had supplied to it from its mother the vine the life-producing sap, how would it bear grapes, or what fruit will it bring forth, and from what source? You will perceive that the language of Christ has an application by analogy to ourselves. For no fruit of virtue will spring up anew in us, who have once fallen away from intimate union with Christ. To those, however, who are joined to Him Who is able to strengthen them, and Who nourishes in righteousness, the capacity of bearing fruit will readily be added by the provision and grace of the Spirit, as by life-producing water. And knowing this, the Only-begotten said in the Gospels: If any man thirst, let him come unto Me and drink. And to this, the Evangelist, inspired by the Spirit, has testified, when in his excellent explanation he says: But this spake He of the Spirit, Which they that believe on Him were to receive. And the blessed David, speaking as though to God the Father, thus addressed Him: With Thee is the fountain of life, and Thou shalt give them to drink of the river of blessedness. For by the fountain of Divine and spiritual life and of the fulness of blessedness, who else could be meant but the Son, Who fattens and waters our souls in the position of branches clinging to Him by faith and love, with the quickening and joy-giving grace of the Spirit.”[2]

John Chrysostom menuliskan, “Here He alludes to the manner of life, showing that without works it is not possible to be in Him. And every branch that bears fruit, He purges it. That is, causes it to enjoy great care. Yet the root requires care rather than the branches, in being dug about, and cleared, yet about this He says nothing here, but all about the branches. Showing that He is sufficient to Himself, and that the disciples need much help from the Husbandman, although they be very excellent. Wherefore He says, that which bears fruit, He purges it. The one branch, because it is fruitless, cannot even remain in the Vine, but for the other, because it bears fruit, He renders it more fruitful.”[3]

Sinergi di dalam Yoh 15:5 adalah “Di dalam Kristus + Lakukan sesuatu = Buah” Apa yang harus kita lakukan di dalam Kristus? Tentunya kita sebagai ranting harus menghasilkan buah sehingga yang kita lakukan adalah pertumbuhan menuju buah yaitu mulai berakar, bertumbuh jadi pohon, dan berbuah. Kita telah lahir dari Allah sehingga memiliki benih ilahi (1 Yoh 3:9; 5:1). Benih ini harus ditanam di dalam tanah supaya berakar. Proses berakar adalah proses kematian benih menjadi akar dan bertunas. Itu adalah proses pertobatan kita dari dosa yaitu mematikan segala keinginan daging (Gal 5:24; Kol 3:5). Pertobatan ini salah satu yang harus kita lakukan di dalam Kristus supaya kita berakar dan bertumbuh di dalam Dia. Seperti bacaan-bacaan di dalam minggu persiapan Paskah di atas. Jadi, di dalam sinergi kita harus do something di dalam Kristus yaitu melakukan pertobatan dan hidup di dalam kasih dan pengampunan. Itu yang harus kita kerjakan dengan pertolongan Kristus melalui kuasa Roh Kudus yang menolong kita. Amin!


[1] Diterjemahkan dari https://oca.org/saints/lives/2019/04/20/148976-apostle-zacchaeus

[2] Dikutip dari https://www.ecatholic2000.com/cyril2/untitled-64.shtml#_Toc385694966

[3] Dikutip dari https://www.ecatholic2000.com/catena/untitled-103.shtml#_Toc384507003

The Lenten Commemorations

Nama : Ribala Erniwati Gulo

The Lenten Commemorations

  1. (Hebrews 11:24–26, 32—12:2; John 1:43–51)

Kata Ikon, berasal dari bahasa Yunani Eikon yang berarti gambar. Kamera Jerman terkenal Zeis Ikon menggunakan kata ini sebagai nama dagang. Rasul Paulus berbicara tentang Kristus sebagai Ikon Allah; itulah ungkapan dalam bahasa Yunani. Kristus adalah Ikon Allah, dan seluruh Perjanjian Baru ditulis atas dasar bahwa jika kita ingin tahu seperti apa Allah yang Kekal itu, kita memandang Yesus atau ikon itu dan lihatlah.

Di Barat, seni keagamaan ditempatkan di jendela gereja atau katedral. Di Timur jendela dibiarkan polos dan dindingnya ditutupi dengan seni keagamaan.

Tujuan ikon adalah:

1. untuk menciptakan penghormatan dalam ibadah;
2. untuk mengajar mereka yang tidak dapat membaca;
3. untuk melayani dalam hal hubungan eksistensial antara penyembah dan Allah.

Mengapa Ikon?

Orang Ibrani memiliki ikon-ikon dalam wujud kata tertulis. Mereka sangat menentang gambar apa pun, namun tidak pernah menyadari bahwa kombinasi huruf yang menyampaikan makna sama seperti ikon dari bentuk penggambaran lainnya. Untuk mengajari bangsa-bangsa lain seperti Yunani, Mesir, Latin, Gereja dihadapkan dengan kebutuhan untuk mengungkapkan kepada mereka gagasan tentang Kristus yang digambarkan secara visual. Kristus sudah diwujudkan dalam kata dan lagu tertulis. Sekarang Dia diwujudkan dalam bentuk gambar untuk menarik perhatian panca indera kita yaitu mata.

THE ICONOCLASTS

Kalender Gereja menetapkan hari Minggu Prapaskah pertama sebagai hari Minggu Ortodoksi. Ini menandai hari itu adalah hari Ikon. Ini menandai hari di mana penggunaan ikon-ikon dipulihkan kembali setelah masa penentangan. Ini memperingati kemenangan Gereja Ortodoks melawan ikonoklas yang tujuannya adalah untuk menghapus secara paksa semua ikon dari gereja dan menghancurkan mereka karena dianggap alat penyembahan berhala. Karena ikon tersebut adalah salah satu fitur paling khas dari Ortodoksi, kami akan mempertimbangkan secara singkat apa yang ditandakannya, mengapa itu digunakan, nilai praktisnya serta signifikansi doktrinalnya.

Pertama, mari kita pertimbangkan tuduhan penyembahan berhala. Orang Kristen Ortodoks tidak menyembah ikon; mereka hanya menghormati atau memuliakan ikon sebagai simbol. Leontius dari Neapolis menulis pada abad ketujuh: “Kami tidak membuat penghormatan kepada kayu, tetapi kami menghormati dan membuat penghormatan kepada-Nya yang disalibkan di Kayu Salib…. Ketika dua balok Salib disatukan, saya mengagumi sosok itu karena Kristus yang di kayu Salib disalibkan, tetapi jika balok-balok itu dipisahkan, saya membuangnya dan membakarnya.”

Apakah Allah Bisa Dilihat?

Ikonoklas (mereka yang berusaha untuk menghapus semua gambar ikon dari gereja) berpendapat bahwa Allah tidak dapat dilukis karena Ia kekal dan tidak terlihat. “Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah” (Yoh 1:18). Tetapi Orthodoxy bersikeras bahwa Allah dapat dilukis karena Ia menjadi manusia. Dalam Perjanjian Lama citra apa pun dari Allah akan menjadi “gambar berhuruf”, sebuah berhala, karena tidak ada gambar Allah yang dapat eksis. Tidak ada yang pernah melihat Allah. Tetapi ini berubah saat Allah menjadi manusia di dalam Kristus. Karena hal ini sekarang sah untuk membuat gambar-Nya. Mereka yang menyangkal ikon Kristus menyangkal kebenaran bahwa Dia telah menjadi manusia. Dengan kata lain, mereka menyangkal dasar keselamatan kita: Allah menjadi manusia di dalam Kristus. Jadi, apa yang kita benar-benar peringati pada hari Minggu Prapaskah pertama di Gereja Ortodoks bukanlah kontroversi tentang seni keagamaan, tetapi tentang Inkarnasi Kristus dan keselamatan manusia. Bapa Gereja Yohanes dari Damaskus mengungkapkan hal ini dengan baik ketika ia menulis, “Dahulu, Allah tidak pernah digambarkan. Tetapi sekarang, ketika Allah terlihat, berpakaian dalam daging dan bercakap-cakap dengan manusia, saya membuat gambar Allah, tentang Allah yang dapat saya lihat. Saya tidak menyembah materi. Saya menyembah Allah materi yang menjadi materi demi saya … untuk menyelesaikan keselamatan saya melalui materi.”

Adalah akurat secara teologis untuk mengatakan bahwa Allah Sendiri adalah pembuat ikon pertama dengan secara nyata mereproduksi diri-Nya dalam rupa Anak-Nya. Kontroversi ikonoklas bukan hanya kontroversi tentang seni keagamaan, tetapi lebih dari seluruh makna dan implikasi dari inkarnasi. Allah mengambil tubuh materi, dengan demikian membuktikan bahwa materi dapat ditebus. “Firman yang menjadikan manusia telah mengilahikan daging,” kata Yohanes dari Damaskus. Bahan-bahan yang digunakan dalam ikon hanyalah ekspresi apresiasi Kristen Timur terhadap dunia material. Ini memiliki banyak hal untuk dikatakan kepada kita hari ini di bidang ekologi: Hal itu sakral dan tidak boleh disalahgunakan atau terkontaminasi.

Reformasi Protestan abad ke-16 berpandangan negatif terhadap ikon. Bagi Luther mereka diizinkan sebagai ilustrasi. Calvin dapat menerima tidak lebih dari adegan sejarah dengan lebih dari satu orang digambarkan, sehingga tidak akan membuat orang yang setia tersandung dalam penyembahan berhala. Kaum Puritan di Inggris dan Amerika mengambil pandangan negatif tentang seni ikon. Mereka membenci dan melarang semua lukisan agama. Di satu sisi mereka mungkin benar. Kebanyakan “seni religius atau seni ikon” bersifat ofensif karena sulit untuk percaya bahwa Anak Allah yang tunggal menjadi manusia. Gambar Kristus sebagai seorang wanita berjanggut, kadang-kadang dengan hati valentine yang berdarah menunjukkan melalui dada transparan, jika dianggap serius, menyangkal bahwa Dia adalah manusia. Gambar-gambar seperti itu memberi gagasan bahwa Dia menjadi hantu, baik pria maupun wanita. Eric Newton menulis, “Tetapi sejak saat Allah mengutus Putra tunggal-Nya untuk tinggal di bumi, lahir dari seorang wanita fana, untuk berkhotbah, untuk melakukan mukjizat, untuk menderita maut di tangan orang-orang Yahudi, dan untuk dibangkitkan, situasi bagi Dia berubah , karena agama baru yang terkandung di dalamnya sendiri ada fakta yang tak terlihat menjadi nyata, Allah menciptakan manusia, supranatural dibuat nyata secara fisik. Akhirnya tidak ada alasan untuk melarang pencitraan, karena jika Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia, tidak ada kemungkinan gambar tentang Dia yang mengarah pada penyembahan berhala.”

Apa itu Ikon?

Kecenderungan di antara beberapa orang Kristen mula-mula adalah tidak menggunakan gambar Yesus yang realistis. Sebagai gantinya mereka menggunakan tanda-tanda abstrak – huruf yang akan mewakili Yesus, seperti huruf Chi-Rho, dua huruf pertama dari kata Yunani untuk Kristus, atau IHS, huruf pertama untuk nama Yesus dalam bahasa Yunani. Mereka juga menggunakan tokoh-tokoh seperti ikan, yang merupakan tanda rahasia bagi Kristus, atau seekor domba, yang mewakili Yesus, Anak Domba Allah. Sinode Trullan, yang diadakan di Konstantinopel pada tahun 692, menyatakan bahwa adalah salah bagi gereja untuk menggambarkan Kristus dalam tanda dan lambang itu. Sinode secara khusus menetapkan hal itu salah untuk menggambarkan Kristus sebagai domba (Anak Domba Allah). Jika dia benar-benar menjadi manusia, kata Sinode, maka Dia harus digambarkan sebagai manusia – bukan sebagai binatang atau sebagai simbol.

Para Bapa Gereja merasa bahwa sifat ilahi Kristus harus ditunjukkan dalam gambar-gambar serta sifat manusiawi-Nya. Mereka mengatakan, dalam arahan yang sama, bahwa gambar-Nya tidak boleh “terlalu duniawi”. Sidang Ekumenis Ketujuh menyatakan bahwa Gereja, meskipun ia dapat menggambarkan Tuhan melalui seni dalam wujud manusia-Nya, tidak boleh terpisah dalam representasi daging Kristus dari keilahian-Nya. Kristus harus diwakili dalam seni ikon sebagai Tuhan-Manusia. Dengan demikian, akan sangat tidak benar untuk mewakili Kristus sesuai dengan keindahan alam dari beberapa model manusia biasa. Dan ini tidak benar di Barat di mana orang-orang muda yang “tampan” dan visioner menjadi model lukisan Kristus yang sebenarnya. Sifat manusiawi Kristus yang “indah” dari seni Barat tidak dapat diterima oleh orang-orang Kristen Timur mengingat fakta bahwa mereka hanya mengungkapkan gagasan tentang sifat manusia dari Tuhan kita. Jadi, seni Ortodoks dihadapkan dengan tugas khusus untuk menemukan beberapa jenis ikonografi yang akan mengarahkan penonton langsung pada pemikiran bahwa dalam diri orang yang diwakili “seluruh kepenuhan keilahian berdiam secara jasmani” (Rasul Paul). Selain itu, Theodore Studites berkata, “Jika kita mengatakan bahwa Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah, dengan cara yang sama perwakilannya harus dikatakan sebagai kekuatan dan hikmat Allah.” Karena alasan ini, seni ikon Orthodox diciptakan untuk Kristus sebagai tipe ideal seperti model manusia murni, dengan karakteristik supernatural seperti mata besar, hidung dan tangan. Dengan demikian, ikonografer Ortodoks berusaha untuk mengekspresikan unsur supra-alami, supra-rasional dan supra-konseptual Tuhan kita melalui hiperbola, berlebihan, dan bahkan deformasi realitas alam. Jadi, sementara di Barat secara tradisional menekankan sifat manusia dari Kristus melalui penggunaan patung-patung dan model-model manusia Yesus, Timur lebih menekankan pada sifat ilahi Yesus melalui ikon yang sesuai dengan ekspresi ilahi yang sangat efektif, keadaan Yesus yang berubah rupa melalui penggunaan gaya bahasa.

Tiga Cara Penggambaran

Ada tiga cara yang mungkin untuk “menggambarkan” seseorang: foto, potret/lukis, dan ikon. Foto itu merekam fitur apa adanya. Potret yang sukses mereproduksi fitur seseorang dengan cara yang benar untuk kehidupan dan dapat dikenali; tetapi pada saat yang sama itu mengeluarkan karakternya dan memberikan ekspresi pada sifat batinnya. Sebuah ikon bukanlah foto tetapi lebih seperti potret. Namun itu lebih dari sekadar potret. Itu bertujuan memberi keserupaan yang benar dari orang itu, dan pada saat yang sama ia berusaha untuk menunjukkan kepada seseorang apa yang telah menjadi jati dirinya melalui kuasa Roh Kudus. Suatu ikon lebih dari sekadar foto, bahkan lebih dari sekadar potret. Ikonografi menggambarkan apa yang terjadi pada orang-orang setelah Tuhan menyentuh mereka. Mereka menjadi orang baru. Dengan menghilangkan segala sesuatu yang tidak relevan dengan figur spiritual, figur tersebut menjadi bergaya, spiritual, bukan tidak realistis tetapi supra-realistis. Ikon tersebut dengan demikian disisihkan dari semua bentuk seni bergambar lainnya. Ia menawarkan ekspresi eksternal dari keadaan manusia yang berubah rupa, dari tubuh yang dipenuhi dengan Roh Kudus, begitu terlatih dalam kebaikan, sehingga menjadi seperti tubuh rohani yang akan kita terima pada Kedatangan Kristus yang Kedua.Ada beberapa yang percaya bahwa abstraksionisme, pengurangan fitur adalah untuk esensi paling murni, berasal dari para ikonografer.

Ikon disebut doa, nyanyian pujian, khotbah dalam bentuk dan warna. Mereka adalah Injil visual. Pada kenyataannya, Gereja Timur memiliki dua Injil: lisan dan visual, untuk menarik seluruh manusia. Seperti dikatakan Bapa Gereja, Basil, “Apa yang ditransmisikan oleh kata melalui telinga, lukisan itu secara diam-diam ditunjukkan melalui gambar, dan dengan dua cara ini, saling menemani satu sama lain … kita menerima pengetahuan tentang satu hal yang sama.”Seseorang harus memasuki Gereja untuk melihat di hadapannya semua misteri agama Kristen terbentang di hadapannya. “Jika seorang yang belum percaya meminta kita untuk menunjukkan kepadanya iman kita,” kata Yohanes dari Damaskus, “bawa dia ke gereja dan tempatkan dia di depan ikon.” Melalui ikon ini, Gereja menarik bagi mata dan indera. Kita mengingat jauh lebih mudah dari apa yang kita lihat bukan apa yang kita dengar. Para nabi Perjanjian Lama, misalnya, sering menggunakan metode aksi dramatis dan simbolik. Laki-laki mungkin menolak untuk mendengarkan, tetapi mereka sulit melihat. Yeremia, misalnya, memperingatkan orang-orang dari perbudakan yang akan menimpa mereka dengan membuat kuk dan mengenakannya di lehernya. Praktik di negara-negara Komunis untuk menggantung foto-foto pemimpin mereka di mana-mana dipinjam oleh kaum Marxis Rusia dari penggunaan ikon di Gereja Ortodoks Rusia. Gambar-gambar itu, pada dasarnya, adalah ikon para ilah baru yang dimaksudkan untuk memancing semacam penyembahan pada tokoh itu dan ketaatan mutlak pada mereka.Ikon itu lebih dari sekadar sarana pengajaran. Ini berlaku untuk sakramen. Sebab, sebuah ikon tidak sepenuhnya merupakan ikon sampai ikon itu diberkati oleh imam di gereja. Karena dia menjadi penghubung antara manusia dan ilahi. Ini memberikan pertemuan eksistensial antara manusia dan Allah. Itu menjadi tempat penampakan Kristus, asalkan seseorang berdiri di hadapannya dengan hati dan pikiran yang benar. Itu menjadi tempat doa. Ikon berpartisipasi dalam peristiwa yang digambarkannya dan hampir merupakan penciptaan kembali dari peristiwa itu secara eksistensial bagi orang percaya. Seperti yang dikatakan S. Bulgakov, “Dengan berkat ikon Kristus, sebuah pertemuan mistis umat beriman dan Kristus menjadi mungkin.” Banyak ikon dianggap sebagai “pekerjaan ajaib”. Ini dianggap sebagai ikon par excellence/luar biasa. Berdiri di Gereja Ortodoks yang dinding dan langit-langitnya ditutupi dengan ikon Kristus dan orang-orang kudus, penyembah itu tidak merasa sendirian. Dia mengalami persekutuan dengan orang-orang kudus. Dia mengalami persekutuan dengan Kristus dan orang-orang kudus. Dia dibuat merasa bahwa dia adalah anggota keluarga Allah. Cecil Steward menggambarkan ini dengan baik ketika dia menulis, “Gambar-gambar itu kelihatannya diatur sedemikian rupa sehingga menanamkan perasaan hubungan langsung antara kita dan gambar-gambar itu… masing-masing kepribadian diwakili menghadap satu, sehingga seseorang berdiri, seolah-olah, di dalam jemaat ada para orang kudus. Seni Byzantium, pada kenyataannya, menempatkan satu di gambar …. Dia (penonton) mengamati dan diamati.”

Pengaruh Seni Dari Mesir

Salah satu pelopor ikon adalah potret pemakaman Mesir. Keinginan dari almarhum untuk tidak dilupakanlah yang membuat orang Mesir melukis gambar wajah orang yang meninggal pada mumi. Yang membedakan fitur potret pemakaman orang Mesir adalah mata besar, terbuka lebar dan menatap orang yang memandang mereka, seolah berkata, “Inilah aku. Anda mungkin berpikir saya sudah pergi dan lupa, tetapi ketika saya melihat Anda dengan mata ini, saya menantang Anda melupakan saya.”Ikon-ikon Kristen awal mengikuti pola yang sama. Orang-orang kudus yang mereka wakili memiliki mata besar yang menatap langsung ke mata para pengikut mereka, seolah berkata, “Inilah aku. Saya mungkin tampak mati bagi Anda, tetapi saya sangat hidup di hadirat Allah.”

Ini adalah salah satu prinsip yang dimasukkan ke dalam lukisan ikon. Organ-organ sensorik (mata, hidung, telinga) tidak dilukis menurut anatomi yang benar karena masing-masing organ itu telah diubah oleh rahmat ilahi dan tidak lagi menjadi organ indera manusia biologis yang biasa. Mata dicat besar dan beranimasi untuk mengekspresikan intensitas fisik. Telah dibukakan oleh Allah, mereka telah melihat hal-hal besar. “Mata-Ku telah melihat keselamatan-Mu.” Telinga dicat besar sebagai proyeksi simbolis dari telinga jiwa yang telah mendengar dan masih mendengar kabar baik tentang Kristus. Hidung juga seringkali lebih besar dari ukuran alami dan tipisnya untuk menunjukkan bahwa hidung itu tidak dimaksudkan untuk mencium hal-hal dari dunia ini tetapi aroma Kristus dan Roh Kudus. Mulut, di sisi lain, berbentuk kecil untuk menyatakan bahwa orang suci yang diwakili “tidak memikirkan hidupnya, apa yang akan dia makan dan apa yang akan dia minum”, tetapi pertama-tama mencari kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.

Lingkaran Halo

Seni ikon Barat telah mengandalkan mahkota cahaya atau lingkaran cahaya untuk menunjukkan “kekudusan” orang yang diwakili. Biasanya ini terjadi karena orang yang kudus itu begitu berwajah dunia sehingga lingkaran halo diperlukan untuk menandakan bahwa dia seorang Kudus yang sedang diwakili. Dalam ikon, bagaimanapun, seseorang tidak bergantung pada halo saja untuk memahami bahwa orang yang diwakili adalah orang Kudus. Kekudusan ditunjukkan oleh seluruh bentuk dan gaya ikon. Inilah sebabnya mengapa halo hilang dari beberapa ikon yang lebih tua serta di lukisan dinding katakombe di mana Kristus dan para martir diwakili tanpa lingkaran cahaya.

Penggunaan Ikon

Seorang gadis Jepang di sebuah perguruan tinggi Amerika diundang untuk menghabiskan liburan Natal bersama teman sekelasnya. Setelah itu dia ditanya bagaimana dia menikmati liburan. “Baiklah,” jawabnya, “tetapi saya merindukan Tuhan di rumah. Saya telah melihat Anda menyembah Tuhan di gereja Anda. Di negara saya, kami memiliki rak atau altar dewa sehingga kami dapat menyembah dewa-dewa kami di rumah kami. Tidakkah orang Amerika menyembah Tuhan mereka di rumah mereka?” Sudah menjadi tradisi bagi rumah-rumah Kristen Orthodox untuk memiliki “rak-Tuhan” dalam bentuk ikon dengan cahaya lilin menyala di depannya. Ini berfungsi sebagai pengingat akan kehadiran Allah di rumah dan sebagai pusat doa keluarga. Di Rusia kuno, misalnya, setiap rumah — dari istana musim dingin Tsar yang hebat hingga pondok jerami petani — memiliki ikon Kristus atau Bunda Perawan. Pada saat itu tidak ada rumah di Rusia yang menjadi rumah jika di rumahnya belum dikuduskan oleh ikon.
Helene Iswolsky menulis dalam bukunya Christ in Russia, “Di masa lalu … seorang Rusia yang memasuki rumahnya atau mengunjungi seorang teman pertama-tama akan membungkuk rendah di depan ikon dan membuat tanda salib sebelum menyapa keluarga atau tuan rumahnya. Ikon-ikon itu melambangkan kehadiran Allah; mereka adalah pengingat akan kehidupan yang supranatural, dan menarik bagi moralitas dan hati nurani. Sulit untuk berbohong, menipu, menjadi brutal di depan ikon. Komunis di Rusia melakukan semua yang mereka bisa untuk merobohkan ikon-ikon dari rumah-rumah rakyat, untuk menghilangkan citra Allah mereka, dan untuk meredam nurani rakyat.”

Bahkan, jika Gereja di Rusia telah bertahan di bawah Komunisme selama bertahun-tahun terakhir ini meskipun tidak ada fasilitas untuk mengajar anak-anak dalam iman Kristen baik di sekolah atau di gereja, itu karena (berbicara secara manusiawi) adanya keluarga Kristen. Keluarga ini dianggap sebagai “gereja rumah” dengan “altar” sendiri di mana doa-doa dipersembahkan di hadapan ikon.
Ikon itu tidak pernah dimaksudkan untuk digantung di dinding sebagai objek estetika. Jika digunakan sebagai hiasan yang menarik, tidak lagi berfungsi sebagai ikon. Untuk sebuah ikon hanya dapat ada dalam kerangka iman dan ibadah tertentu yang menjadi ikonnya. Bercerai dari kerangka ini, ia kehilangan fungsinya sebagai ikon.
Dalam sebuah fragmen kehidupan John Chrysostom yang disimpan dalam sebuah karya oleh John of Damascus (675-749), kita diberitahu bahwa Chrysostom memiliki ikon Rasul Paulus di hadapan dirinya ketika dia mempelajari surat-surat Paulus. Ketika dia melihat ke atas dari Kitab Sucinya, ikon itu tampak hidup dan berbicara kepadanya.Ikon di rumah menguduskan kita; mereka mengubah tempat tinggal yang netral menjadi “gereja rumah tangga” dan kehidupan orang beriman menjadi liturgi yang tak henti-hentinya.
Yesus berkata, “Ketika kamu berdoa, pergilah ke kamarmu” (Mat 6:6). Uskup Agung Paulus dari Finlandia menambahkan, “Namun demikian kita tidak sendirian. Ikon di sudut ruangan tempat kita berdoa adalah jendela menuju kerajaan Allah dan ikatan dengan para anggotanya.”Salah satu Leluhur Gereja Rusia berkata,Jika di rumah sakit, yang mengobati penyakit tubuh jasmani, semuanya diatur untuk membuat lingkungan yang kondusif bagi pasien untuk kembali sehat, apa yang harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk semuanya di rumah sakit rohani, gereja Tuhan.Kita dapat menerapkan ini juga ke rumah Kristen yang harus mencakup pengingat akan kehadiran Allah yang menguatkan dan menyembuhkan.

Pelukis Ikon

Dikatakan bahwa cinta adalah penerjemah yang hebat. Hanya konduktor orkestra yang jatuh cinta dengan musik yang paling bisa menafsirkan dan mengekspresikan musiknya. Seorang seniman muda pernah membawa foto Yesus yang telah ia lukis kepada seorang pelukis hebat untuk dinilai. Pelukis itu mempelajarinya selama beberapa waktu dan akhirnya berkata, “Kamu tidak mencintai-Nya, atau kamu tidak akan melukisnya lebih baik.” Kebenaran agung ini dipraktikkan di antara pelukis ikon Ortodoks yang biasanya adalah para rahib. Ikonograf semacam itu tidak dianggap sebagai seniman religius, melainkan sebagai orang yang memiliki panggilan rohani. Mereka adalah para misionaris yang mengabarkan teologi visual. Ikon, seperti Firman, adalah wahyu, bukan hiasan atau ilustrasi. Ini adalah teologi dalam warna. Lebih penting daripada menjadi seniman yang baik adalah kenyataan bahwa pelukis ikon menjadi orang Kristen yang tulus yang mempersiapkan diri untuk pekerjaannya melalui puasa, doa, pertobatan, dan memiliki perasaan bahwa ia hanyalah alat di mana Roh Kudus mengekspresikan diri-Nya. Sangat penting untuk mengenal Yesus lebih baik jika seseorang ingin melukis-Nya dengan lebih baik. Di Barat telah menginstruksikan dan bahkan membatasi pelukis, sedangkan di Timur ikonografer adalah seorang karismatik yang merenungkan misteri liturgi dan mengajar.

IKON TERBAIK ALLAH

Karena kita berbicara tentang ikon, maka ikon terbaik Allah adalah manusia yang diciptakan menurut gambar Allah sendiri. Setiap orang di gereja adalah ikon Allah yang hidup. Kita menghormati gambar Allah dalam diri manusia yang berada pada semua orang tanpa memandang warna kulit atau golongannya. Kita menghormati ikon-ikon di Gereja, namun menunjukkan rasa tidak hormat kepada ikon-ikon Allah yang hidup – sesama manusia – adalah kemunafikan yang paling buruk. Sangat menarik untuk dicatat di sini bahwa di Gereja Abyssinian, Yesus dan Maria digambarkan sebagai orang kulit hitam. Semua orang – tanpa memandang warna – adalah gambar atau ikon Allah yang hidup.

Seorang guru sekolah minggu pernah berkata kepada satu kelasnya, “Kamu tahu bagaimana perasaanmu ketika kamu menggambar. Kamu ingin semua orang melihatnya dan mengaguminya karena kamu menggambarnya dengan bagus. Itulah yang Yesus rasakan tentang kamu. Kamu adalah gambar yang digambar-Nya. “Seorang anak lelaki kecil bertanya, “Apakah semua orang adalah gambar Yesus?” “Ya benar,” kata guru itu. “Bahkan Annie?” “Iya.” Tiba-tiba secarik kertas cokelat dibuang ke keranjang sampah guru. “Aku baru akan menaruh kertas itu ke dalam susu Annie,” katanya sedih, “hanya Yesus yang menggambarnya, jadi lebih baik aku tidak melakukannya.”Anak kecil itu menangkap kebenaran besar. Ikon Allah yang paling berharga adalah laki-laki dan perempuan. Seperti kita memperlakukan setiap ikon yang hidup demikianlah kita memperlakukan Allah.

Tujuan kita dalam hidup menurut teologi Ortodoks adalah THEOSIS. Sederhananya, ini berarti bahwa kita harus menjadi seperti Kristus. Ini dimulai dalam Pembaptisan ketika gambar yang dipulihkan diberikan kepada kita. Tujuan hidup kita adalah untuk melanjutkan dari gambar Allah yang dipulihkan ke rupa Allah. Keserupaan dengan Kristus tidak diberikan kepada kita; kita harus berjuang untuk itu selalu dengan rahmat Allah. Gambar yang dipulihkan adalah karunia yang kita terima dari Allah pada saat Pembaptisan. Tetapi keserupaan dengan Kristus adalah tugas kekudusan pribadi yang harus kita capai sebagai buah dari kehidupan spiritual kita sendiri melalui rahmat atau anugerah Allah. Seraphim dari Sarov berkata: “Tujuan hidup Kristen adalah untuk memperoleh Roh Kudus.” Memperoleh Roh Kudus berarti memperoleh persamaan dengan Allah. Tidak ada rupa Allah di dalam kita tanpa Roh Kudus.”Inilah yang ditunjukkan ikon itu kepada kita. Melalui ikon kita mewakili Dia, Yang melalui inkarnasi-Nya memulihkan citra Allah dalam diri manusia. Atau kita mewakili orang-orang kudus yang melalui kehidupan mereka yang konstan bersama Roh Kudus telah memperoleh kesamaan Allah yang sejati dan telah menjadi ikon yang hidup. Oleh karena itu, tujuan kita sebagai orang Kristen adalah untuk mengembangkan karunia yang kita terima dalam baptisan: untuk beralih dari gambar menjadi serupa dengan kasih karunia Allah dan dengan demikian menjadi ikon Kristus yang hidup di dunia saat ini. Amin!

Referensi:

Anthony M. Coniaris, Introducing The Orthodox Church: Its Faith and Life. Minnesota: Light and Life Publishing Minneapolis, 1982.

  • 2nd Sunday: The Sunday of St. Gregory Palamas (Hebrews 1:10—2:3; Mark 2:1–12)

Minggu Kedua Masa Prapaskah Besar: St Gregory Palamas

Ibrani 1:10 – 2: 3’; Ibrani 7:26 – 8: 2 (Saint); Markus 2: 1 – 12; Yohanes 10: 9 – 16 (Saint)

Menyusul pada hari Minggu yang lalu, ketika Gereja merayakan “kemenangan Ortodoksi”, pemulihan ikon di Dewan Ekumenis Ketujuh pada tahun 787, saya ingin pagi ini untuk menunjukkan bagaimana struktur Masa Prapaskah Agung itu sendiri adalah ikon yang mengungkapkan ajaran mendalam jiwa yang penuh perhatian yang dapat ditemukan dalam Inkarnasi Allah, Firman.

Anda akan ingat bahwa dalam dua minggu sebelum Masa Prapaskah Besar dimulai, lectionary membawa kita melalui pencobaan dan penyaliban Yesus dan, pada hari Kamis sebelum Masa Prapaskah yang dimulai, itu membawa kita dengan para wanita yang telah menemani Yesus dari Galilea untuk melihat makam itu. dan bagaimana Yesus dikuburkan. Kemudian para wanita kembali ke rumah, kami membaca, dan menyiapkan rempah-rempah dan minyak yang harum. Ini adalah kali terakhir kita membaca Injil pada hari minggu sampai Kamis Putih, enam minggu kemudian. Pada kebaktian Matins pada Jumat Suci, yang dilayani pada malam Kamis Suci, kita membaca “12 Gairah Injil” yang membawa kita kembali melalui pencobaan dan penyaliban Yesus, ketika lagi-lagi kita akan menemukan diri kita bersama para wanita yang melihat makamnya dan melihat bagaimana dia dimakamkan.

Dalam struktur Lenten lectionary ini, enam minggu Masa Prapaskah Besar dialami secara liturgi sebagai periode waktu di mana para wanita kembali ke rumah pada hari Jumat Suci, setelah melihat kuburan dan bagaimana Yesus dikuburkan, untuk menyiapkan rempah-rempah dan minyak yang harum, dan kemudian beristirahat pada hari berikutnya, hari Sabat. Dengan kata lain, enam minggu puasa Prapaskah ini, menurut lectionary, adalah periode Jumat Suci ketika melewati Sabtu Suci. Ini untuk mengatakan bahwa selama enam minggu Puasa Prapaskah ini, kita sekarang, secara liturgis, berada dalam satu hari Jumat Agung dan Suci. Jelas, karena “hari liturgi” ini berdurasi enam minggu, itu bukan hari Jumat dari kalender biasa. Itu adalah Jumat Agung dan Kudus, Hari Keenam Penciptaan menurut kalender alkitabiah dari Kejadian 1. Kalender alkitabiah diukur bukan oleh gerakan matahari dan bulan tetapi oleh Roh Allah yang “bergerak di atas permukaan air , ”Perairan ciptaan. Pada hari ini dari kalender alkitabiah, Tuhan melengkapi ciptaannya di dunia dengan menciptakan Manusia dalam gambar dan menurut rupa-Nya.

Lectionary of the Church, dengan demikian, adalah seperti sebuah gerbang yang membuka ke masa penciptaan Alkitab untuk mengungkapkan gerakan mistis Roh Kudus Allah sebagai landasan transenden di mana waktu biasa bergerak. Mengambil disiplin asketik dari doa dan puasa yang diberikan oleh Gereja kepada kita, kita memegang gerbang itu dengan cara spiritual dan, tersembunyi dari mata dunia, kita melewati jiwa kita dari waktu biasa ke waktu Alkitab, dan kami bergabunglah dengan kelompok wanita yang, setelah melihat makam Kristus dan bagaimana dia dimakamkan, kembali ke rumah untuk menyiapkan rempah-rempah dan minyak wangi pada hari liturgi Jumat Suci ini.

Saya percaya kita dapat melihat struktur ikonografi Masa Prapaskah Besar untuk melihat bagi diri kita sendiri bagaimana tubuh Kristus dikuburkan dan bagaimana disiplin asketik Masa Prapaskah Besar adalah cara di mana kita kembali ke rumah bersama para wanita selama enam minggu Masa Prapaskah yang hebat ini untuk menyiapkan rempah-rempah dan minyak harum bersama mereka. Pertama-tama ada fakta bahwa orang yang terbaring di dalam kubur dengan tubuh adalah Allah Firman yang dengannya segala sesuatu dibuat. Ini berarti bahwa ini bukan kematian biasa dari orang biasa; itu adalah kematian Allah, Firman, dan karenanya memiliki makna kosmis, spiritual. Makna itu diungkapkan oleh fakta bahwa Sabda Allah yang berinkarnasi mati pada hari Jumat, hari Jumat yang alkitabiah, hari Jumat Agung dan yang kudus di mana ia menyelesaikan pekerjaan penciptaannya dengan menciptakan Manusia dalam gambar dan menurut rupa-Nya. Ini memberitahu kita bahwa cara kematian Kristus, bagaimana penguburannya, adalah tabir suci yang menyelubungi misteri kosmik yang terjadi di kuburnya: dengan kematian dan penguburannya, ia entah bagaimana memperbarui semua ciptaan dan menciptakan kembali Manusia dalam gambar dan sesuai dengan rupa-Nya.

Ada elemen kedua dalam struktur ikonografis Masa Puasa Besar yang menunjuk pada bagaimana penguburan Kristus dan makna karya pertapaan Masa Puasa Besar. Selama minggu ini kita membaca setiap hari dari Perjanjian Lama. Tetapi, di Matins untuk Hari Minggu Masa Prapaskah Besar, yang telah kami layani di Vigils pada Sabtu malam, kami ditugasi untuk membaca Injil yang menceritakan kebangkitan Kristus yang kudus dan penampakan Kristus yang bangkit kepada para pengikutnya. Dapatkah Anda melihat bagaimana enam minggu masa disiplin Prapaskah Gereja diselingi pada hari Sabtu dan Minggu Masa Prapaskah Hebat (hari, yang secara liturgis, adalah hari kebangkitan) oleh cahaya kebangkitan suci Kristus? Struktur Lenten lectionary mengungkapkan cahaya yang bersinar dalam kegelapan kerja keras kita; itu adalah cahaya kebangkitan Kristus, cahaya rekreasi dan pembaruan.

  1. Saya telah menyarankan bahwa disiplin pertapaan Great Lent berhubungan dengan para wanita yang pulang untuk menyiapkan rempah-rempah dan minyak yang harum. Mari kita pertimbangkan ini lebih dekat.

    Para wanita pulang untuk menyiapkan rempah-rempah dan minyak wangi untuk tujuan mengurapi tubuh Yesus bersama mereka. Persiapan rempah-rempah dan minyak wangi, kemudian, dihubungkan dengan kematian; dan dengan demikian, disiplin asketis Masa Prapaskah Besar terhubung dengan kematian. Mempelajari Tulisan Suci dan ajaran-ajaran Gereja adalah disiplin asketis yang dengannya cinta kita akan hikmat duniawi dapat dimatikan dan pikiran kita dibentuk kembali dalam kasih untuk Kebijaksanaan Kristus. Doa dan sakramen pengakuan dosa adalah disiplin asketis yang dengannya hasrat penghancuran jiwa dapat dihukum mati dan jiwa kita diperbarui dalam kebajikan-kebajikan Kristus yang memberi kehidupan. Berpuasa dengan perut kita dan dengan semua indera kita adalah disiplin asketis di mana cinta kita terhadap daging dapat dihukum mati dan tubuh kita dibentuk kembali dalam Roh Surgawi yang kita terima sebagai makanan dan minuman kita sebagai bagian dari tubuh dan darah Kristus. dalam Ekaristi suci. Melalui disiplin asketis Gereja, kita bahkan dapat mati sampai sekarang – kita dapat melewati – kalender biasa dunia ke dalam kalender alkitabiah untuk hidup setiap hari dalam hidup kita dalam Roh Allah ketika dia menciptakan kita kembali dan mem-refash kita. dalam gambar dan menurut rupa-Nya.

    Pengajaran yang kita temukan dalam struktur ikonografi Masa Prapaskah Raya ini dapat dilihat juga dalam bagaimana hari Minggu Masa Prapaskah Besar merayakan ingatan tiga orang suci: Santo Gregorius Palamas (hari ini), Santo Yohanes Climacus (pada hari Minggu Keempat) dan Santo Maria Mesir (pada hari Minggu Kelima). Ini semua monastik. Poin penting yang perlu diperhatikan di sini adalah dorongan monastisisme menuju padang pasir. Oleh karena itu, untuk memahami apa yang struktur ikonografik dari Masa Puasa Agung ajarkan kepada kita dalam merayakan orang-orang kudus biarawan pada hari Minggu Masa Puasa Besar, kita harus memahami makna dorongan monastik menuju padang pasir.

    Tuhan menjadikan dunia tempat yang hijau dan indah, penuh dengan kehidupan. Dia menempatkan pria dan wanita pertama di Taman yang mewah. Gurun menunjukkan kekosongan dan kehancuran yang telah menimpa kehidupan duniawi dan yang berdiri di bawah lapisan berkilauan dari institusi, bisnis, dan hiburan budaya manusia karena manusia telah berpaling dari Tuhan. Gurun adalah tanah yang sunyi, dihantui binatang buas, tempat tinggal iblis. [1] Semua alam di sana memusuhi manusia, tunduk pada Setan, musuh Allah. [2] Dan itu adalah makna religius yang mendalam bahwa Allah memimpin Israel dengan aman melalui padang pasir ke Tanah Perjanjian. Itu menunjukkan kuasa Tuhan atas Yang Jahat. Juga sangat bermakna religius bahwa Yohanes Pembaptis muncul di padang pasir untuk mengumumkan kedatangan Kristus; dan bahwa Kristus, setelah dia dibaptiskan, dipimpin oleh Roh ke padang gurun. Di sana, dia bersama binatang buas dan dia dicobai oleh Setan; tetapi Setan tidak memiliki kuasa atasnya, binatang buas itu dijinakkan olehnya; dan ketika dia kembali dari padang pasir, menurut Injil Markus, mukjizat pertamanya adalah mengusir setan keluar dari manusia. [3] Karena itu Gereja melihat bhikkhu tersebut mundur ke padang pasir sebagai serangan atas Nama Kristus atas kekuatan si Jahat. Oasis selalu diciptakan oleh sebuah biara di tengah-tengah padang pasir bersaksi bahwa nubuat Yesaya telah digenapi dalam kedatangan Kristus: “Karena Tuhan akan menghibur Sion: ia akan menghibur semua tempat-tempat sampahnya; dan dia akan menjadikan padang belantara seperti Eden, dan padang pasirnya seperti taman Tuhan; sukacita dan kegembiraan akan ditemukan di dalamnya, ucapan syukur, dan suara melodi. ”[4]

    Perayaan orang-orang kudus biarawan agung ini pada hari Minggu Masa Prapaskah Besar adalah komentar lebih lanjut tentang apa yang saya pikir dapat kita katakan dengan aman adalah ajaran “hebat” yang dapat ditemukan dalam struktur ikonografi Masa Prapaskah Raya. Ini adalah proklamasi Paskah Suci. Terang Kristus bersinar dalam kegelapan. Dia telah menginjak-injak kematian dengan kematiannya dan atas orang-orang di kuburan yang telah dia berikan kehidupan. Dia telah memperbaharui ciptaan dan menciptakan kembali manusia dalam gambar dan sesuai dengan kemiripannya. Melalui disiplin asketik dari Masa Prapaskah Agung, umat beriman dapat pergi ke padang pasir, gurun jiwa mereka dibuat sunyi karena dosa, dan dalam Nama Kristus kita dapat melancarkan serangan terhadap si Jahat. Setelah pembaptisannya, Kristus dipimpin oleh Roh ke padang gurun. Setelah baptisan kita, Kristus mengikuti Roh Kudus-Nya ke padang pasir jiwa kita. Melalui disiplin asketis Gereja, kuasa yang melekat dalam baptisan kita, kuasa Roh Kudus Kristus, mulai muncul. Melalui disiplin asketis Gereja, kita dapat mempersatukan diri kita dengan Kristus dalam kematian seperti dia, dan menyaksikan ketika dia mengusir setan-setan dan menjinakkan binatang buas yang telah mengambil tempat tinggal mereka di padang pasir jiwa kita. Bersatu dengan kematian Kristus dalam baptisan kita, kita dipersatukan juga dalam disiplin asketis Gereja dengan kebangkitan-Nya yang kudus yang dengannya dia menjadikan orang yang berhak
  2. Inilah sebabnya mengapa Gereja mendesak kita untuk mengambil Puasa dan bertekun di dalamnya, dan melakukannya dengan sukacita. Karena melalui Puasa, kita mati dalam kematian seperti Kristus dan dibangkitkan dalam kebangkitan seperti miliknya. Gurun sedang dibuat untuk bersukacita dan berkembang seperti mawar. Maka: “Ketika kita mulai pada minggu ketiga Puasa, marilah kita memuliakan Tritunggal Mahakudus, dan dengan gembira melewati waktu yang masih tersisa. Menyebabkan gairah daging menjadi layu dari jiwa kita, mari kita kumpulkan bunga ilahi, menenun karangan bunga untuk ratu hari [Paskah], bahwa dengan mahkota di atas kepala kita, kita dapat bernyanyi dalam memuji Kristus sang Pemenang. ”[6]


    [1] Mat 12:43

    [2] Lih. John Meyendorff, St. Gregorius Palamas, dan Spiritualitas Ortodoks, hlm. 11.

    [3] Markus 1: 23ff.

    [4] Yes 51: 3

    [5] Yes 35: 1

    [6] LT 332
  • 3rd Sunday: The Sunday of the Cross (Hebrews 4:14—5:6; Mark 8:34—9:1)

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (Markus 8:34)

Mengikut Yesus berarti menyangkal diri dan memikul salib. Apa artinya kita menyangkal diri dan memikul salib? Mari kita perhatikan tulisan singkat di bawah ini.

Kata menyangkal Aparneomai (Imperative, Aorist, Middle) disini berarti berkata TIDAK pada dirinya sendiri. Dia harus berkata TIDAK. Mengapa kata ini yang dipakai? Ada apa dengan diri kita? Diri kita dulu adalah hamba dosa namun sekarang adalah hamba Allah yang berjuang hidup dalam  kekudusan (Rom 6: 15-23) melalui latihan badani dan menguasainya sehingga kita bisa menjadi pemenang (1 Kor 9:24-27). Berkata TIDAK pada diri kita artinya berlatih hidup dalam kekudusan seperti seorang hamba Allah yang hanya taat kepada Allah. Kita telah turut terhisap dalam penyaliban, kematian, dan kebangkitan Kristus ketika kita beriman kepada Kristus sehingga kita dilahirkan baru oleh Roh Kudus melalui tanda baptisan air (Rom 6: 3-5; Yoh 3:5). Sehingga manusia lama kita telah turut disalibkan supaya kita tidak menghambakan diri pada dosa (Rom 6:6). Berkata TIDAK pada diri kita berarti sedang menumbuhkan manusia baru kita kepada keserupaan Kristus (Kol 3:10) sebab manusia lama kita memang telah mati. Manusia lama kita telah mati dan kita telah terbebas dari dosa dan kuasa maut karena kita ikut terhisap dalam kematian Kristus (Rom 6:6-9). Sekarang kehidupan Kristus adalah kehidupan bagi Allah demikian juga kita yang telah beriman kepada Kristus wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup yakni hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus (Rom 6:10-11; 1 Yoh 2:6). Ini adalah hidup baru namun harus terus menerus diperbarui atau didewasakan (Kol 3:10) melalui cara hidup seperti Kristus yakni menjadi pengikut Kristus. Sebab itu Rasul Paulus berkata selanjutnya tentang manusia baru ini yakni sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi dalam tubuh kita yang fana supaya kita tidak menuruti dosa itu yang melahirkan nafsu-nafsu jahat (Rom 6:12). Sehingga berkata TIDAK berarti kita sedang  mendewasakan hidup baru kita yang memang harus terus menerus diperbarui. Berkata TIDAK pada diri kita berarti kita tidak menyerahkan anggota-anggota tubuh kita untuk dipakai menjadi dosa melainkan menyerahkan anggota-anggota tubuh ini kepada Allah untuk dipakai menjadi kebenaran (Rom 6:13). Inilah yang Rasul Paulus sebut Askesis atau melatih tubuh dan menguasainya (1 Kor 9:27) yakni menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Gal 5:24). Atau oleh Yesus disebut sebagai penyangkalan diri (Mar 8:34). Jadi, berkata TIDAK adalah wujud penyangkalan diri terhadap dosa supaya kemanusiaan baru kita semakin dewasa menyerupai Kristus. 

Selain penyangkalan diri, Yesus juga menyatakan bahwa kita harus memikul salib. Yesus memikul salib supaya Ia bisa menyelesaikan misi Allah kepada-Nya yakni menyelamatkan manusia. Yesus memikul salib supaya kita hidup bagi Allah dalam kebenaran dan membawa kita kembali kepada Allah (1 Pet 2:24-25; 3:8). Namun mengapa kita juga diperintahkan Yesus memikul salib? Ini merupakan sinergi kita dengan Kristus supaya kita bertanggung jawab atas keselamatan yang kita terima di hadapan Allah (Fil 2:12) seperti Yesus yang telah mempertanggunjawabkan segala sesuatu di hadapan Allah dengan taat sampai mati di kayu salib dan akhirnya dimuliakan dan ditinggikan oleh Allah (Fil 2:8-11). Kita memikul salib seperti Yesus memikul salib namun bukan kutuk dosa lagi karena sudah dipatahkan Kristus tapi sebagai usaha kita mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar yang pada akhirnya kita bisa tahan berdiri di hadapan Allah untuk memberi pertanggungjawaban kepada-Nya (1 Pet 4:5; Ibr 4:13; Luk 21:36). Memikul salib adalah perjalanan kita menuju kemuliaan Allah karena kita akan masuk dan mengambil warisan yang tidak dapat binasa, tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga yakni mengambil bagian dalam kodrat ilahi yakni kemuliaan Allah, mahkota yang kekal (1 Pet 1:4; 2 Pet 1:4; 1 Kor ,9:25). Memikul salib merupakan jerih payah bersama Kristus dalam membawa keselamatan itu sampai kita berdiri di hadapan Allah. Seperti kata Rasul Paulus kita adalah rekan sekerja Allah (1 Kor 3:9) dan ini berarti dia bekerja paling keras di antara yang lain namun bukan dia tapi anugerah Allah yang bekerja di dalam dia sebab baik kemauan maupun pekerjaan berasal dari Allah yang ditanamkan di dalam dirinya sehingga anugerah itu tidak sia-sia melainkan jerih lelahnya dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah (1 Kor 15:10-11; 15:58; Fil 2:13). Sebab itu ditengah memikul salib, kita diingatkan perkataan Rasul Paulus, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor 15:58). Memikul salib adalah kerja sama antara kita dengan Kristus sebab Kristus telah merasakan berat salib itu sehingga di dalam Kristus ada penghiburan, kasih mesra, nasihat, persekutuan Roh, dan belas kasihan (Fil 2:1). Matius 11:28-30 menyatakan bahwa kita berbagi kuk beban yang dipikul Yesus sehingga beban Yesus dan kita menjadi ringan. St. Macarius menulis: “We receive salvation by grace and as a divine gift of the Spirit. But to attain the full measure of virtue we need also to possess faith and love, and to struggle to exercise our free will with integrity. In this manner we inherit eternal life as a consequence of both grace and justice. We do not reach the final stage of spiritual maturity through divine power and grace alone, without ourselves making any effort; but neither on the other hand do we attain the final measure of freedom and purity as a result of our own diligence and strength alone, apart from any divine assistance. If the Lord does not build the house, it is said, and protect the city, in vain does the watchman keep awake, and in vain do the laborer and builder work (Ps. 127:14).” Terakhir saya mengutus Anthony Coniaris, “Synergy does not mean that God does one-half of the saving work and I do the other half. For God always takes the crucial initiative. We love because He first loved us. All we do is respond to His initiative. He alone provides the saving grace. God does all of the saving work; we merely respond. He stands knocking and calling at the door of our soul. Yet, He will not break down the door. We have to open it freely. That effort on our part of opening the door and then taking up our cross to follow Jesus is our part in God’s plan of salvation. If we were to use percentages here, we would say that God does 99.9% of the work of salvation. Our response to God in accepting the Gift would amount to one-tenth of one percent. Yet that one-tenth of one percent is crucial. It represents- our free response, our acceptance of His great gift. God does not say to us, “Rest in Me and I will do it,” rather He says to us, “Rest in Me, and I will help you, so that we will do it together.” He respects our free will. Yet, we are still helpless without His grace. God gives us the ingredients for our daily bread, but He expects us to do the baking.” Amin!

  • 4th Sunday: The Sunday of St. John Climacus (Hebrews 6:13–20; Mark 9:17–31)

Seorang ayah yang putus asa berusaha menemukan obat untuk putranya yang menderita dengan segala cara. Dia mungkin pernah mendengar desas-desus tentang Yesus dan murid-muridnya, bahwa mereka dapat menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh-roh jahat. Namun, meskipun ia telah meminta bantuan dari murid-murid Kristus, para murid tidak dapat membebaskan putranya dari roh najis yang bisu / bisu.

Kristus, bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes baru saja kembali dari pengalaman puncak gunung mereka keesokan paginya. Ketika mereka datang kepada para murid, mereka melihat kerumunan besar berkumpul di sekitar mereka, yang sebagian besar terdiri dari musuh Kristus para ahli Taurat, yang sedang berdebat dengan mereka. Para murid bersikap defensif. Para murid telah ditantang untuk menyembuhkan seorang anak lelaki miskin yang menderita, dan musuh-musuh mereka memanfaatkan kegagalan ini sebagai kesempatan untuk menyangkal kuasa dan misi Kristus. Apa yang dipertaruhkan (serta pemulihan anak itu) adalah otoritas dan status Yesus.

Dalam membawa anak itu kepada murid-murid-Nya, sang ayah sebenarnya membawanya ke Yesus Sendiri (catatan, ayat.17 ‘Aku membawa dia kepadamu’). Karena itu, kegagalan para murid tampaknya mencerminkan keaslian sang Guru.

Mengapa anak itu tidak dibebaskan dari roh najis?

Tuhan tidak gelisah dengan kejadian ini. Dia tahu masalahnya bukan karena Dia tidak memiliki kekuatan yang cukup, tetapi bahwa mereka adalah ‘generasi yang tidak beriman’ ay. 19. Yesus berkata bahwa itu adalah masalah iman; Dia berkata bahwa mereka tidak memiliki iman, dan merujuk secara retoris pada Kitab Suci yang menunjukkan ketidakberdayaan anak-anak Israel (Yer. 2: 5). Setelah begitu banyak mukjizat, para murid-Nya tidak belajar untuk percaya atau memiliki iman kepada kuasa-Nya. Sementara para murid-Nya mungkin gagal, Dia tidak akan melakukannya.

Untuk menjawab keputusasaan sang ayah, Yesus hanya berkata, “Bawa dia ke Aku!” Nada ini menggarisbawahi bahwa Dia pasti akan menyelesaikan masalah.

Para murid bertanya kepada Yesus, ‘Mengapa kita tidak bisa mengusirnya?’ (Ayat 28). Kemudian Yesus memberi mereka jawaban ini, “Jenis ini tidak dapat diusir dengan apa pun kecuali doa.” (Ayat 29). Pernyataan ini berarti bahwa para murid telah berusaha mengusir roh jahat itu tanpa bergantung pada doa, pada kuasa Allah. Ketika anak yang menderita itu dibawa masuk, ketika sang ayah telah meminta bantuan, orang bertanya-tanya, bukankah para murid bahkan berdoa? Apakah mereka memiliki keberanian untuk mencoba membantu anak dengan kekuatan mereka sendiri? Mungkinkah hal semacam itu mungkin terjadi meskipun mereka adalah murid / murid Yesus? Bukankah mereka seharusnya membawa masalah anak itu, melalui doa, kepada Kristus?

Berapa kali kita berdoa sebagai orang Kristen, bagi mereka yang datang kepada kita untuk berbagi beban mereka, atau bagi mereka yang kita lihat menderita karena sesuatu dalam hidup mereka? Tidak cukup sering. Sebagian besar waktu, kita hanya mendengarkan mereka atau menghibur mereka dalam rasa sakit mereka, tetapi seberapa sering kita berdoa untuk mereka dan membawa nama mereka kepada Kristus? Saya pikir dalam contoh ini para murid melakukan hal yang sama. Mereka mengakui dan mendengarkan keprihatinan ayah terhadap putranya yang menderita, tetapi mereka lupa berdoa untuknya. Kita tidak boleh gegabah sebagai orang Kristen, karena doa menentukan siapa kita. Doa adalah karunia Roh Kudus, organ jiwa, kita tidak boleh meremehkannya.

Ketika kita kembali dan membaca kembali buku Injil ini, kita dapat melihat contoh-contoh situasi, di mana para murid tidak memiliki iman dan mencoba untuk menyelesaikan masalah sosial sesuai dengan kebijaksanaan manusia mereka yang lemah. Dalam Markus ada dua kisah mukjizat yang memberi jalan panjang untuk menggambarkan kekurangan para murid (lih. Mrk 9: 32). Episode pertama terjadi ketika dalam ketidakpercayaan para murid menyaksikan Yesus memberi makan 5000 dengan 5 roti dan 2 ikan (Mrk 6: 30-44), kemudian segera setelah peristiwa ini Yesus mendekati para murid sambil berjalan di atas air (6:49). Episode kedua adalah ketika Yesus memberi makan orang banyak dengan 7 roti dan beberapa ikan (8: 1-10). Dalam ketiga peristiwa itu, para murid sama sekali tidak dapat melewati diri mereka sendiri dan melihat Tuhan sedang bekerja. Mereka tidak dapat mengatasi kurangnya iman dan keraguan serta kepercayaan bahwa dengan Tuhan segala sesuatu mungkin terjadi.

Memang benar bahwa mereka menunjukkan kurangnya iman, ketakutan, keraguan, dan pemahaman. Tetapi mereka juga adalah pengikut Allah yang setia, berdedikasi, dan gigih. Mereka tetap di sana bersama-Nya di sisi-Nya dan tidak menyerah. Akibatnya, para murid juga menjadi model iman karena mereka benar-benar manusia. Mereka terombang-ambing antara iman dan keraguan sama seperti kita. Jika para murid yang menghabiskan setiap saat setiap hari dengan Yesus dan masih memiliki keraguan, maka mungkin kita harus memberi diri kita lebih banyak rahmat ketika kita berjuang dengan keraguan dan ketakutan. Jika para murid memiliki saat-saat yang baik dan buruk, iman yang naik turun, maka mungkin inilah yang terjadi. Mungkin Markus sedang mencoba melukiskan gambaran realistis tentang seperti apa Kristus berikut: saat-saat kepercayaan, rahmat, dan pencerahan serta periode-periode kebingungan, keraguan, dan ketakutan.

Jika tidak ada seorang pun dalam kisah-kisah Injil yang mendapatkan Siapa Yesus atau tentang misinya, terserah kepada kita, pembaca, untuk menyadari Siapa Yesus itu.

Sayangnya, tidak ada seorang pun di sana yang mencari dalam doa yang sungguh-sungguh untuk belas kasihan Tuhan atas nama ayah dan anak itu. Bukan hanya para murid yang berdebat untuk mempertahankan posisi mereka sendiri. Para ahli Taurat juga sama, dalam memprovokasi perdebatan, mengambil fakta bahwa anak itu tidak sembuh sebagai alasan untuk serangan. Kerumunan juga sama di sekeliling mereka di luar dan menatap perdebatan antara para murid dan ahli Taurat. Tidak ada yang peduli dengan penderitaan ayah dan putranya. Tidak ada seorang pun di sana yang mencari belas kasihan Tuhan dalam doa atas nama mereka, untuk percaya bahwa Tuhan akan menunjukkan belas kasihan kepada mereka.

ini adalah gambar dan situasi yang disajikan kepada Yesus. Karena itu, Tuhan menghela nafas dan berkata, ‘O generasi yang tidak setia …’ (V. 20). Jika “iman” di satu sisi adalah keyakinan dan keyakinan yang tak tergoyahkan, para murid memiliki itu sampai pada intinya. Mereka berpikir mereka bisa membebaskan anak itu. Mereka tidak ragu. Atau, di sisi lain, jika “iman” memiliki arti yang sama dengan kesalehan dan pengabdian, maka ahli Taurat dapat mengklaim bahwa mereka jauh di dalam iman karena mereka takut akan Allah dan saleh. Tetapi, Yesus memperhatikan kondisi mereka dan menghela nafas. “Iman” yang dicari-cari Yesus di dalam mereka bukanlah hal seperti itu.

Iman macam apa yang Tuhan harapkan dari kita, terutama ketika kita menghadapi tantangan dan kesulitan?

Orang-orang membawa putra itu kepada Yesus. Setelah itu, ia mengalami kejang, jatuh ke tanah, berputar-putar, berputar-putar, dan memuntahkan buih. Ketika Tuhan bertanya tentang anak itu, ‘Sang ayah berkata,‘ [Roh] sering melemparkannya ke dalam api dan ke dalam air, untuk menghancurkannya; tetapi jika Anda dapat melakukan apa saja, kasihanilah kami dan bantu kami ‘(ayat 22). Yesus berkata kepada ayah apakah kamu berkata, ‘Jika mungkin [untukku]?’ (Ayat 23); “Segala sesuatu mungkin bagi dia yang percaya” (ayat.23). Sang ayah segera berteriak, ‘Saya percaya; tolonglah ketidakpercayaan saya ‘(ayat.24). Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan apakah Yesus dapat menyembuhkan; itu lebih tepatnya apakah sang ayah bisa memiliki iman – ‘karena segala sesuatu mungkin bagi dia yang percaya’ (ayat.23). Iman yang bersahaja / lemah lembut kepada Yesus adalah jawaban dan kunci bagi kesembuhan anak itu. ‘Saya percaya; tolonglah ketidakpercayaanku ‘(ayat.24) juga menunjukkan bahwa di samping dosa-dosa yang kita ketahui, ada juga kategori dosa yang tidak diketahui orang, yang disebut dosa kurang: kebaikan yang dapat Anda lakukan tetapi Anda tidak melakukannya .

Ayah anak itu putus asa. Dia tahu dan menyesali kelemahan imannya, tetapi masih menjangkau Yesus sebagai satu-satunya harapannya. Keragu-raguan sang ayah bukanlah penolakan terhadap kekuatan Yesus, tetapi pencarian yang panik akan kepastian yang menghindarinya. Yesus keluar dari mulut ayah bocah itu, yang dilanda ketidakberdayaan, seruan bersahaja ini dari dalam jiwanya.

Ini adalah seruan yang sama dari dalam jiwa yang diberikan Santo Yohanes Climacus sebagai bapa rohani, bagi dunia. Untuk alasan ini kami memperingati dia pada hari Minggu Prapaskah keempat dan mengucapkan apolytikionnya yang menyatakan dia sebagai model doa, yang darinya orang Kristen dapat belajar dari:

Kejayaan. Untuk Orang Suci.

Mode pl. 4.

Ταῖς τῶν δακρύων σου ροαῖς, τῆς

ἐρήμου τὸ ἄγονον ἐγεώργησας, καὶ

τοῖς ἐκ βάθους στεναγμοῖς, εἰς ἑκα‐

τὸν τοὺς πόνους ἐκαρποφόρησας ∙

καὶ γέγονας φωστήρ, τῇ οἰκουμένῃ

λάμπων τοῖς θαύμασιν, Ἰωάννη

πατὴρ ἡμῶν ὅσιε ∙ πρέσβευε Χριστῷ

τῷ Θεῷ, σωθῆναι τὰς ψυχὰς ἡμῶν.

Terjemahan: Dengan sungai air mata Anda, Anda membuat gurun tandus berkembang; dan dengan desahan Anda dari dalam, Anda membuat pekerjaan Anda menghasilkan buah mereka seratus kali lipat; dan Anda menjadi bintang, menerangi dunia dengan mukjizat Anda, O John, ayah kami yang saleh. Berdoa syafaat dengan Kristus, Allah kita, untuk keselamatan jiwa kita.

Mengingat kesaksian rendah hati St John Climacus sebagai orang yang benar-benar saleh, kita dapat mulai mendekati makna permohonan putus asa ayah kepada Kristus. Apa yang ayah katakan adalah seruan kontradiktif yang rendah hati dan kontradiktif tentang ‘saya percaya; tolong ketidakpercayaan saya v ay.24. Yang bisa dilakukan ayah hanyalah mengatakan itu dan menjerit permintaannya seperti seorang biarawan yang menyendiri, dan Tuhan akan menerima iman apa yang dia miliki dan mengampuni kelemahannya. Tidak ada yang bisa dilakukan ayahnya sendiri; putranya menderita, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan untuknya selain menangis kepada Tuhan.

‘Aku percaya; tolong ketidakpercayaan saya v ay.24; Setelah mengatakan itu, dia melemparkan dirinya di hadapan Yesus Kristus. Dia melemparkan dirinya sedemikian tidak berdaya, bahkan tidak dapat percaya, di hadapan Kristus. Kemudian Yesus hanya dengan Firman-Nya memerintahkan roh jahat untuk keluar, ‘dan jangan pernah masuk lagi v ay 25). Bocah yang dirasuki itu hanya kejang-kejang, sementara roh perampas sedang dihukum oleh hakim yang luar biasa. Tawanan itu ditahan, tetapi penculiknya dihukum. Melalui merenggutnya tubuh manusia, hukuman iblis dibuat nyata v.26. Murid-murid mungkin telah gagal, tetapi ini adalah Guru Sendiri yang berbicara kepada roh jahat sekarang.

Perbedaan antara ayah yang hancur, para murid Yesus, dan para ahli Taurat sekarang menjadi jelas? Ketika Yesus mendengar roh ayah yang miskin, tangisan yang saling bertentangan dan “iman” yang kontradiktif dengan diri sendiri mengatakan, ‘Saya percaya; tolong ketidakpercayaanku v ay.24, dia membebaskan anak itu dari roh najis. Di dunia di mana Yesus berkata, ‘Segala sesuatu mungkin bagi dia yang percaya’ (ayat.23), maka ini adalah sikap yang dibuka, didukung, dan diajarkan oleh Yesus. Inilah iman yang dicari-cari Yesus, untuk berdoa dengan roh yang lemah, dengan berani dan dengan iman yang menunggu.

Penatua Joseph the Hesychast mengatakan: ‘Tanyai diri Anda sendiri apakah iman ini ada di dalam diri Anda, atau mungkin Anda dipimpin oleh kebijaksanaan duniawi. Dan jika Anda meninggalkan semua hal di tangan Tuhan, lihatlah! Anda telah memperoleh iman dan tidak diragukan lagi, tanpa pertanyaan, Anda akan menemukan Tuhan menjadi penolong Anda ‘(hlm. 116. Kapal Berharga). Doa dan iman berjalan bersama, ketika iman gagal, doa binasa; untuk siapa berdoa untuk hal yang tidak dia percayai?

Jadi agar kita dapat berdoa, marilah kita percaya, dan marilah kita berdoa agar iman yang sama yang kita gunakan untuk berdoa tidak goyah. Tuhan memberi kita Roh Kudus-Nya agar kita dapat memiliki keyakinan dan keberanian yang kita butuhkan untuk meminta pertolongan dan kasih karunia Bapa surgawi kita. Apakah Anda percaya pada kasih dan perhatian Allah bagi Anda, dan berdoa dengan iman yang penuh harap bahwa Dia akan memberikan apa yang Anda butuhkan?

Masalah kita bukanlah kita memiliki pikiran di mana kita tidak begitu yakin tentang iman kita di dalam hati kita. Berdiri sebagai orang percaya, dengan hampir tidak ada kepercayaan pada diri kita sendiri, kita tidak perlu khawatir sedikitpun. Apa yang Yesus inginkan adalah, bukan kita membusungkan dada kita dan berkata ‘Aku percaya dengan sempurna’. Sebaliknya, masalah kita adalah bahwa kita harus menjadi orang yang mengakui ketidakberdayaan kita sendiri, mengakui kelemahan kita, mengakui bahwa kita lelah, dan memandang kepada Allah dengan mantap dari sana. Kita harus menjadi orang yang mengakui bahwa kita harus memiliki Yesus untuk menyelamatkan kita. Kita harus menjadi orang-orang yang mengakui dengan jujur ​​bahwa kita bahkan tidak dapat mempercayai Tuhan yang menyelamatkan kita. Kita harus menjadi orang yang dengan sungguh-sungguh mencari dan berpegang teguh pada belas kasihan Tuhan, tidak hanya dengan mulut kita tetapi dengan hati kita, dengan keberanian. Kemudian Tuhan akan memberi kita iman – seperti ayah yang berseru, ‘Saya percaya; tolong ketidakpercayaan saya v ay.24 – dan dengan pendekatan sederhana ini, Dia akan mengungkapkan tindakan-Nya yang terbaik bagi kita.

Tuhan menjanjikan kita kebebasan dari penindasan, terutama penindasan disorientasi dan kejahatan yang merampok kita dari iman, sukacita, dan kedamaian dengan Tuhan. Tuhan mengundang kita, seperti yang dia lakukan kepada ayah bocah ini, untuk berdoa dengan iman yang penuh harap. Tanpa kepercayaan / iman, sulit untuk mengumpulkan keberanian untuk melompat dari misteri Tuhan yang diketahui ke Tuhan yang tidak diketahui yang diungkapkan kepada mereka yang beriman, berapapun biayanya. Tampaknya penting untuk mengembangkan beberapa teknik mencari ke dalam — beberapa cara menghubungkan dengan aspek diri yang berada di luar cakrawala akal. Kunci untuk ini adalah kemampuan untuk menjadi fokus dan reseptif.

Apakah Anda percaya pada kasih dan belas kasihan Allah yang tak berkesudahan?

Melalui karya-karya dan tanda-tanda-Nya yang perkasa, Yesus menunjukkan bahwa kerajaan Allah hadir di dalam Dia. Tanda-tanda ini membuktikan bahwa Bapa telah mengutus-Nya sebagai Mesias yang dijanjikan. Mereka mengundang kepercayaan pada Yesus sebagai Anak Allah dan Juru Selamat dunia. Kedatangan kerajaan Allah berarti kekalahan kerajaan Setan. Eksorsisme Yesus mengantisipasi kemenangan besarnya atas “penguasa dunia ini” (Yohanes 12:31). Sementara Setan dapat bertindak di dunia karena kebencian kepada Allah dan kerajaannya dalam Kristus Yesus, dan dapat menyebabkan luka-luka serius yang bersifat spiritual, dan secara tidak langsung bahkan bersifat fisik, kekuatannya tetap terbatas dan diizinkan oleh pemeliharaan ilahi (Rm. 8) : 28). Yesus menawarkan kebebasan dari belenggu dosa dan Setan (apa pun yang membawa kita dari jalan menuju Dia). Tidak ada penderitaan yang tidak dapat Dia lepaskan dari kita.

Apakah Anda memanfaatkan sepenuhnya perlindungan dan membantu Dia menawarkan kepada mereka yang mencari Dia dengan iman dan percaya pada rahmatnya?

Kita hidup di dunia di mana relativisme dan saintisme mendominasi dan dengan mudah melemahkan komitmen kita pada Kebenaran Penuh Injil. Kita membutuhkan persahabatan rohani dan pengasuhan untuk memerangi kekuatan yang mengelilingi kita. Untuk alasan ini kita harus Datang ke Gereja dan mengeksplorasi sifat penyembuhan Iman Kristen Ortodoks kita yang menuntun kita untuk bersatu dengan Allah.

  • 5th Sunday: Sunday of St. Mary of Egypt (Hebrews 9:11–14; Mark 10:32–45)

Sekitar 500 tahun setelah Kebangkitan Tuhan kita, Yesus Kristus, seorang rahib suci bernama Zosimas tinggal di sebuah biara di tepi Sungai Yordan. Dia telah hidup sebagai seorang rahib sejak masa kecil dan ketika dia berusia sekitar 50 tahun, dia mulai berpikir bahwa dia telah melampaui semua rahib lain dalam kebajikan dan bahwa tidak ada yang bisa mengajarinya apa pun yang dia belum tahu. Untuk mencegah agar pikiran yang sombong itu tidak berakar, Tuhan memberinya pelajaran.

Sudah menjadi kebiasaan di biara bahwa pada awal setiap Masa Puasa Agung, setelah Liturgi pada Pengampunan Minggu, para rahib akan menyeberangi Sungai Yordan dan menyebar ke seluruh padang pasir tempat mereka akan tinggal sampai Minggu Palem. Setiap rahib akan menghabiskan waktu sendirian di hadapan Tuhan, dalam puasa dan doa, tanpa ada orang di sekitarnya yang memuji dia atas perjuangannya.

Rahib Zosimas pergi jauh ke padang pasir. Pada hari ke 20, ketika dia berhenti untuk berdoa, dia melihat sesuatu seperti wujud manusia. Awalnya dia mengira iblis sedang mempermainkan matanya. Tetapi ketika dia melindungi dirinya sendiri dengan tanda Salib, dia melihatnya dengan jelas: kurus dan telanjang, kulitnya dipanggang gelap dan rambutnya memutih oleh matahari, sepertinya meluncur di atas bukit berpasir. Saking senangnya melihat orang suci, Zosimas bergegas untuk mengikuti dan berteriak: “Hamba Allah yang Benar, jangan lari dariku, aku orang berdosa yang sudah tua!”

“Maafkan aku,” sebuah suara kembali, “tetapi aku tidak bisa menghadapimu, bapak Zosimas, karena aku adalah wanita telanjang yang memalukan. Tolong lemparkan jubahmu supaya aku bisa menutupi diriku dan meminta restu.”

Sekitika takut rahib Zosimas ketika dia memanggilnya; bagaimana dia bisa tahu namanya? Berbalik, dia melemparkan jubahnya yang compang-camping ke arahnya.

Dalam kerendahan hati yang mendalam, kedua orang suci itu bersujud di hadapan satu sama lain di padang pasir, saling meminta berkat. Akhirnya wanita itu berkata, “Bapak Zosimas, Anda harus memberikan berkat, yang telah bertahun-tahun berada di Altar Suci sebagai seorang imam.”

Tercengang dengan kekaguman oleh karunia pengetahuan ilahi-nya, rahib Zosimas memohon dengan air mata, “Tolong beri saya berkat Anda, Ibu. Kasih karunia tidak hanya diberikan kepada para imam, tetapi bahkan lebih bagi mereka yang telah mati bagi dunia dan hidup bersama Allah. Demi Tuhan, berkati aku, karena aku membutuhkan doa suci Anda.” Lalu wanita suci itu menyatakan,” Diberkatilah Allah yang peduli untuk keselamatan jiwa kita.”

“Amin,” jawab rahib Zosimas.

Kemudian wanita itu ingin tahu mengapa dia datang dan bagaimana orang Kristen hidup di dunia. Rahib Zosimas mengatakan bahwa dengan doa-doa kudusnya, Kristus telah memberi mereka kedamaian, dan memintanya untuk terus berdoa. Mengingatkannya bahwa dia juga harus selalu berdoa, dia berbalik ke arah Timur. Rahib Zosimas hanya mendengar bisikan dan melihat ke tanah dalam kebingungan. Ketika dia mulai berpikir doanya sangat panjang, dia mendongak untuk melihat dia berdiri dengan melayang di udara sekitar tiga kaki di atas tanah. Sambil berlutut dengan air mata dan memohon belas kasihan Tuhan, rahib Zosimas memohon padanya untuk menceritakan kepadanya tentang kehidupannya sehingga kebijaksanaan dan kekayaan Allah tidak disembunyikan.

“Ceritaku,” kata wanita itu, “akan membuatmu lari seperti ular. Anda harus memaafkan saya untuk apa yang akan Anda dengar karena saya menjalani kehidupan yang memalukan dan tidak merasa malu. Pada usia 12 tahun saya melarikan diri dari orang tua saya, membuang keperawanan saya dan kemudian memberikannya dengan setiap orang berdosa yang dapat saya temukan. Saya suka minum anggur dan merasakan kesenangan dan membuat orang lain hidup dalam dosa; dan selama 17 tahun saya tidak pernah bosan dengan segala jenis dosa yang saya lakukan.

“Suatu hari saya melihat orang banyak pergi ke Yerusalem. Karena saya tidak punya uang, saya berjanji kepada beberapa pria bahwa saya akan membantu mereka melewati perjalanan jika mereka akan membawa saya bersama mereka. Dengan lelucon mereka sepakat. Saya kagum, Bapak, bahwa bencana tidak menimpa kami di kapal dan menelan kita hidup-hidup. Tetapi Tuhan menginginkan pertobatan bahkan dari orang berdosa yang terburuk.

“Dalam beberapa hari setelah kedatangan kami, saya melihat kerumunan besar bergegas ke gereja, saya diberitahu bahwa itu adalah Hari Raya Pengagungan Salib. Karena penasaran saya bergabung dengan mereka. Tapi ketika kakiku menyentuh ambang pintu, tubuhku ditahan oleh penghalang tak terlihat. Saya tidak bisa masuk, meskipun saya berusaha keras beberapa kali. Menjadi lelah, saya membiarkan orang mendorong saya ke samping dan berdiri di sudut teras. Di atas saya, saya melihat ikon Bunda Allah yang Suci, dan saya mulai mengerti bahwa hidup saya yang penuh dosa membuat saya tidak bisa masuk.

Aku menoleh ke ikon itu, menangis dan memohon Perawan Suci untuk membantuku masuk ke dalam untuk melihat Salib yang memberi hidup, berjanji untuk menyerahkan segalanya dan pergi ke mana dia akan menuntunku setelah itu.

Bergabung dengan kerumunan lagi, saya dengan mudah memasuki Gereja dan melihat Salib yang berharga dan Misteri Ilahi; di sana saya melihat bagaimana Tuhan menerima pertobatan. Dipenuhi dengan harapan, saya kembali ke ikon tempat saya mendengar suara dari atas, “Jika Anda menyeberangi sungai Yordan, Anda akan menemukan kedamaian yang mulia.”

“Oh, Ibu, jangan pernah tinggalkan aku!” Aku menangis, dan sedang dalam perjalanan seseorang memberi saya koin dan saya membeli tiga potong roti. Dengan rahmat Tuhan saya diberi makan selama 47 tahun. Saya telah diberi makan oleh Firman Tuhan dan tanaman yang saya temukan.

“Tapi, Bapak, betapa ingatan berdosa menyerang pikiran dan jiwaku seperti binatang buas! Lagu-lagu kotor, keinginan mabuk anggur dan makanan yang kaya, dan teman yang buruk; pakaianku habis dan aku sangat menderita karena panas dan dingin. Saya sangat tergoda untuk kembali ke kehidupan lama saya.”

Tetapi dalam pikiran saya, saya selalu berpaling kepada Bunda Allah, dan dia selalu membuat saya tenang, mengusir pikiran jahat dan memulihkan kedamaian jiwa saya.”

Dengan kata-kata ini dia menyelesaikan ceritanya, memohon rahib Zosimas untuk berdoa bagi jiwanya dan tidak memberi tahu siapa pun tentang dia sampai dia meninggal.

Tahun berikutnya, pada hari Perjamuan Terakhir, Zosimas membawanya Perjamuan Suci, dan dia berjalan melintasi sungai Yordan seperti di tanah kering untuk menerimanya.

Melihat mukjizat seperti itu, Zosimas menjelaskan, “Kemuliaan bagiMu, Kristus, Allah Kami, yang telah menunjukkan kepadaku melalui hambamu ini betapa jauh aku berdiri dari kesempurnaan.”

Dia memberikan Komuni Suci padanya, dan berjanji untuk datang lagi tahun berikutnya.

Sekali lagi meninggalkan biara untuk Masa Prapaskah Agung, Zosimas menemukannya di tempat yang telah ditentukan, berbaring dalam kesunyian abadi, terbungkus mantelnya dengan wajahnya menghadap ke Timur. Di padang pasir dia telah menulis namanya, Maria, dan instruksi untuk penguburannya; dia juga menulis bahwa dia meninggal pada hari itu, setahun sebelumnya, bahwa dia telah membawa Perjamuan Kudusnya.

Rahib Zosimas tidak tahu cara menguburkan orang suci itu karena ia sendiri lemah dan tidak memiliki alat. Tetapi saat itu seekor singa muncul yang telah menemaninya sekian lama dan dengan sukarela menggali kuburnya dengan cakarnya. Menutupi kaki Maria dengan air mata dan ciuman, dia mengikatnya ke bumi dengan doa.

Kemudian singa itu pun pergi ke padang pasir, dan rahib itu kembali ke biaranya di mana dia menceritakan kisah yang telah disimpan sampai hari ini, membawa kemuliaan bagi Allah dan harapan bagi semua orang berdosa.

Semoga Allah yang berbelaskasih memberi kita semua kesediaan pertobatan Maria dari Mesir dan perlindungan dari Theotokos untuk membantu kita. Amin!

Referensi: http://frederica.com/writings/st-mary-of-egypt-for-all-ages.html

  • Lazarus Saturday: Raising of Lazarus (Hebrews 12:28—13:8; John 11:1–45)

Pada hari Sabtu sebelum Pekan Suci, Gereja Ortodoks memperingati pesta besar tahun ini, mukjizat Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus ketika dia membangkitkan Lazarus dari kematian setelah dia berbaring di kuburan empat hari. Di sini, di akhir Masa Puasa Besar dan empat puluh hari puasa dan penyesalan, Gereja menggabungkan perayaan ini dengan perayaan Minggu Palma. Dalam kemenangan dan kegembiraan, Gereja memberikan kesaksian akan kuasa Kristus atas maut dan meninggikan Dia sebagai Raja sebelum memasuki minggu yang paling khidmat tahun ini, yang memimpin umat beriman mengingat penderitaan dan kematian-Nya dan diakhiri dengan Pesta yang agung dan mulia.

Pembangkitan Lazarus
Kisah kebangkitan Lazarus dari kematian oleh Yesus Kristus ditemukan dalam Injil Yohanes 11: 1-45. Lazarus menjadi sakit, dan saudara-saudara perempuannya, Maria dan Marta mengirim pesan kepada Yesus yang menyatakan, “Tuhan, dia yang kamu kasihi sakit.” Sebagai tanggapan terhadap pesan itu, Yesus berkata, “Penyakit ini tidak menyebabkan kematian; melainkan untuk kemuliaan Allah, sehingga Anak Allah dapat dimuliakan melaluinya ”(ayat 1-4).

Yesus tidak segera pergi ke Betania, kota tempat Lazarus tinggal bersama saudara-saudaranya. Sebaliknya Dia tetap tinggal di tempat di mana Dia tinggal selama dua hari lagi. Setelah masa ini, Dia memberi tahu para muridnya bahwa mereka akan kembali ke Yudea. Para murid segera menyatakan keprihatinan mereka, dengan menyatakan bahwa orang-orang Yahudi di sana baru-baru ini berusaha untuk melempari Dia dengan batu (Yohanes 10:31). Yesus menjawab para murid-Nya, “Apakah siang hari tidak ada dua belas jam? Mereka yang berjalan pada siang hari tidak tersandung, karena mereka melihat cahaya dunia ini. Tetapi orang-orang yang berjalan di malam hari tersandung, karena terang tidak ada pada mereka ”(ayat 5-10).

Setelah Dia mengatakan ini, Yesus memberi tahu murid-muridnya bahwa Lazarus tertidur dan bahwa Dia pergi ke sana untuk membangunkannya. Para murid bertanya-tanya mengapa Dia akan membangunkan Lazarus, karena itu baik baginya untuk tidur jika dia sakit. Akan tetapi, Yesus merujuk pada kematian Lazarus, dan dengan demikian memberi tahu para murid secara langsung bahwa Lazarus sudah mati (ayat 11-14).

Ketika Yesus tiba di Betania, Lazarus sudah berada di kuburan empat hari. Karena Betania dekat Yerusalem, banyak orang Yahudi datang untuk menghibur Maria dan Marta. Ketika Marta mendengar bahwa Yesus sedang mendekati, ia pergi menemui-Nya dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, jika Anda ada di sini, saudara lelaki saya tidak akan mati. Tetapi bahkan sekarang saya tahu bahwa Allah akan memberikan apa pun yang Anda minta dari-Nya. ”Yesus memberi tahu dia bahwa saudaranya akan bangkit kembali. Martha berkata bahwa dia tahu dia akan bangkit kembali dalam kebangkitan pada hari terakhir. Yesus menjawab, “Aku adalah kebangkitan dan hidup. Mereka yang percaya kepada saya, meskipun mereka mati, akan hidup, dan semua orang yang hidup dan percaya kepada saya tidak akan pernah mati. ”Yesus bertanya kepada Marta apakah dia percaya akan hal ini. Dia berkata kepada-Nya, “Ya, Tuhan, aku percaya bahwa kamu adalah Mesias, Anak Allah, yang datang ke dunia” (ayat 17-27).

Marta kembali untuk memberi tahu Maria bahwa Yesus telah datang dan memintanya. Mary pergi menemui-Nya, dan ia diikuti oleh orang-orang yang menghiburnya. Para pelayat mengikutinya berpikir bahwa dia akan pergi ke makam untuk menangis di sana. Ketika dia datang kepada Yesus, dia jatuh di kaki-Nya dan berkata, “Tuhan, jika kamu ada di sini, saudaraku tidak akan mati.” Yesus melihat dia menangis dan mereka yang bersama dia, dan Dia sangat tersentuh. Dia meminta untuk dibawa ke makam Lazarus. Ketika Yesus menangisi Lazarus, orang-orang Yahudi berkata, “Lihat bagaimana Ia mengasihinya.” Yang lain bertanya-tanya bahwa jika Yesus dapat membuka mata orang buta, Ia tentu saja dapat mencegah Lazarus agar tidak mati (ayat 28-37).

Yesus datang ke kubur dan meminta agar batu yang menutupi pintu diambil. Marta mengatakan bahwa Lazarus sekarang telah berada di kuburan selama empat hari dan akan ada bau busuk. Yesus menjawab, “Tidakkah aku memberitahumu bahwa jika kamu percaya, kamu akan melihat kemuliaan Allah?” Batu itu diambil, dan Yesus memandang ke langit dan berkata, “Ayah, aku berterima kasih karena telah mendengarku, tetapi aku telah mengatakan ini demi orang banyak yang berdiri di sini, sehingga mereka dapat percaya bahwa kamu mengirim saya. “Ketika Dia mengatakan ini, Dia memanggil dengan suara keras,” Lazarus, keluar! “Lazarus berjalan keluar dari kubur , diikat dengan potongan-potongan kain penguburan, dan Yesus berkata, “Lepaskan ikatannya, dan biarkan dia pergi” (ayat 38-44).

Sebagai hasil dari mukjizat ini, banyak orang Yahudi yang hadir percaya kepada Yesus. Yang lain pergi dan memberi tahu orang-orang Farisi tentang apa yang telah dilakukan Yesus. Sebagai tanggapan, orang-orang Farisi dan imam-imam kepala bertemu dan mempertimbangkan bagaimana mereka dapat menangkap Dia dan membunuh-Nya (ayat 45 dst).

Mukjizat ini dilakukan oleh Kristus sebagai jaminan kepada para murid-Nya sebelum Sengsara yang akan datang: mereka harus memahami bahwa, meskipun Dia menderita dan mati, namun Dia adalah Tuhan dan Victor atas kematian. Kebangkitan Lazarus adalah ramalan dalam bentuk tindakan. Itu menandakan Kebangkitan Kristus sendiri delapan hari kemudian, dan pada saat yang sama itu mengantisipasi kebangkitan semua orang benar pada Hari Terakhir: Lazarus adalah “buah sulung penyelamatan dari regenerasi dunia.”

Sebagaimana ditekankan oleh teks-teks liturgi, mukjizat di Betania mengungkapkan dua kodrat Kristus, manusia-Allah. Kristus bertanya di mana Lazarus dibaringkan dan menangis untuknya, dan karena itu Ia menunjukkan kepenuhan kedewasaan-Nya, yang melibatkan seperti halnya ketidaktahuan manusia dan kesedihan yang tulus untuk seorang teman yang terkasih. Kemudian, mengungkap kepenuhan kuasa ilahi-Nya, Kristus membangkitkan Lazarus dari kematian, meskipun mayatnya sudah mulai membusuk dan berbau. Kepenuhan ganda dari keilahian Tuhan dan kemanusiaan-Nya harus dijaga sepanjang Pekan Suci, dan terutama pada hari Jumat Agung. Di kayu Salib kita melihat penderitaan manusia yang sejati, baik fisik maupun mental, tetapi kita melihat lebih dari ini: kita melihat tidak hanya manusia yang menderita tetapi juga Tuhan yang

menderita.

Ikon Pesta

Ikon Sabtu Lazarus menunjukkan Kristus memanggil teman-Nya untuk keluar dari kubur (1). Lazarus keluar dari kubur (2), masih terikat pada potongan kain penguburan. Saudari-saudarinya, Maria dan Marta bersujud di hadapan Kristus, mengungkapkan kesedihan mereka atas kematian saudara mereka, tetapi juga iman mereka kepada Kristus sebagai Mesias dan Putra Allah. Di sebelah mereka adalah seseorang yang telah mengikuti permintaan Tuhan kita dan memindahkan batu dari pintu kubur (3). Berdiri bersama Kristus adalah murid-muridnya yang menjadi saksi mukjizat ini, manifestasi sejati dari kuasa Allah yang akan memberi mereka kepastian selama Sengsara Tuhan kita.
(4). Maria dan Marta, saudara-saudara perempuan Lazarus, bersujud di hadapan Kristus ketika mereka menyaksikan mukjizat yang luar biasa ini. Seorang pria muda menarik batu itu dari bagian depan makam.(5). Seorang pria yang merupakan bagian dari kerumunan yang mengikuti Kristus, menyaksikan mukjizat. Di tengah ikon adalah seseorang (5) yang mewakili kerumunan yang juga menyaksikan mukjizat. Beberapa percaya, tetapi yang lain pergi dan memberi tahu orang-orang Farisi dan imam-imam kepala yang melanjutkan tipu daya mereka untuk membawa penangkapan Kristus dan kematian-Nya. Kota Yerusalem yang bertembok, tempat Kristus akan tiba dengan kemenangan pada hari berikutnya, digambarkan di latar belakang.
Perayaan kristen ortodoks pada hari Sabtu Lazarus

Sabtu Lazarus dirayakan dengan Liturgi Ilahi Saint John Chrysostom, yang didahului oleh layanan Matins. Pada hari Jumat sebelum pesta, Vesper dilakukan baik dalam hubungannya dengan Liturgi Presanctified atau jika ini tidak diadakan, sesuai dengan urutan Triodion. Hari dan peringatan itu menerima namanya dari mukjizat Kristus yang dicatat dalam Injil. Baik pesta dan Minggu Palem ini adalah festival Gereja yang penuh kegembiraan, dan dengan demikian warna-warna cerah digunakan untuk jubah dan Meja Suci.

Bacaan Alkitab untuk Sabtu Lazarus adalah: Di Orthros (Matins): Tidak ada pembacaan Injil. Di Liturgi Ilahi: Ibrani 12: 28-13: 8; Yohanes 11: 1-45.

Pada Liturgi Ilahi Lazarus pada hari Sabtu, ayat pembaptisan dari Galatia (“Sebanyak yang telah dibaptis ke dalam Kristus telah mengenakan Kristus” Galatia 3:27) menggantikan Nyanyian Suci Tiga Belas, dengan demikian menunjukkan karakter kebangkitan dari perayaan tersebut, dan fakta bahwa Lazarus Saturday pernah menjadi salah satu dari sedikit hari pembaptisan besar di Tahun Gereja Ortodoks.


Nyanyian Pesta

Apolytikion: Nada Pertama Dengan membangkitkan Lazarus dari kematian sebelum Sengsara Anda, Anda mengukuhkan kebangkitan universal, Ya Tuhan, Allah! Seperti anak-anak dengan telapak tangan kemenangan, Kami berseru kepadaMu, wahai Raja Maut; Hosanna di tertinggi! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!

Kontakion: Nada Kedua Kristus – Sukacita, Kebenaran, dan Terang Semua, Kehidupan Dunia dan Kebangkitan – telah muncul dalam kebaikan-Nya bagi mereka yang ada di bumi. Dia telah menjadi Gambar kebangkitan kita, memberikan pengampunan ilahi kepada semua orang.

Troparion hari Sabtu St. Lazarus, Orthros. Nada 1
Ya Tuhan, ketika Engkau membangkitkan Lazarus dari kematian, sebelum Sengsara-Mu, Engkau mengkonfirmasi kebangkitan universal. Karenanya, kami, seperti bayi, membawa lambang kemenangan dan kemenangan, dan berseru kepada-Mu, wahai maut dari kematian, Hosanna yang tertinggi. Diberkatilah dia yang datang dalam Nama Tuhan. Dengarkan »

Exaposteilaria, Sabtu St. Lazarus. Nada 3

Dengan firmanMu, O Firman Tuhan, Lazarus sekarang melompat dari kematian, setelah kembali ke kehidupan ini. Karena itu orang-orang menghormati Anda dengan cabang-cabangnya, O Yang Perkasa; karena kamu akan menghancurkan Hades sepenuhnya dengan kematianmu sendiri.

Melalui Lazarus, Kristus telah menjarah kamu, hai kematian. Di mana kemenanganmu, O Hades? Sebab ratapan Betania diserahkan sekarang kepadamu. Mari kita semua melambai melawannya cabang kemenangan kita. Dengarkan »

12 Minggu besar

Nama : Ribala Erniwati Gulo

Nativity of the Theotokos

Commemorated September 8

The establishment of four major feast days to honour the Blessed Virgin Mary took place in the days of the apostolic era and have a significance in the Greek Orthodox Church which has remained unaltered through nearly twenty centuries of Christianity. The mother’ of the Son of God is honoured on March 25, the day of Annunciation when the Archangel Gabriel told Mary she was to become the mother of Jesus Christ; the Repose of the blessed Virgin Mary on August 15; on November 21, the Entrance of the Blessed Theotokos to the Temple; and on February 2 when the Mother of God brought the infant Jesus to the temple for presentation forty days after His birth.

A fifth day of commemoration is celebrated on September 8, honouring the Virgin Mary on the day of her birth. This day was set aside by the Orthodox Church in the early first century, but not observed until the eighth century when Pope Sergios saw fit to join with the Orthodox during his reign which extended from A.D. 687 to 701. All of Christendom agreed on the date that the Virgin Mary was born, but for some reason the date was not an official feast day in the Roman sector for more than a third of the length of existence of the Christian Church. The lack of communication between East and West ended in the Schism of 1054, a break which now appears to be an ever-narrowing gap, hopefully to be closed in a reunion upon which the Mother of God is sure to smile.

The familiar story of Mary’s birth has had variations in splinter groups of Christianity, but there is no doubt that her birth came about as an act of God. Her parents, Joachim and Anna, were childless and were fast approaching the years which would place Anna beyond the age of childbearing. Perhaps it was because of the intensity of their prayers that a child be born to them that their prayers were not only answered, but their child would, in turn, bear a child ordained by God as his Son. No one who calls himself a Christian can accept the virgin birth as anything but an act of God.

Although Mary is known as the mother of God, she has been accorded numerous titles in the Orthodox Church of which few are aware. They include, in addition to Mary, Mother of God: The Repose (Koimesis) of the Blessed Virgin, Mary Pantanissa, Mary of Tinos, Mary of Malcheon, and Mary Vlacherne (just to mention a few of the many honours applied to her name). Considered the Mother of Mothers and the Mother of all Mankind, she is venerated in a manner which helps to sanctify the role of motherhood and the preservation of the family as the only hope for civilisation. In an age of equal rights, the God-given right to motherhood, which is the mainstay of Christianity, is lost in a cloud of other ‘rights’ that have no meaning in the presence of God. Those who clamour for those ‘rights’ are not aware that there is no inferiority in women, proof of which is an approach to God and a reading of the Bible as a stronger document than any constitution. It is regrettable that the immaculate conception, not to be confused with the virginal birth of the Saviour, is a concept of the Mother of God which the Roman Church assumed in 1854 and with which the Orthodox Church is in total disagreement. This concept holds that Mary was born without the stain of original sin brought upon all mankind by Adam and Eve. But the Orthodox position holds that since Jesus Christ is God, he is, therefore the only one who is without the original stain. The point could be argued endlessly; but in spite of dogmatic differences, there is no lessening in the adoration of Mary as the Mother of God. There can be no doubt that she was made pure on the day of the Annunciation when told by Gabriel she was going to be the Virgin Mother of the Messiah. The Orthodox position stems from the concept that if the immaculate conception is taken literally, then Mary would assume the stature of goddess alongside God. The popularity of the name of Mary attests to the glorification of the Virgin Mary. The Greek Orthodox can feel exultation from calling out the name “Panagia” which means ‘All-Holy’ and is the Greek word for the most sacred figure in Christianity, aside from the Son she mothered.

Feast of the elevation of the
Precious and Life-giving Cross

Commemorated September 14

As important as any of the feast days commemorating the exalted saints of the Church is the feast day held annually on September 14 in special tribute to the cross of Jesus Christ, the reproduction of which is worn or displayed in every corner of the earth as a symbol of the mightiest faith in all the universe.

The two timbers on which the Messiah died to save the world, priceless beyond measure, form the most familiar and beloved symbol in a world full of symbols and emblems. For nearly three hundred years after his death the Cross was buried in obscurity, eventually to be salvaged through the efforts of a devout Byzantine emperor and his mother.

The Emperor Constantine the Great was not only the first Christian emperor, but, together with his mother, has been honoured with sainthood. His mother is honoured for her determined efforts in the cause of Christianity. It was Constantine who beheld a vision in the sky in which were emblazoned the words ‘en touto Nika’, translating into “In this Sign Conquer,” etched across a brilliant cross of Jesus Christ.

Ordering that all the shields of his army bear the sign of the Cross, Constantine went on to subdue the enemies of the state and to establish the Christian faith, which has outlived his empire and will endure forever. Helen, the mother of Constantine and a saint of the Church, had the full support of her son when she decided to recover the cross of Christ, and although nearly three hundred years had elapsed since the Crucifixion, she was optimistic in her resolve to find the Cross and return it to the city of Constantinople.

After months of diligent search, painstakingly following every historic clue as to its whereabouts, Helen and her dedicated group of searchers discovered the Cross on 14 September 325 AD in the vicinity of Golgotha, where it had been buried in the dust of the centuries. On the spot where the Cross was discovered there was found to grow a hitherto unknown flower of rare beauty and fragrance which has been named Vasiliko (Basil), meaning the flower of royalty, out of respect to the Dowager Queen who led the expedition.

This flower, since that memorable day over 1600 years ago, has been the official flower of the Orthodox Christian Church and is in evidence when Clergymen engage in the age-old tradition of blessing homes or the waters on which seamen ply their trade.

Helen afterwards made countless pilgrimages to the Holy Land and was responsible for the establishment of churches at the sites of the Nativity, Holy Sepulchre, Ascension, and at many other places. For the next three hundred years the Cross stayed in the possession of the Christians in Jerusalem, but after a series of forays the city of Jerusalem was captured by the Persians in 614 AD and the Cross fell into the hands of an enemy that for years prior and since has scoffed at the faith of Jesus Christ.

Several attempts were made by devout and bold Christians to recover the precious Cross, but they were no match for the Persian hordes. Finally, the Byzantine Emperor Heraklios, in the tradition of his ancestor Constantine, amassed an army of size and equipment to match that of the Persians, and after months of planning, launched an attack on the Holy City – but with no immediate success.

What the Persians lacked in faith they made up for in numbers of trained warriors who respected nothing but the sword, and because of this relentless defence the tide of battle wavered over an agonising fifteen years until at last the Christian forces broke through the Persian defences and regained control of the Holy City and its priceless treasure. The successful outcome of the campaign is celebrated jointly with the finding of the Cross by St. Helen on September 14, and the veneration of the Precious and Life-giving Cross is again celebrated by Christians on the Third Sunday of Lent.

With the sign of the Cross so much in evidence in the daily life of a Christian, the celebration seems to extend over every minute of every day of every year, but the official days underscore the magnitude of the Cross in the Christian concept. With the perilous conditions prevalent in a land where the fortunes of a menaced society were subject to sudden change and mood, depending on who held the upper hand, the Fathers of the Church decided to divide the Cross into small sections, thereafter to repose in the safety of the great spiritual centres of ConstantinopleMt. Athos, Alexandria, Rome, and Antioch.

Presentation of the Virgin Mary

Commemorated November 21

It stands to reason that Almighty God’s selection of the Virgin Mary to be the Mother of God was not a random selection. In his wisdom, God selected not from the nobility but from the humble, thoroughly devout, daughter of equally devout parents whose names were Joachim and Anna. Tradition has it that Anna, childless for many years, reached a point in her life when just short of despair she prayed in earnest that God grant her a child with a promise that should her wish be fulfilled she would pledge the child to his holy Temple. It did not matter to Anna that the child granted her by God was a girl and, faithful to her word, she presented her daughter, given the name of Mary, to the holy Temple at the age of three, on the 21st of November. She remained in the house of God for twelve years, emerging at the age of fifteen with a purity and wholesomeness found in no other creature of God. By the time she had been released to her parents, the saintly Mary was not only a flawless maiden but in her twelve years had acquired the lore and religion of the deepest scholars, something usually denied a female child of those days. So much has been written of the Lord’s mother that the concern here is for a glimpse into her life as a human being. The Virgin Mary is looked upon by Orthodoxy as “Panagia,” which translates into the all-encompassing saint. Greek Orthodox Christians need but one name and that name is “Panagia,” carrying the full impact on the Christian faith as no other name can regardless of the language. The beginnings of Christianity were not the scattered remnants that somehow merged into a smattering, of ideologies. By divine intent the great religion of Christ stemmed from a tight circle which spread itself out as the greatest of human experiences.

To begin with, the high priest entrusted with the care of Mary was Zacharias, who in turn was the father of St. John the Baptist, referred to as the prefiguration of the Messiah and the man who was to baptise Jesus Christ. Yet in her teens the Virgin Mary, in a story that cannot be told often enough, was visited by the Archangel Gabriel, sent by the Almighty himself to be told that she, a wisp of a girl, mortal but blessed, was to become the mother of the Son of God. There is every reason to believe that as electrifying as the news was, she received it with both joy and complete serenity. A girl can get excited by being elected “Queen of May” but to be “Queen of the Universe” must have been an anticipation not of excitement but the sublimest of joy, human or otherwise. It follows that both Joachim and Anna, as the grandparents so to speak, of the Son of God, are also venerated as saints of the Church, so much so that they are also known as the “Patron Saints of Pious Education,” principally because of the twelve year course of study of religion of their daughter Mary. The Christian can make his own choice of his favourite among the four days of the year which are feast days of the Virgin Mary. These are the Birth of the Blessed Virgin Mary on September 8, the Presentation of the Virgin Mary on November 21, the Annunciation of the Virgin Mary on March 25, and the Dormition of the Virgin Mary on August 15. On the calendar of the Church, all four of these days are of equal importance. The world sees the Virgin Mary much as Michelangelo did when he carved out his famous Ficta in which a youthful looking Mary is holding the lifeless body of her crucified Son. Nowhere is she seen as an old woman, at least not at the age of a woman who is the mother of a thirty-three year old son. Among the Holy Land’s most sacred shrines is the one at the base of the Garden of Gethsemane, the site of the agony of Christ. This shrine is dedicated to the Virgin Mary and her parents. After a descent down a cement stairway of about fifty steps, the tomb of Joachim is on the left and on the right of the tomb of his wife Anna. Some fifty steps below this is the empty tomb of the Virgin Mary since, like the Son of God, she ascended into heaven. Stories abound about the Virgin Mary but the truthful one that clings and shall do so forever is that in being the mother of the Son of God, she is the mother of the world. For this reason November 21 is one of Christianity’s holiest feast days.

Feast of the Nativity (Birth) of Our Lord and Saviour Jesus Christ

celebrated December 25

by Fr George Poulos,

The birth of Jesus Christ of Nazareth has split history in two so that each calendar is reckoned before or after His birth. The year in which He was born marks the period known as Anno Domini, and the years before that as BC. (‘Before Christ’)

Our Lord’s Nativity is observed on December 25. The early church fathers made the birthdate of our Lord deliberately to coincide with and offset the pagan celebration of Saturnalia, that festive pagan day of celebration in which the sun crossed the imaginary line drawn on the later-day maps as the equator.

To the pagans it signified a rebirth of the sun, now returning to the north to assert its full power and bring on the spring season; but to the Christians it marked the birthday celebration of Jesus Christ, the Son of God who had created not only the sun, but all the other stars and planets of the universe.

Jesus Christ who on more than one occasion said simply, “Follow me,” leaving no chart but that which lies in the true Christian heart and which requires no formula beyond that which we call “love.”

The Old Testament abounds in testimony of the coming Messiah, long anticipated by the prophets, who were aware that the original sin of man who was stained by evil in the Garden of Eden could only be cleansed by the blood of a Messiah sent by God. The theological recognition of god as representing universal love also recognised that God chose to share love with man, and for that purpose was man and woman created.

A second premise is that man has it within his grasp to find happiness; and a third, that in doing so he glorifies God in whose image he was created. That placed man in harmony with God and nature; but this harmony was shattered by Adam and Eve who, in the disobedience of God in paradise, lost their membership in the alliance and were at the mercy of nature, as well as the mercy of God.

Man had fallen from grace and had no mastery over nature; but God, in his infinite mercy, was not about to obliterate that which was cast in His own image. Therefore, He saw to it that with the ascendancy of a sun in winter He gave to the world His only begotten Son.

The Christian soul has been spared because on December 25 the Saviour was born, and God so loved the world He had created that He sacrificed his Son thirty-three short years later for the redemption of all mankind. The star that shone over Bethlehem on the eve of the Saviour’s birth to light the way for the Wise Men of the East still shines as an eternal beacon in the hearts of all those who have Jesus Christ in their hearts.

Theophany of Christ our Lord

Celebrated January 6th

When the Lord Jesus had lived for thirty years from His birth in the flesh, He began His teaching and saving work He marked this very beginning of the beginning by His Baptism in the Jordan.

St Cyril of Jerusalem says:

‘The beginning of the world — water; the beginning of the Gospel — the Jordan.”

At the Baptism of the Lord in the water, that mystery was revealed to the world that was predicted in the Old Testament and fabled in ancient Egypt and India — the mystery of the Holy Trinity of God.

The Father revealed Himself to the sense of hearing, the Spirit to the sense of sight and the Son, further beyond these, to the sense of touch.

The Father gave His testimony of the Son, the Son was baptised in the waters and the Holy Spirit, in the form of a dove, hovered over the waters. And when John the Baptist bore witness of Christ and said:

“Behold the Lamb of God, which taketh away the sin of the world” (Jn. 1:29),

 and when he immersed the Lord in the Jordan and baptised Him, there were thus revealed both the mission of Christ in the world and the path of our salvation .

That is to say: Christ takes upon Himself the sin of the whole human race. He dies under it (the immersion) and rises again (the coming up out of the water), and we must die to the old, sinful man and rise again, cleansed, renewed and re-born. Here is the Saviour and here is the way of salvation.

The Feast of the Theophany is also called the ‘Illuminating’, for in the Jordan there is given to us an illumining, revealing God to us as Trinity, consubstantial and undivided. That is one thing. And the other is that each of us baptised in the water is illumined by the Father of lights, through the merits of the Son and in the power of the Holy Spirit.

The presentation (meeting) of
Our Lord in the Temple

Commemorated February 2

On the 2nd of February, our Holy Church celebrates the Feast of the Presentation of Christ to the Temple. The Church also refers to this Feast as the Synaxis (or meeting) of our Lord in the temple.

In accordance with the Mosaic law, 40 days after the birth of a male child the mother is required to present the child in the tabernacle and offer as a sacrifice either a lamb or a pair of doves or pigeons for her purification. The presentation of a first-born son also signified redemption or buying back, for all first-born creatures (both humans and animals) were considered to belong to God.

Mary and Joseph obeyed this precept of the law. They brought Jesus to the Temple where he was met and blessed by a very old Holy man. On that day in the Temple, both Simeon and a woman by the name of Anna, by inspiration of the Holy Spirit, recognised the infant Jesus as the Messiah and Saviour of the world. Simeon had been promised by God that he would live to witness the coming of the Messiah to the world. These events are the subject of todays Gospel reading. (Luke 2:22-40)

Imagine this blessed scene, of an old man – barely able to hold himself upright due to his advanced years- fully attired in the Traditional clothing of the High Priest of the Temple, cradling the infant Jesus in his arms. It is the meeting of the Old Testament Priesthood in the Temple with the New Testament Priesthood in Christ. And hence the naming of this Feast day as the “Synaxis” or Meeting of our Lord in the Temple.

The Church today calls each one of us to make our Soul a Temple of God, where the Holy Virgin can bring her Divine Child. And each one of us should, like Simeon, take the Child in our arms and say to the Father:

“My eyes have seen your salvation, now let your servant depart in peace”.

This Prayer of Simeon is used every day in the Vespers services of the Orthodox Church. But this prayer should be more to us than a description of someone who has been allowed to see and hold the Christ child requesting a peaceful departure. It should also mean for us, in particular, that having seen and touched the Saviour, we are released from the hold that sin has on us, and in peace, we can leave the realm of evil.

The Annunciation of the Theotokos

Celebrated March 25

Of all the solemn days in Orthodoxy the day of March 25 is one not only of religious significance but of political significance as well, allowing the Greek Orthodox to commemorate God’s message to Mary and the independence of Greece on the same day.

The expression, “For God and Country,” has real meaning for the Orthodox Greek on the 25th day of March, a day on which he can celebrate two events without diminishing either one for the obvious reason that devotion and patriotism have the same emotional root — love. If Christianity could be compressed into a single word, that word would be love. The same holds true for patriotism.

Uppermost in the true Greek’s mind on March 25, however, is Mary, chosen from all the women in the world to be the Mother of Jesus Christ. When the angel Gabriel brought the momentous message from God this day, the gentle Mary must have felt a solemn pride, but at the same time a disquieting apprehension at the prospect of this awesome responsibility. Assured by the Archangel, Mary’s answer was a simple: “Let it be according to the will of God,” and the rest is glorious history.

The world of Mary of two thousand years ago is envisioned as one in which life was simple and free of the complexities that plague the modern world, but in that age of self-sufficiency there were problems which would be insurmountable today. The mother of that day was all things to her family, and it can safely be said that when the Archangel Gabriel departed, the prospective Mother of God must have for several moments felt terribly alone, Everyone knows about the nativity and the mission of Jesus Christ, but the details of the days, months and years in between are known but to Mary and to God.

The political importance of March 25 is fully realized only when the suffering of four centuries is called to mind. In 1458 the Ottoman hordes overran all of Greece and most of the Balkans and held hostage a people whose culture dated back more than two thousand years, and who gave more to the world than it could ever receive in return, and it seems that the world just stood by while the cradle of democracy and Christianity was being defiled by a scourge that would have undone a less hardy breed.

Hopelessly outnumbered, Greece endured nearly four hundred years of brutal oppression, but the spirit of its people knew not a single moment’s weakness. The fires of rebellion that the Turks thought they had snuffed out, but which had smouldered in Hellenic hearts for almost 400 years, were kindled into a conflagration on 25 March 1821, not by a bemedalled general but by a man of the cloth, Bishop Germanos of Patras, Greece, who chose the day of the Annunciation knowing God would be on the side of the Greeks.

The good bishop held the Cross of Jesus Christ aloft on the 25th day of March, 1821, and proclaimed freedom for all Greek Orthodox Christians. It was a motion seconded by every Greek in the country. In addition to engaging in a war for independence, the Greeks were actually waging a holy war because it was not only Greek against Turk but Christian against Muslim, and the subsequent Greek victory was a triumph of Christianity.

Events commemorated in Holy Week

Lazarus Saturday

The Saturday before Palm Sunday celebrates the raising of Lazarus at Bethany (John 11: 1-46). This is the first of two days of Joy and Triumph which the Church keeps as a Festival before the days of darkness and mourning which are to follow in the week of the Passion. Through the miracle of the raising of Lazarus, Jesus shows His disciples that though He too will suffer and die, He is Lord and Victor over death.

Palm Sunday

The second day of Joy which forms a bridge between Great Lent and Holy Week. On this day the Church commemorates the Triumphant entry of Christ into Jerusalem. He enters the city riding a donkey and is greeted by crowds of people waving palm branches (a symbol of victory). The crowd have gathered to meet the One who raised their brother Lazarus from the dead. They welcome Jesus with the cry of:

“Hosanna ! Blessed is He who comes in the name of the Lord ! The King of Israel!”

On this day Christ was welcomed as the King of Israel. Today, on Palm Sunday we welcome Christ, the King of the Future Age.

Holy Monday, Tuesday and Wednesday

The over-riding theme of these days are the things of the last times. Christ, the Bridegroom of the Church (Nymphios Gk) is called to mind, Who will come again on the last day to Judge the world. With these services, the Church repeats the message of Great Lent – The End is near at hand; be watchful; repent while there is still time.

“I see Your Bridal Chamber adorned, O my Saviour, and I have no wedding garment that I may enter in, O giver of Light, make radiant the vesture of my soul and save me”.

“Behold the Bridegroom comes in the middle of the night, and Blessed is the servant whom He shall find watching; and again unworthy is he whom He will find heedless. Beware therefore, O my soul, lest you be borne down with sleep, lest you be given up to death, and lest you be shut out from the Kingdom. Therefore, rouse yourself and cry:

“Holy, Holy are You, our God, through the intercessions of the Theotokos save us”.

from the Nymphios Services of Holy Monday, Tuesday and Wednesday

Each of the three days has its own particular theme:

On Holy Monday we commemorate the Patriarch Joseph, whose innocent sufferings (Genesis ch 37, 39-40) prefigure the Passion of Christ. Also we commemorate the barren fig tree cursed by our Lord (Matt 21: 18-20) – a symbol of the judgement that will befall those who show no fruits of repentance; a symbol, more specifically of the unbelieving Jewish synangogue.

On Holy Tuesday the Liturgical texts commemorate chiefly the parable of the Ten Virgins, which forms the general theme of these three days. The services refer also to the parable of the Talents (Matt 25: 14-30), both of which are interpreted as parables of the Judgement.

On Holy Wednesday we commemorate the woman that was a sinner, who anointed Christs’s feet as He sat in the house of Simon (Matt 26: 6-13, Luke 7: 36-50, John 12: 1-8) three days before His Passion. A secondary theme is the agreement made by Judas to betray the Lord to the Jewish authorities. The repentance of the sinful harlot is contrasted with the tragic fall of the chosen disciple. The Triodion makes it clear that Judas perished, not simply because he betrayed his Master, but because, having fallen into the sin of betrayal, he then refused to believe in the possibility of forgiveness:

“In misery he lost his life, preferring a noose rather than repentance.”

The Sacrament of Holy Unction is performed on the evening of Holy Wednesday.

Holy Thursday

On this day four events are commemorated: the washing of the Disciple’s feet by Jesus Christ, the institution of the Mystery of the Holy Eucharist at the Last Supper, the agony of Christ in the Garden of Gethsemane, and the betrayal of Christ by Judas.

At the Ecumenical Patriarchate in Constantinople, and at the centres of the other Patriarchates and Autocephalous Churches, the Holy Chrism is blessed during the Divine Liturgy of this day, to be distributed around the world for use in the Mystery of Holy Chrismation.

The meaning of Holy Thursday is well expressed by the following Liturgical Text used many times on Holy Thursday at as part of the Prayers of preparation for Holy Communion.

“At Thy mystical Supper, Son of God,
Today receive me as a communicant:
For I will not speak of the mystery to Thine enemies;
I will not give Thee a kiss as did Judas;
But as the Thief I confess Thee:
Remember me, Lord, when Thou comest in Thy Kingdom”.

Holy and Great Friday

On this day we commemorate the Passion of Christ: the mockery, the crown of thorns, the whipping, the nails, the thirst, the vinegar and gall, the cry of desolation, and all that the Saviour endured on the Cross; and also the confession of the Good Thief on his right hand. At the same time the Passion is not separated from the Resurrection; even on this day of our Lord’s greatest self-abasement, we look forward also to the revelation of His eternal glory:

“We venerate Thy Passion, O Christ,
Show us also Thy glorious Resurrection”.

The Cross and the Resurrection are aspects of a single, undivided act of salvation.

Great and Holy Matins, by anticipation, are held on Thursday evening. There is a series of 12 Gospel readings which begin with Christ’s discourse at the Last Supper and ends with the account of His burial. In the Greek and Antiochian Tradition, just prior to the sixth Gospel reading, the Priest carries a large Cross from the Sanctuary and sets it up in the centre of the Church as a dramatic representation of the procession of the Crucified One.

During this procession the Priest chants the following in a monotone and solemn voice:

“Today is hung upon the Tree, He who suspended the Land in the midst of the waters (Thrice). A crown of thorns crowns Him, Who is the King of Angels. He is wrapped about with the purple of mockery, Who wrapped the heavens with clouds. He received buffetings, Who freed Adam in the Jordan. He was transfixed with nails, Who is the Son of the Virgin.

“We worship Your Passion, O Christ (Thrice). Show to us also Your glorious Resurrection”.

The faithful all proceed to venerate the Cross in a solemn manner.

On the morning of Holy and Great Friday the Services of the Hours are performed. Following these, the vespers for Holy and Great Friday are held. This service commemorates the Apokathelosis (Taking down from the Cross) of our Lord. Following this the Priest carries the Epitaphios of Christ (an oblong piece of stiffened cloth on which is painted or embroidered the figure of the dead Christ laid out for burial) from the Sanctuary in a procession to the centre of the Church where waits a beautifully decorated representation of the Sepulchre (Tomb) of our Lord. The flower-adorned Sepulchre and Epitaphios are then venerated by the faithful in one of the most moving moments in the Church calendar.

In the evening service, matins of Holy and Great Saturday by anticipation, the faithful carry the Epitaphios and Sepulchre around the Church whilst chanting funeral dirges to the Lord in the Tomb. Yet this is not in fact a funeral procesion at all. God has died on the Cross and yet He is not dead. He Who died, the Word of God, is the Life Himself, Holy and Immortal; and our procession through the night signifies that He is now proceeding through the darkness of Hades, announcing to Adam, and all the righteous who had fallen asleep before the coming of the Lord, His coming Resurrection in which they too will share.

Holy and Great Saturday

On this day we commemorate the burial of Christ and His descent into Hades (Hell). On this day God observes a Sabbath rest in the Tomb. There is a definite note of expectation associated with this day, beginning from matins on Friday evening. We look forward to the moment when He will rise again, bringing new life and recreating the world.

The Joyous Liturgy held on the morning of Holy and Great Saturday is that of St. Basil the Great. It is the first hint by the Church of the Glorious Resurrection of our Lord and Saviour Jesus Christ:

” Arise O God, and Judge the earth; for You shall take all heathen to Your inheritance”.

On the evening of Holy and Great Saturday, the people gather in the Church. At midnight in the darkened Church one will witness the most moving moment in the Orthodox calendar. The Priest exits from the Sanctuary holding a lighted candle, representing Christ the Light of the world, saying:

“Come ye and receive light from the unwaning Light; and glorify Christ, Who has risen from the dead”.

Holy Pascha (Sunday of the Resurrection)

During the matins of The Resurrection which follow just after midnight on Holy and Great Saturday, the Priest leads a procession out of the Church where he reads the Gospel account of the Resurrection (John 12:1-18). Then the triumphal Paschal hymn is sung three times by the Priest, chanters and all the faithful:

“Christ has risen from the dead, by death trampling upon Death, and has bestowed life to those in the tombs”.

Everyone then re-enters the Church to sing the Praises to our Lord and Pascha (Passover) Jesus Christ, and the hymn of St John Damasus:

“It is the day of Resurrection: Let us be glorious in splendour for the Festival, and let us embrace one another. Let us speak also, O brethren, to those that hate us, and in the Resurrection, let us forgive all things, and so let us cry:

Christ has risen from the dead, by death trampling upon Death, and has bestowed Life to those in the tombs”.

Then follows the celebration of the glorious Paschal Liturgy of St. John Chrysostom, which finishes with the Paschal Homily of St John Chrysostomos.

The Faithful joyously greet each other with “Christ is Risen!”, to which the reply is “Truly He is Risen!”

And so on the Holy and Great Sunday of Pascha, we celebrate the life-giving Resurrection of our Lord and Saviour Jesus Christ.

The Ascension

by the Late Very Rev Nicon D Patrinacos

The Acts of the Apostles records the Ascension of Christ in a very simple narrative. “He was lifted up before their eyes in a cloud which took Him from their sight” (1:9). Our Church celebrates this event of Christ’s glorification. It celebrates all that Christ has done and accomplished for us. The Kontakion of the Feast summarizes all of Christ’s work:

When You fulfilled the plan of salvation for us and united all things on earth to those in heaven, O Christ our God, You ascended in glory, never leaving us but remaining ever-present. For You proclaimed to those who love You, “I am with you and no one else has power over you”.

The icon of the Ascension is an icon of joy. It celebrates the meaning of this event for the Church and the world. The Ascension took place on the Mount of Olives. Thus, the mountainous background of the panel, dotted with images of scattered olive tress. The figure of Christ ascending in glory is surrounded by a circular nimbus composed of various bands of colour, symbolic of the heavens. This nimbus itself is supported by angels whose presence is yet another indication of the glory and divinity of Christ. It recalls the Old Testament image of God enthroned upon the Cherubim.

In the foreground of the icon, the image of the Theotokosis seen surrounded by two groups of Apostles. Of prime importance is her position directly below Christ. This entire grouping, the Theotokos and the Apostles, stands as an expression of the establishment and role of the Church. The icon includes not only those who actually witnessed the Ascension; it also includes the Apostle Paul (who historically could not have been there) at the head of the group or to the right. What is intended is that the Church witnesses to this event.

The Theotokos, she whom carried Christ within her and was therefore the temple of the Incarnate Son of God, stands here as personification of the Church, the Body of Christ, whose head is the ascending Saviour. The gesture of her hands, uplifted in faith and prayer, expresses the role of the Church, ceaselessly interceding for the salvation of the world. The direction of movement of this group, their gestures, the focus of their eyes and postures, everything is directed upwards: towards the Source of Life of the Church, its head Who abides in heaven. For:

He led them our near Bethany, and with hands upraised blessed them. As He blessed, He left them, and was taken up to heaven. They fell down to do Him reverence, then returned to Jerusalem filled with joy.

There they were to be found in the temple constantly, speaking the praises of God (Luke 24:50-53).

Troparion

You ascended in glory, O Christ our God, and delighted the Disciples with the promise of the Holy Spirit; through this blessing they were assured that You are the Son of God the Redeemer of the world.

Pentecost – Trinity Sunday

by Fr Thomas Hopko

“When the Day of Pentecost had fully come, they were all with one accord in one place.
     And suddenly there came a sound from heaven, as of a rushing mighty wind, and it filled the whole house where they were sitting.
     Then there appeared to them divided tongues, as of fire, and one sat upon each of them.
     And they were all filled with the Holy Spirit and began to speak with other tongues, as the Spirit gave them utterance.
     And there were dwelling in Jerusalem Jews, devout men, from every nation under heaven.
     And when this sound occurred, the multitude came together, and were confused, because everyone heard them speak in his own language.
     Then they were all amazed and marvelled, saying to one another, Look, are not all these who speak Galileans? And how is it that we hear, each in our own language in which we were born?
     Parthians and Medes and Elamites, those dwelling in Mesopotamia, Judea and Cappadocia, Pontus and Asia, Phrygia and Pamphylia, Egypt and the parts of Libya adjoining Cyrene, visitors from Rome, both Jews and proselytes, Cretans and Arabs &endash; we hear them speaking in our own tongues the wonderful works of God” (Acts 2:1-11).

Tradition says that to fulfil the prophecy of Joel (Joel 2: 28-29), the Holy Spirit descended not only on the twelve chosen Apostles, but also upon all those who were with them “with one accord in one place” (Acts 2:1), that is, on the whole Church. This is why in Icons of Pentecost there are represented Apostles not belonging to the twelve – Apostle Paul (sitting with Apostle Peter at the head of the circle of Apostles), and among the seventy, Luke the Evangelist and Mark the Evangelist (Ouspensky and Lossky, The Meaning of Icons, Rev Ed, SVS, NY, 1982, p208).

And there appeared to them divided tongues as of fire …

and they were filled with the Holy Spirit

So that by gradual increase … and progress from glory to glory, the light of the Trinity might shine upon the more illuminated … for this reason it was, I think, that He gradually came to dwell in the disciples. He measured Himself out to them according to their capacity to receive Him: at the beginning of the gospel, after the Passion, after the Ascension, making perfect their powers, being breathed upon them and appearing in fiery tongues … You see lights breaking upon us, gradually, and knowledge of such order of theology, as is better for us to maintain, neither proclaiming things too suddenly nor yet keeping them hidden to the end … He said that all things should be taught us by the Spirit Himself, made clear at a later time, when, such knowledge would be seasonable and capable of being received after our Savior’s restoration; when it would no longer be received with incredulity because of its marvelous character. For what greater thing than this did either He promise, or the Spirit teach … If He is not to be worshiped, how can He deify me by baptism?… And indeed from the Spirit comes our new birth, and from the new birth our new creation, and from the new creation our deeper knowledge of the dignity of Him from whom it is derived … Look at these facts: Christ is born; the Spirit is His forerunner. He leads Him up. He works miracles; the Spirit accompanies them. He ascends; the Spirit takes His place (St. Gregory the Theologian, Fifth Theological Oration, 26-29).

The Promise of Pentecost

“On the last day, that great day of the feast, Jesus stood and cried out, saying, “If anyone thirsts, let him come to Me and drink.
     “He who believes in Me, as the Scripture has said, out of his heart will flow rivers of living water”.
     But this He spoke concerning the Spirit, whom those believing in Him would receive; for the Holy Spirit was not yet given, because Jesus was not yet glorified.
     Therefore many from the crowd, when they heard this saying, said, “Truly this is the Prophet”.
     Others said, “This is the Christ”, but some said, “Will the Christ come out of Galilee? Has not the Scripture said that the Christ comes from the seed of David and from the town of Bethlehem, where David was?”
     So there was a division among the people because of Him.
Now some of them wanted to take Him, but no one laid hands on Him.
     Then the officers came to the chief priests and Pharisees, who said to them, “Why have you not brought Him?”
     The officers answered, “No man ever spoke like this Man!” Then the Pharisees answered them, “Are you also deceived? Have any of the rulers or the Pharisees believed in Him? But this crowd that does not know the law is accursed”.
     Nicodemus (he who came to Jesus by night, being one of them) said to them, “Does our law judge a man before it hears him and knows what he is doing?”
     They answered and said to him, “Are you also front Galilee? Search and look, for no prophet has arisen out of Galilee” (John 7:37-52).
     Then Jesus spoke to them again, saying, “I am the light of the world. He who follows Me shall not walk in darkness, but have the light of life” (John 8:12).

If anyone thirsts, let him come to me and drink…

Those who come to the divine preaching and give heed to the faith must manifest the desire of thirsty people for water, and kindle in themselves a similar longing; so they will be able, very carefully, to retain what is said … For to show that we ought ever to thirst and hunger, He said ‘Blessed are they who hunger and thirst after righteousness’ (Matt.5:6) … Elsewhere He calls it, ‘eternal life,’ but here, ‘living water.’ He calls that ‘living’ which ever works: for the grace of the Spirit, when It has entered into the mind and has been established, springs up more than any fountain, does not fail, never becomes empty … He has represented its abundance by the expression ‘springing’ …Consider the wisdom of Stephen, the tongue of Peter, the vehemence of Paul: how nothing bore, nothing withstood them, not the anger of multitudes, not the risings up of tyrants, not the plots of the devils, not daily deaths, but as rivers borne along with a great rushing sound, so they went on their way hurrying all things with them … When He was about to send them (after the crucifixion) He said, ‘Receive the Holy Spirit’ (John 20:22) … and then they wrought miracles (St. John Chrysostom, Homily 51 on John 7).

In Praise of Salvation and Creation

“0 God, You are my God; early will I seek You; my soul thirsts for You; my flesh longs for You in a dry and thirsty land where there is no water. So I have looked for You in the sanctuary, to see Your power and Your glory. Because your lovingkindness is better than life, my lips shall praise You. Thus I will bless You while I live; I will lift up my hands in Your name. My soul shall be satisfied as with marrow and fatness, and my mouth shall praise You with joyfuI lips. When I remember You on my bed. I meditate on You in the night watches. Because You have been my help, therefore in the shadow of Your wings I will rejoice. My soul follows close behind You; Your tight hand upholds me” (Psalm 63:1-8).

The Holy Spirit provides every gift: He inspires prophecy, perfects the priesthood, grants wisdom to the illiterate, makes simple fishermen to become wise theologians, and establishes perfect order in the organization of the Church. Wherefore, 0 Comforter, equal in nature and majesty with the Father and the Son, glory to You… (from The Bible and Holy Fathers for Orthodox ed. J. Manley, Monastery Books, Menlo Park, 1990, pp. 136-9).

In the days of old, pride brought confusion of tongues to the builders of the tower of Babel, but now the diversity of tongues enlightenend the minds and gave knowledge for the glory of God. There, God punished infidels for their sin, while here Christ enlightened fishermen through the Spirit; there the confusion of tongues was for the sake of vengeance, while here there was variety so that voices could be joined in unison for the salvation of our souls (Stichera of Pentecost for Vespers, pp. 891, 894).

Pentecost – The Descent of the Holy Spirit

In the Old Testament Pentecost was the feast which occurred fifty days after Passover. As the passover feast celebrated the exodus of the Israelites from the slavery of Egypt, so Pentecost celebrated God’s gift of the ten commandments to Moses on Mount Sinai.

In the new covenant of the Messiah, the passover event takes on its new meaning as the celebration of Christ’s death and resurrection, the “exodus” of humanity from this sinful world to the Kingdom of God. And in the New Testament as well, the pentecostal feast is fulfilled and made new by the coming of the “new law”, the descent of the Holy Spirit upon the disciples of Christ.

“When the day of Pentecost had come, they were all together in one place. And suddenly a sound came from heaven like the rush of a mighty wind, and it filled all the house where they were sitting. Then there appeared to them tongues as of fire, distributed as resting upon each one of them. And they were all filled with the Holy Spirit” (Acts 2:1-4).

The Holy Spirit, that Christ had promised to his disciples, came on the day of Pentecost (see John 14:26, 15:26; Luke 24:49; Acts 1:5) The apostles received “the power from on high”, and they began to preach and bear witness to Jesus as the risen Christ, the King and the Lord. This moment has traditionally been called the birthday of the Church.

In the liturgical services of the feast of Pentecost, the coming of the Holy Spirit is celebrated together with the full revelation of the divine Trinity: Father and Son and Holy Spirit. The fulness of the Godhead is manifested with the Spirit’s coming to humanity, and the Church hymns celebrate this manifestation as the final act of God’s self-disclosure and self-donation to the world of His creation. For this reason Pentecost Sunday is also called Trinity Sunday in the Orthodox tradition. Often on this day the Icon of the Holy Trinity – particularly that of the three angelic figures who appeared to Abraham, the forefather of the Christian faith – is placed in the center of the church. This Icon is used with the traditional pentecostal Icon which shows the tongues of fire hovering over the Virgin Mary and the Twelve Apostles, the original prototype of the Church, who are themselves sitting in unity surrounding a symbolic image of “cosmos” (the world).

On Pentecost we have the final fulfillment of the mission of Jesus Christ and the first beginning of the messianic age of the Kingdom of God (mystically present in this world in the Church of the Messiah). For this reason the 50th day stands as the beginning of the era which is beyond the limitations of this world, fifty being, that number which stands for eternal and heavenly fulfillment in Jewish and Christian mystical piety: seven times seven, plus one.

Thus, Pentecost is called an apocalyptic day, which means the day of final revelation. It is also called an eschatological day, which means the day of the final and perfect end (in Greek eschaton means the end). For when the Messiah comes and the Lord’s Day is at hand, the “last days” are inaugurated in which “God declares: … I will pour out my Spirit upon all flesh“. This is the ancient prophecy to which the Apostle Peter refers in the first sermon of the Christian Church which was preached on the first Sunday of Pentecost (see Acts 2:17, Joel 2:28-32).

Once again it must be noted that the feast of Pentecost is not simply the celebration of an event which took place centuries ago. It is the celebration of what must happen and does happen to us in the Church today. We all have died and risen with the Messiah-King, andwe all have received His Most Holy Spirit. We are the “temples of the Holy Spirit”. God’s Spirit dwells in us (see Romans 8; 1 Corinthians 2-3, 12; 11 Corinthians 3; Galatians 5; Ephesians 2-3). We, by our own membership in the Church, have received “the seal of the gift of the Holy Spirit” in the sacrament of chrismation. Pentecost has happened to us.

The Divine Liturgy of Pentecost recalls our baptism into Christ with the verse from Galatians again replacing the Thrice-Holy Hymn. Special verses from the psalms also replace the usual antiphonal psalms of the liturgy. The epistle and gospel readings tell of the Spirit’s coming to humanity. The kontakion sings of the reversal of Babel as God unites the nations into the unity of his Spirit. The troparion proclaims the gathering of the whole universe into God’s net through the work of the inspired apostles. The hymns ‘O Heavenly King’ and ‘We have seen the True Light’ are sung for the first time since Easter, calling the Holy Spirit to “come and abide in us”, and proclaiming that “we have received the heavenly Spirit”. The church building is decorated with flowers to show that God’s divine Breath comes to renew all creation as the “life-creating Spirit”. The word for Spirit, breath and wind in Hebrew is ruah.

Blessed are You, O Christ our God, who has revealed the fishermen as most wise by sending down upon them the Holy Spirit: through them You did draw the world into Your net. O Lover of Humanity, Glory to You (Troparion).

When the Most High came down and confused the tongues, He divided the nations. But when He distributed the tongues of fire, He called all to unity. Therefore, with one voice, we glorify the All-Holy Spirit! (Kontakion)

The Great Vespers of Pentecost evening features three long prayers at which the faithful kneel for the first time since Easter. The Monday after Pentecost is the feast of the Holy Spirit in the Orthodox Church, and the Sunday after Pentecost is the feast of All Saints. This is the logical liturgical sequence since the coming of the Holy Spirit is fulfilled in the faithful by their becoming saints, and this is the very purpose of the creation and salvation of the world. “Thus says the Lord: Consecrate yourselves therefore, and be holy, for I your God am holy” (Leviticus 11:44-45; I Peter 1:15-16).

This article is translated into French here.

The Transfiguration (Metamorphoses) of our Saviour

By His Grace Bishop Joseph of Arianzos

From the 6th to the 15th of August, for eight consecutive days, the Church celebrates the Transfiguration of our Lord Jesus Christ.

A little while before His voluntary Immaculate Passion and His death on the Cross, Christ isolated Himself for prayer on top of a hill (a mountain, as it is given geographically in Palestine), which is known by the name Tabor. With Him were present His three exceptionally loved and trustworthy Disciples, namely Peter, James and John.

If we are to accept the opinion of Eusebious of Caesaria, which Saint Nikodemus the Hagiorites also agrees with, as well as other Holy Fathers of the Church, this event must have taken place forty days before His Passion. However, the exact number of days, for us, is not of great significance. What is important is the reality of the event itself.

“And while He was praying, the appearance of His countenance was altered” writes the Evangelist Luke “and His raiment became dazzling white”(Luke 9:29). According to Matthew and stated more explicitly: “And He was transfigured before them and His face shone like the sun, and His garments became white as light” (Matthew 17:2). Likewise appeared, in front of the eyes of the Disciples, Moses and Elijah, who were conversing with Jesus, they were overshadowed by a bright mist, a luminous cloud. And from this mist, a voice was heard, which said: “This is my beloved Son, with Whom I am well pleased! Listen to Him!”

This event constitutes a triple divine revelation, when the identity of Jesus is revealed to the Apostles. That is not only the strange change in His appearance and the inundation of light which emanated from His face, but the witnessing of the voice of the Father and the presence of the two most holy people from the “other side”, that is, Moses and Elijah are confirming without a margin of doubt that Jesus is not just a simple person, or a wise teacher, a virtuous reformer of some new-wave of life-style, a charismatic miracle-worker, or even, a Prophet or a Saint, but He is the Son and the Word of the Living God! True God from True God! light from light! The true and eternal light, which illuminates and sanctifies “every person who comes into the world”. It is revealed in a triumphant way that He who lived with them for a whole three years and asked: “who the people say that I am?” (Matthew 16:13); the One Who treated them as friends and brothers, Who in a short while will be driven to the awesome Golgotha, the (place of a skull), where He will be crucified and die; and the One Who was buried in a stranger’s tomb, like a common mortal, a foreigner, rejected by the people, even as one of the departed! He who will appear insignificant and weak, without “stately or comeliness”. He is the One True God, the only worthy of worship, Adonijah, the Lord, Elohim, Jehovah – as some may prefer!… Thus, when they will see Him on the Cross, suffering and dying, according to His second nature, the human one, this should not cause them to be scandalised and loose their faith, but to comprehend that His Passion and His death were voluntary, a further emptying of Himself, an overflow of His love for Man and his salvation. Furthermore, to preach to the entire world that He, truly He, the One Crucified, Buried and Resurrected, Jesus Whom they saw and acquainted themselves with, in His company, heard and felt with their hands, is the reflection of the glory of the Father which so beautifully the Kontakion (hymn) of the celebrated day underlines:

“You were transfigured on the mount, and Your Disciples, so far as they were able, beheld Your glory, O Christ our God; so that, when they should see You crucified, they should remember that Your suffering was voluntary, and could declare to all the world that You are truly the effulgent Splendour of the Father”!

Hence, the Transfiguration of Christ is a revelation of His divine identity and certainly within the limits which the Apostles could uphold “so far as they were able”. It is impossible for someone to see God in all His glory and grandeur, and to survive!… The dazzle, the surprise, the awe and the excessive joy – if one is purified, like Peter, James or John and all the Saints throughout the ages – or the sadness, if he is unclean and unrepented – like the majority of us, will destroy him. It will yield to him apoplexy!… This is why the All-Merciful God suitably organises the things and reveals only a portion of His light, of His magnificence and of His glory, as much as His Disciples can endure!… Then again, as He reinforces them spiritually, in an exceptional manner, transforming their inner-self and not allowing them to remain in their usual state, that of a weak everyday human!…

Furthermore, the Transfiguration of our Saviour is a revelation of the Mystery of the Holy Trinity; The Son and Word of the Father is present bodily on Tabor, as the God-Man Jesus Christ. The Father is heard to be saying: “This is my beloved Son, with Whom I am we// pleased”. The Holy Spirit appears in a paradoxical form of a bright mist. A bright cloud is an oxymoron! However, the Comforter makes His presence perceivable in a “holy-paradoxical” and most “God-properly” manner, above and beyond every “logical” or “normally occurring” event!…

This truth is expressed marvellously in the most theological “Exaposteilarion” hymn of the Matins of the celebrated day: “O You Word, untransformable Light, the Light the unborn Father, by Your light which has shown today on Tabor, we have seen the Father’s light and the Spirit’s light, lighting the whole creation”.

In the Byzantine iconography, I mean the Orthodox iconography, the icon of the Transfiguration of Christ clearly expresses this revelation of the Mystery of the Holy Trinity. Christ appears on Tabor in two successive bright figures, “glories” – as they are called. An oval or circle, which symbolises the bright mist, and another shape in a form of a rhombus or something like an isosceles triangle with rays emanating from its base, depicting symbolically the voice of the Father. Therefore, the holy icon of the Transfiguration is for us, the Orthodox, simultaneously an icon of the Most-Holy Trinity!

The Transfiguration of our Saviour reveals something more! It reveals what is to become of us, the faithful, provided of course we love Him sincerely and keep all His commandments and proceed in accordance with His divine wishes, and labour with honour His orders of deliverance, enforcing His Bible unadulterated, and living the life of the Church in purity, and correct worship in communion with all the Saints, equally with those of the “Triumphant”, and those in the “Militant” Church, who constitute the non-deceived teachers and leaders of those wishing salvation.

The divine alteration that occurred to the three Disciples on Tabor during the time of the Transfiguration of the lord will happen to us too and we will be worthy to become “God-viewers”, like them and all the Saints of the ages. The light which they received from the strange and the not-created light of His Godliness not only to their human eyes but throughout their whole body and soul, as far as the depths of their existence, which made them lighted and “God-similars”, we will also receive!

That unspeakable joy which was foretasted, and made the always enthusiastic Peter to say: “Lord, it is good for us to be here; if You wish, we will make three booths here, one for You and one for Moses and one for Elijah.” (Matthew 17:4). let us stay here, he wanted to say, forever on Tabor, never to descend to the daily routine of contemporary reality and the earthly afflictions!… This God-given joy, the only true and inalienable joy, will also come to us… The eternal beatitude which Moses and Elijah enjoyed and erected to the right and left of the God-Man, will be granted to us too…We will become “communicants of the Divine Nature” (2 Peter 1:4) and partakers of the eternal life… Saints from the sole Saint!… Righteous from the only Righteous One and lights from the only true Light!… Small gods, by the Grace of God, and not because of our worthiness!… Gods with a lowercase initial ‘g‘, from the Only God, the Great, the only One worthy to be written with a capital initial ‘G‘!… The beginningless Father, the equally beginningless Son and the co-eternal All-Holy Spirit!

The certification and credibility of that field are our Saints, the ones to whom this already has occurred. They have already achieved Theosis (Deification) and shine as luminaries into the spiritual firmament of the Church, radiating the light of the knowledge of God and the true Theology. Our Saints with the miracles they perform are partakers of the Divine Grace and communicants of God, and through their holy relics, which are full of the Divine Grace and allow us to keep them as a priceless treasure and venerate them feeling their inexpressible fragrance which they give forth!… We see how these holy relics cure the ill and cast away the unclean spirits which are visible samples of unification with God, thus giving a truthful witnesses that “those who have excelled and peaked in virtues – like themselves – will obviously be worthy of the Godly glory”…!

Dormition (Keemeesis) of the Theotokos

Celebrated August 15

The dominions and the thrones, the rulers, the principalities and the powers, the cherubim and the fearful seraphim glorify thy Dominion (Vespers Sticheron, Tone 1).

The sacred Feast of the Dormition of the Theotokos marks her repose, which was followed by the translation of her sacred body three days later into heaven. This feast, therefore, marks her soul being commended into her Son’s hands and the short sojourn of her body in the tomb. Unlike the Resurrection of Christ, the mysterious character of her death, burial, resurrection and ascension were not the subject of apostolic teachings, yet they were recorded by the tradition of the Holy Orthodox Church and writings of the Church Fathers.

The Dormition of the Theotokos took place while Apostle Thomas was preaching the gospel in India. The other Apostles had been caught up from various lands on the clouds of heaven, and were transported to Gethsemane, to the bier of the all-blessed Virgin. This was permitted by the will of God, so the faithful might be assured that the Mother of God was bodily assumed into heaven. For just as they were more greatly assured of the Resurrection of Christ, through the disbelief of Thomas, so did they learned of the bodily assumption into heaven of the all-pure Virgin Mary through the delay of Thomas.

On the third day after the burial St. Thomas was suddenly caught up in a cloud in India and transported to a place in the air above the tomb of the Virgin. From that vantage point, he beheld the translation of her body into the heavens, and cried out to her, “Whither goest thou, O all-holy one?” She removed her girdle and gave it to him saying, “Receive this, my friend.” And then she was gone.

He then descended to find the other disciples keeping watch over the sepulchre of the Theotokos. He sat down beside them, with the girdle in his hand, greatly saddened that he had not been there when she reposed, as had been the other Apostles. Hence, he said, “We are all disciples of the Master; we all preach the same thing; we are all servants of the one Lord, Jesus Christ. How, then, is it that ye were counted worthy to behold the repose of His Mother, and I was not? Am I not an Apostle? Can it be that God is not pleased with my preaching? I beseech you, my fellow disciples: open the tomb, that I also may look upon her remains, and embrace them, and bid her farewell!”

The Apostles took pity on St. Thomas and opened the tomb. All were aghast when they found it empty, not realizing that moments before she had been bodily transported to paradise to be the mediatress of Christians. All that remained were her burial clothes, which emitted a wonderful unearthly fragrance.

The Feast’s kontakion speaks of her as an unfailing hope and mediation, reminding us of her intercessory role in paradise. Neither the tomb nor death had power over the Theotokos, who is ever watchful in her prayers and in whose intercessions lies unfailing hope. For as the Mother of Life she has been translated unto life by Him Who dwelt in her ever-virgin womb.

KOLOSE 2:6-7

As you therefore have received Christ Jesus the Lord, so walk in Him, rooted and built up in Him and established in the faith, as you have been taught, abounding in it with thanksgiving.” (NKJV)

Menerima Kristus adalah fondasi hidup manusia. Anugerah Allah yaitu kasih Allah melalui Kristus yang mati di atas kayu salib, dikubur dan bangkit dari kematian telah dan sedang dicurahkan oleh Roh Kudus di sepanjang segala zaman. Anugerah Allah perlu diresponi oleh iman/percaya kita dan baptisan sehingga kita lahir menjadi manusia baru atau anak-anak Allah. Anak-anak Allah ini masih harus bertumbuh dewasa di dalam Kristus sampai kita menjadi serupa Kristus.

Bertumbuh dewasa di dalam Kristus adalah proses kita mengerjakan keselamatan atau proses pemurnian jiwa dan tubuh kita yang semakin menghasilkan kekudusan (penyucian) dan kasih. Pertumbuhan atau purifikasi ini dikerjakan di atas fondasi Kristus atau menerima Kristus tadi. Proses pertumbuhan ini yang disebut berakar di dalam Kristus dan dibangun di atas Dia.

Berakar di dalam Kristus berarti pertobatan sehari-hari dari dosa dan kelemahan kita. Pertobatan itu ibarat biji atau benih yang ditabur di dalam tanah lalu biji itu harus mati supaya biji itu bisa berubah jadi akar dan bertumbuh ke atas. Pertobatan berarti mematikan terus menerus manusia lama atau manusia daging kita melalui penyaliban. Penyaliban nafsu atau passion supaya nafsu itu dimatikan, tidak dibuahi menjadi dosa-dosa. Itulah artinya kita berakar dan Kristus menjadi tanah yang subur. Kristus menyalurkan zat-zat yang dibutuhkan bagi kita supaya kita bisa berakar atau bertobat. Tanpa Kristus tidak mungkin kita bisa berakar sebab Kristus adalah tanah atau zat yang dibutuhkan bagi benih. Kita bersinergi dengan Kristus sehingga kita memperoleh kekuatan atau energi atau anugerah untuk mengalahkan nafsu baik yang bisa timbul dari dalam jiwa dan tubuh kita.

Untuk menjadi dewasa dan serupa Kristus selain berakar kita juga dibangun di atas Kristus. Dibangun berarti disusun atau tertata rapi dan kuat atau kokoh. Semakin kita berakar maka akan semakin kokoh terbangun. Bangunan yang kuat karena akar yang kuat. Pertobatan mendatangkan bangunan yang kokoh. Semakin kita dibangun maka semakin kita berakar. Ini adalah hubungan mutualisme antara berakar dan dibangun. Bukan dikotomi tetapi saling melengkapi.

Dibangun ibarat seperti kita sedang menyusun batu bata kita dan memberi semen supaya jadi rekat dan kokoh. Tersusun rapi dan kokoh adalah bangunan kita. Kehidupan spiritual kita harus tersusun rapi dan kokoh. Batu bata- batu bata yang kita miliki harus tersusun rapi dan diberi perekat. Ini adalah latihan rohani atau askesis. Kerapian rohani supaya semakin hari semakin terbangun dan menjadi serupa Kristus. Ibarat menyusun kepingan-kepingan puzzle maka semakin akan terlihat gambar puzzle itu. Gambar puzzle kita adalah gambar Kristus. Kuncinya adalah disiplin atau askesis dalam menata atau menyusun batu bata kita atau kepingan puzzle.

Disiplin rohani harus sengaja dikerjakan setiap hari bukan kadang kala. Doa, pertobatan, nepsis, lectionary atau bacaan Alkitab harian, membaca kisah hidup orang kudus adalah disiplin rohani harian.

Doa atau sembahyang bisa dimulai sesuai waktu sembahyang (Kis 3:1) dari doa pagi atau subuh (matin), doa pada jam 6 pagi, 9 pagi, 12 siang, 3 sore, doa petang (vesper), doa sebelum tidur (compline), dan doa tengah malam. Jam-jam sembahyang bisa kita jalani dengan disiplin seperti yang dipraktikkan oleh Yesus dan para Rasul.

The Heart/Kardia

The Heart

Ribala Erniwati Gulo

Juni 2019

Bab I

Pendahuluan

Dalam Paper ini saya membahas tentang hati manusia, di mana di dalam hati manusia timbul segala pikiran yang merencanakan segala sesuatu. Hati merupakan sesuatu hal yang sangat sulit untuk di tebak karena ia merupakan sesuatu yang tersembunyi. Setiap orang tidak dapat melihat isi hati sesamanya tetapi yang di lihat adalah isi hatinya sendiri, baik busuknya isi hatinya yang tahu cuman diri sendiri. Menebak isi hati seseorang sesuatu hal yang tidak masuk akal tetapi yang kita tahu adalah apa yang keluar dari mulutnya, itulah yang bisa kita mengerti. Di dalam hati kita bertemu dengan Allah melalui hati yang murni dan suci. Setiap orang beranggapan yang lain tentang hati manusia, dalam hal ini maka saya membahas tentang hati ini untuk membantu kita dalam mengerti dan memahami tentang hati.

Bab II

The Heart

Bicara secara fisik yang di maksud dengan hati adalah jantung di mana jantung adalah organ pusat tubuh manusai. Organ ini berfungsi untuk mengedarkan darah ke seluruh sistem tubuh, memompa oksigen dan mengeluarkan racun. Jika jantung berhenti berdetak untuk selamanya maka kehidupan di dalam tubuhpun berakhir. Jantung atau hati merupakan pusat diri kita sebagai makhluk rohani. Alkitab mengatakan dalam 1 Tes 5:23  : “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita” Manusia adalah makhluk roh yang memiliki jiwa dan hidup di dalam tubuh jasmani. Hati adalah tempat moral manusia yang terdiri dari pikiran, kehendak dan emosi.

Hati adalah salah satu pemberian Allah yang paling besar kepada manusia. Jika hati benar dihadapan Allah, maka dia dipenuhi oleh terang. Jika hatinya jahat maka dia akan mengalami kegelapan. St. Macarios of Egypt menjelaskan, “The heart governs the whole body and when God’s grace possesses the heart, then it reigns over all thoughts. This is so because the heart is the place where the mind and the thoughts are found” (Jantung mengatur seluruh tubuh dan ketika rahmat Tuhan memiliki hati, maka itu memerintah atas semua pikiran. Ini karena hati adalah tempat di mana pikiran dan pikiran ditemukan).[1]

Hati di gunakan secara luas sebagai kiasan dari perasaan, kehendak dan intelek. Hati mengacu pada batinia manusai (inti dari diri kita) termasuk perasaan, hasrat kehendak dan intelek. Hati kita adalah diri kita yang sesungguhnya dan ini adalah katalis bagi hasrat, motivasi, maksud dan tindakan kita. Hasrat adalah suatu keinginan yang kuat dalam arti keinginan akan sesuatu atau untuk melakukan sesuatu. Motivasi adalah sesuatu yang menyebabkan seseorang bertindak sedangkan maksud adalah hal yang kita rencanakan atau suatu sasaran atau tujuan.

St. Maximus menjelaskan seperti ini, “The mind’s aim is to have knowledge of God.  The sensation’s aim is to desire and love God, and the volition’s aim is the will to do what God commands” (“Tujuan pikiran adalah untuk memiliki pengetahuan tentang Tuhan. Tujuan sensasinya adalah untuk menginginkan dan mencintai Tuhan, dan tujuan kehendak adalah kemauan untuk melakukan apa yang diperintahkan Tuhan“). Itulah sebabnya hati lebih besar ketimbang nous karena di dalamnya ada hati itu sendiri dan kehendak bebas untuk memilih menaati atau melawan Allah[2]

St. Nicodemos of the Holy Mountain menjelaskan lebih lanjut: “We must therefore keep in mind that as the center of a wagon wheel has a certain number of spokes going out to the circumference of the circle and returning to the center where they meet, so also is the heart of man like a center where all the senses, all the powers of the body, and all the activities of the soul are united” (“Karena itu kita harus ingat bahwa sebagai pusat roda gerobak memiliki sejumlah jari-jari keluar ke keliling lingkaran dan kembali ke pusat tempat mereka bertemu, jadi juga hati manusia seperti pusat di mana semua indera, semua kekuatan tubuh, dan semua aktivitas jiwa dipersatukan“)[3]

Archimandrite Spyridon Logothetis menjelaskan, “Every man has two hearts.  One is the body’s heart.  The other is the soul’s heart.  The good or bad condition of both of our hearts is very important.  If something happens to either one, then we have heart problems and our life is in danger, whether it is the life of our body or the life of our soul” (“Setiap orang memiliki dua hati. Yang satu adalah hati tubuh. Yang lain adalah hati jiwa. Kondisi baik atau buruk dari kedua hati kita sangat penting. Jika sesuatu terjadi pada salah satu dari keduanya, maka kita memiliki hati masalah dan hidup kita dalam bahaya, apakah itu kehidupan tubuh kita atau kehidupan jiwa kita)”[4]

Hati adalah inti atau identitas dari manusia dan ini merupakan bagian yang paling rumit, kudus dan intim dari seseorang atau dasar dari seluruh diri dan karakternya. kondisi hati kita akan menjadi kondisi hidup kita. Keadaan hati rohani kita memengaruhi semua aspek kehidupan sehari-hari kita. Setiap persoalan rohani, mental dan emosi dan banyak hal lainnya itu berakar dari dalam hati kita atau berasal dari hati kita.

kita tahu bahwa di dalam hati kita masih banyak hal yang tidak baik yang tidak berkenan kepada Allah atau perbuatan jahat. Jadi dalam hal ini kita perlu membersihkan hati kita supaya hati kita sehat dalam Yer 17:9 “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Meskipun hati kita adalah pusat diri kita tetapi masih banyak orang yang belum mengerti tentang fungsi hati. Yesus datang kedunia bukan hanya untuk menyingkapkan Allah Bapa kepada kita tetapi Dia juga menyingkapkan diri kita kepada kita. Yesus ingin supaya kita mengerti sifat hati kita dan bagaimana memengaruhi hubungan kita dengan Bapa dan manusai lainnya di seluruh jalan kehidupan kita.    

Ketika kita menerima pengampunan dan di damaikan dengan Allah melalui pengorbanan Yesus di atas kayu salib kita harus fokus pada persoalan hati kita dan hukum-hukum rohani dalam Ibr 8:10 mengatakan : “Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu,” demikianlah firman Tuhan. “Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku”. Sehingga kita tahu kepenuhan hidup yang Ia inginkan bagi kita. Persoalan yang ada di dalam hati kita seringkali menghambat kita dalam mengatasi berbagai masalah dan penghalang dalam hidup kita. Allah ingin kita mengalami tranformasi hati yang akan memulihkan kita.

Alkitab mendorong kita untuk memilih gaya hidup hati rohani yang sehat. Hati manusia mencerminkan siapa dirinya karena apa yang di ucapkan mulut meluap dari hati dalam Mat 12:34. Sama seperti perbendarahaan yang baik dan perbendarahaan yang jahat dalam Luk 6:45 di mana apa yang ada di dalam hati akan meluap keluar. Perbendarahaan yang baik penuh dengan kebaikan, kerendahan hati, kemurnian, ketaatan, kebenaran, dan kekuatan rohani sedangkan perbendarahaan yang jahat tidak mempercayai Allah, mudah terluka, tersinggung, tidak mau mengampuni, tidak taat, angkuh dan lain sebagainya. Dalam hal ini pernahkan kita berpikir perbendarahaan apa yang tersimpan di dalam hati kita karena Yesus sendiri berkata: di mana hartamu berada di situ hatimu berada dalam Mat 6:21.

Ternyata kata-kata yang kita ucapkan termasuk cara-cara kita mengekspresikan diri dan berkomunikasi dengan orang lain. Demikian juga tindakan apapun yang kita ambil baik itu jahat maupun baik berasal dari suatu motivasi dan maksud hati kita. Ini berarti bahwa semua perbuatan salah di kandung di dalam hati terlebih dahulu. Yesus berkata sebab dari dalam hati timbul segala pikiran jahat ……. dalam Mar 7:21-23: “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang”. Jadi apa yang ada di dalam hati kita akan selalu meluap keluar.

Kita bisa meresponi kasih Allah di dalam diri kita Yoh 4:19 baru kita bisa berhubungan dengan Allah tetapi jika kita tidak mau mengubahkan hati kita maka kita tidak bisa. ?? kenapa kita tidak bisa? karena jika kita tidak mempunyai kasih dan kasih itulah yang memampukan kita untuk melakukannya. Allah siap mengubah hati kita menjadi sama seperti hati-Nya melalui transformasi supernatural.

Hati kita adalah kunci menunju jiwa, pikiran dan kekuatan kita. Allah ingin kita nerserah kepada-Nya dan berkerja sama secara aktif dalam memproses tranformasi hati kita. Transformasi itu di mulai dari lahir baru Yoh 3:3-7 dan berkembang di sepenjang hidup kita saat kita setiap hari bertimbuh menjadi semakin serupa dengan Bapa sorgawi.

Kita perlu memantau hati kita atau mengawasi hati kita (memerhatikan, mengamati, memeriksa) karena di dalam hati kita timbul segala keinginan daging. Mengawasi hati kita sesuatu hal yang harus kita lakukan dengan rela, dan selalu bersama dengan Roh Allah di dalam kita, dengan tujuan menjadi sama seperti Bapa. Hati manusia tidak ada seorangpun yang dapat melihatnya tanpa Allah Yer 17:10.

Allah mengenal kita sepenuhnya. oleh karena itu jika kita menyadari akan adanya masala dalam hati kita entah kesadaran itu datang lewat membaca dan mempelajari Firman Tuhan atau dorongan langsung dari keyakinan Roh Kudus kita harus memerhatikannya supaya kita bisa menjalani hidup yang penuh sukacita dan produktif di hadapan Allah dan menjaga hubungan yang dekat dengannya. Hanya ketika kita sehat rohani maka kita bisa waspada dan siap respon kegerakkan Roh Allah dalam hidup kita dan Gereja-Nya.

Di dalam Hati manusia terdapat 3 kemampuan yang dirancang Allah yaitu untuk mengenal Allah dengan Nous dan dengan Nous inilah kita mengasihi dan rindu pada Allah dengan Hati itu sendiri dan memilih secara bebas untuk mengikuti Allah dengan Kehendak atau Kemauan. St. Maximus the Confessor menyatakan tentang hati dengan ungkapan begini, “Tujuan dari Nous adalah untuk memiliki pengetahuan akan Allah. Tujuan perasaan-batin adalah untuk merindukan dan mengasihi Allah, dan tujuan kehendak adalah kemauan untuk melakukan apa yang diperintahkan Allah”.

Hati tempat tinggalnya Nous kita Gregory Palamas : No one has ever supposed that the mind resides in the finger-nails or the eye-lashes, the nostrils or the lips. But we all agree that it resides within us, even though we may not all agree as to which of our inner organs it chiefly makes use of. For some locate it in the head, as though in a sort of acropolis; others consider that its vehicle is the centermost part of the heart, that aspect of the heart that has been purified…. We know very well that our intelligence is neither within us as in a container… — nor yet outside us, for it is united to us; but it is located in the heart as in its own organ. And we know this because we are taught it not by men but by the Creator of man Himself when He says, “It is not that which goes into man’s mouth that defiles him, but what comes out of it” (Matt. 15:11), adding, “for thoughts come out of the heart” (Matt. 15:19). St. Makarios the Great says the same: “The heart rules over the whole human organism, and when grace takes possession of the pastures of the heart, it reigns over all a man’s thoughts and members. For the intellect and all the thoughts of the soul are located there.” Our heart is, therefore, the shrine of the intelligence and the chief intellectual organ of the body. When, therefore, we strive to scrutinize and to amend our intelligence through rigorous watchfulness, how could we do this if we did not collect our intellect, outwardly dispersed through the senses, and bring it back within ourselves—back to the heart itself, the shrine of the thoughts? It is for this reason that St. Makarios—rightly called blessed—directly after what he says above, adds: “So it is there that we must look to see whether grace has inscribed the laws of the Spirit.” Where? In the ruling organ, in the throne of grace, where the intellect and all the thoughts of the soul reside, that is to say, in the heart. Do you see, then, how greatly necessary it is for those who have chosen a life of self-attentiveness and stillness to bring their intellect back and to enclose it within their body, and particularly within that innermost body within the body that we call the heart? (Tidak ada yang pernah mengira bahwa pikiran berada di kuku jari atau bulu mata, lubang hidung atau bibir. Tetapi kita semua sepakat bahwa itu ada di dalam diri kita, meskipun kita mungkin tidak semua setuju dengan organ dalam mana yang terutama digunakan. Untuk beberapa orang menemukannya di kepala, seolah-olah di semacam akropolis; yang lain menganggap bahwa kendaraannya adalah bagian paling tengah dari hati, aspek hati yang telah dimurnikan…. Kita tahu betul bahwa kecerdasan kita tidak ada di dalam diri kita seperti dalam wadah … – juga belum di luar kita, karena itu disatukan dengan kita; tetapi terletak di jantung seperti di organnya sendiri. Dan kita tahu ini karena kita diajarkan bukan oleh manusia tetapi oleh Pencipta manusia itu sendiri ketika Dia berkata, “Bukan apa yang masuk ke dalam mulut manusia yang mencemarkan dia, tetapi apa yang keluar darinya” (Mat. 15:11 ), menambahkan, “karena pikiran keluar dari hati” (Mat. 15:19). St Makarios the Great mengatakan hal yang sama: “Jantung mengatur seluruh organisme manusia, dan ketika kasih karunia menguasai padang rumput hati, itu menguasai semua pikiran dan anggota manusia. Karena kecerdasan dan semua pikiran jiwa berada di sana. ”Karena itu, hati kita adalah tempat suci kecerdasan dan organ intelektual utama tubuh. Oleh karena itu, ketika kita berusaha untuk meneliti dan mengubah kecerdasan kita melalui pengawasan yang ketat, bagaimana kita dapat melakukan ini jika kita tidak mengumpulkan kecerdasan kita, tersebar ke luar melalui indra, dan membawanya kembali ke dalam diri kita sendiri — kembali ke hati itu sendiri, kuil pikiran? Karena alasan inilah St. Makarios — yang disebut benar diberkati — langsung setelah apa yang dikatakannya di atas, menambahkan: “Jadi di sanalah kita harus melihat apakah rahmat telah menuliskan hukum-hukum Roh.” Di mana? Dalam organ yang berkuasa, di takhta kasih karunia, di mana kecerdasan dan semua pikiran jiwa berada, yaitu, di dalam hati. Jadi, tahukah Anda, betapa perlunya bagi mereka yang telah memilih kehidupan yang penuh perhatian dan keheningan untuk mengembalikan kecerdasan mereka dan melampirkannya di dalam tubuh mereka, dan khususnya di dalam tubuh terdalam di dalam tubuh yang kita sebut jantung? Dalam hal ini ternyata hati tempat tinggalnya Nous kita.

Nous dan hati menyatuh dalam doa St. Theophan menulis: You must descend with your mind into your heart. At present your thoughts of God are in your head. And God Himself is, as it were, outside you, and so your prayer and other spiritual exercises remain exterior. Whilst you are still in your head, thoughts will…always be whirling about like snow in winter, or clouds of mosquitoes in the summer…. All our inner disorder is due to the dislocation of our powers, the mind and the heart each going its own way. The mind must come to an initial concord with the heart, growing eventually into a union of the mind with the heart. (“Anda harus turun dengan pikiran Anda ke dalam hati Anda. Saat ini pikiran Anda tentang Tuhan ada di kepala Anda. Dan Tuhan Sendiri, seolah-olah, berada di luar Anda, dan dengan demikian doa dan latihan rohani Anda tetap ada di luar. Sementara Anda masih berada di kepala Anda, pikiran akan … selalu berputar seperti salju di musim dingin, atau awan nyamuk di musim panas …. Semua gangguan batin kita disebabkan oleh dislokasi kekuatan kita, pikiran dan hati masing-masing berjalan dengan caranya sendiri. Pikiran harus mencapai kesepakatan awal dengan hati, yang pada akhirnya tumbuh menjadi penyatuan pikiran dengan hati”).

You must pray not only with words but with the mind, and not only with the mind but with the heart, so that the mind understands and sees-clearly what is said in words, and the heart feels what the mind is thinking. All these combined together constitute real prayer, and if any of them are absent, your prayer is either not perfect, or it is not prayer at all. (“Anda harus berdoa tidak hanya dengan kata-kata tetapi dengan pikiran, dan tidak hanya dengan pikiran tetapi dengan hati, sehingga pikiran memahami dan melihat dengan jelas apa yang dikatakan dalam kata-kata, dan hati merasakan apa yang dipikirkan oleh pikiran. Semua ini digabungkan bersama-sama membentuk doa yang nyata, dan jika salah satu dari mereka tidak ada, doa Anda tidak sempurna, atau sama sekali bukan doa”).

Bishop Kallistos Ware menulis :  So long as the ascetic prays with the mind in the head, he will still be working solely with the resources of the human intellect, and on this level he will never attain to an immediate and personal encounter with God. By the use of his brain, he will at best know about God, but he will not know God. For there can be no direct knowledge of God without an exceedingly great love, and such love must come, not from the brain alone, but from the whole man—that is, from the heart. It is necessary, then, for the ascetic to descend from the head into the heart. He is not required to abandon his intellectual powers—reason, too, is a gift of God— but he is called to descend with the mind into his heart”.(” Selama pertapa berdoa dengan pikiran di kepala, ia masih akan bekerja hanya dengan sumber daya intelek manusia, dan pada tingkat ini ia tidak akan pernah mencapai pertemuan langsung dan pribadi dengan Tuhan. Dengan menggunakan otaknya, dia akan tahu tentang Tuhan, tetapi dia tidak akan mengenal Tuhan. Karena tidak mungkin ada pengetahuan langsung tentang Tuhan tanpa cinta yang sangat besar, dan cinta seperti itu harus datang, bukan dari otak saja, tetapi dari keseluruhan manusia — yaitu, dari hati. Maka, penting bagi petapa untuk turun dari kepala ke dalam hati. Dia tidak diharuskan untuk meninggalkan kekuatan intelektualnya — akal juga merupakan anugerah Tuhan — tetapi dia dipanggil untuk turun dengan pikiran ke dalam hatinya”).

Coniaris juga menulis : The head seeks God but it is the heart that finds Him. “For man believes in his heart and so is justified…” writes St. Paul (Romans 10:10). When the head descends into the heart, the “head” faith becomes a “heart” faith. It becomes not just a “head” faith or just a “heart” faith but a “head-in-the-heart” faith. Just as love, charity and the other important virtues cannot exist only in the mind but are primarily of the heart, so it is with our faith and trust in God. We are not to let Jesus remain in the mind and give Him only a cold intellectual allegiance. He must descend into the heart where we shall be able to feel His presence, yield our will to Him, and love Him with all our mind and heart.” (“Kepala mencari Tuhan tetapi hatilah yang menemukan Dia. “Karena manusia percaya kepada hatinya dan karena itu dibenarkan …” tulis Santo Paulus (Roma 10:10). Ketika kepala turun ke dalam hati, iman “kepala” menjadi iman “hati”. Itu menjadi bukan hanya iman “kepala” atau hanya iman “hati” tetapi juga iman “kepala-dalam-hati”. Sama seperti cinta, kasih amal, dan kebajikan-kebajikan penting lainnya tidak hanya ada dalam pikiran tetapi terutama dari hati, demikian pula dengan iman dan kepercayaan kita kepada Tuhan. Kita tidak harus membiarkan Yesus tetap di dalam pikiran dan hanya memberikan kesetiaan intelektual yang dingin kepada-Nya. Dia harus turun ke dalam hati di mana kita akan dapat merasakan kehadiran-Nya, menyerahkan kehendak kita kepada-Nya, dan mengasihi Dia dengan segenap akal budi dan hati kita.

Cara menyatuhkan Nous dengan Hati melalui doa puja Yesus Coniaris menuliskan : “The Fathers of the Philokalia urge us to lead the mind from the head into the heart by praying the Jesus Prayer, “Lord Jesus, Son of God, have mercy on me.”  In praying the Jesus. (“Para ayah Philokalia mendesak kita untuk mengarahkan pikiran dari kepala ke dalam hati dengan berdoa Doa Yesus,” Tuhan Yesus, Anak Allah, kasihanilah aku. ” Dalam berdoa Yesus”)

 Prayer, St. Nikiphoros recommends that the intellect (nous) descend by way of the Jesus Prayer into the heart so that the mind and the heart are united.  He describes the effect of this as “a sense of joyful homecoming like that of a man long absent from abroad, who cannot restrain his gladness at once more meeting his wife and children.”  Thus, St. Theophan the Recluse admonishes, “Make yourself a rule always to be with the Lord, keeping your mind in your heart, and do not let your thoughts wander; as often as they stray, turn them back again and keep them at home in the closet of your heart, and delight in converse with the Lord.” And we do this by praying the Jesus Prayer. Once the mind descends into the heart, the mindheart becomes illuminated and empowered by the flame of the Holy Spirit.  If the nous, which is the lamp of the body is good, pure and Christ-centered, the whole body will be full of light.” (“Doa, St Nikiphoros merekomendasikan agar kecerdasan (nous) turun melalui Doa Yesus ke dalam hati sehingga pikiran dan hati dipersatukan. Dia menggambarkan efek dari ini sebagai “rasa kepulangan yang menggembirakan seperti perasaan seorang pria yang sudah lama absen dari luar negeri, yang tidak dapat menahan kegembiraannya sekali lagi bertemu dengan istri dan anak-anaknya.” Demikianlah, St Theophan sang Petapa memperingatkan, “Buatlah dirimu sendiri sebuah aturan yang selalu ada bersama Tuhan, menjaga pikiran Anda di dalam hati Anda, dan jangan biarkan pikiran Anda berkelana; sesering mereka menyimpang, balikkan itu kembali dan simpan di rumah di lemari hati Anda, dan senang berkomunikasi dengan Tuhan. ” Dan kami melakukan ini dengan berdoa Doa Yesus. Begitu pikiran turun ke dalam hati, hati menjadi diterangi dan diberdayakan oleh nyala Roh Kudus. Jika nous, yang merupakan pelita tubuh baik, murni dan berpusat pada Kristus, seluruh tubuh akan penuh dengan cahaya”). [5]

Nous merupakan intelek yang sadar sedangkan hati merupakan alam bawah sadar. Coniaris menyatakan: “The heart may be compared to the unconscious that plays an important role in contemporary psychiatry and psychology. In the heart, or the unconscious, are buried all the things we ever did (now forgotten) as well as all the passions we have inherited.  Jesus spoke specifically to this truth when He said, “Out of the heart”, the unconscious, “proceed evil thoughts, adulteries, murders….the things which defile a person” (Mark 7:21-23). Yet out of the same unconscious mind, buried in the heart, we have also inherited many good things as well, such as the voice of conscience, the knowledge of God, a sense of right and wrong, etc” Nous dan heart seringkali bertentangan seperti yang dialami oleh Rasul Paulus di dalam Roma 7:22-25. Coniaris menjelaskan, “A problem arises when the thoughts of the conscious mind are at odds with the desires of the heart, the unconscious.  As St. Paul so well expressed it in Romans 7:22-25, when the conscious mind wants to obey God, and the heart objects, a great struggle takes place between the mind and the heart, the conscious and the unconscious.  In this struggle St. Paul describes from personal experience how the thoughts of the heart, i.e., the passions are stronger than the thoughts of the conscious mind to the point where they overrule them”. (“Hati dapat dibandingkan dengan ketidaksadaran yang memainkan peran penting dalam psikiatri dan psikologi kontemporer. Dalam hati, atau tidak sadar, dikubur semua hal yang pernah kita lakukan (sekarang dilupakan) serta semua gairah hidup yang kita miliki. telah mewarisi. Yesus berbicara secara khusus kepada kebenaran ini ketika Dia berkata, “Dari hati”, tidak sadar, “lanjutkan pikiran jahat, perzinahan, pembunuhan …. hal-hal yang menajiskan seseorang” (Markus 7: 21-23). keluar dari pikiran bawah sadar yang sama, terkubur di dalam hati, kami juga mewarisi banyak hal baik juga, seperti suara hati nurani, pengetahuan tentang Tuhan, rasa benar dan salah, dll. Dialami oleh Rasul Paulus di dalam Roma 7: 22-25. Coniaris menjelaskan, “Suatu masalah muncul ketika pikiran-pikiran pikiran sadar berselisih dengan keinginan-keinginan hati, alam bawah sadar. Seperti yang diungkapkan dengan sangat baik oleh St. Paulus dalam Roma 7: 22-25, ketika pikiran sadar ingin mematuhi Tuhan, dan hati menolak, pergulatan besar terjadi antara pikiran dan hati, sadar dan tidak sadar.Dalam pergulatan ini St Paulus menggambarkan dari pengalaman pribadi bagaimana pikiran-pikiran hati, yaitu, nafsu lebih kuat daripada pikiran pikiran sadar ke titik di mana mereka mengesampingkan mereka”).

Sebab itu, nous ini harus turun ke dalam hati untuk mengisi hati ini dengan anugerah Allah jika tidak hati ini akan diisi oleh godaan Iblis. Gregory Palamas menyatakan, “Thus when God’s grace does not dwell in man, then the demons make a nest at the bottom of man’s heart, like real snakes, and they never permit the heart of man to desire the good”. (“Jadi, ketika rahmat Tuhan tidak tinggal di dalam manusia, maka iblis membuat sarang di dasar hati manusia, seperti ular sungguhan, dan mereka tidak pernah membiarkan hati manusia untuk menginginkan yang baik“) [6]

Hati/kalbu yang oleh para Bapa Gereja sebut sebagai “ruang penerimaan akan Tuhan” dapat juga menjadi tempat tinggal atau wadah kejahatan dan dosa dalam Markus 7: 21-23 “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” Hati adalah alam bawah sadar yang biasa disebut oleh para dokter jiwa atau psikolog. Hati adalah tempat yang digambarkan begitu baik oleh Rasul Paulus ketika dia berbicara hukum daging di dalam dirinya yang melawan hukum akal budi atau Nous dalam Roma 7: 18-25 . Hukum akal budi adalah pengendali hukum dosa dan hukum Allah di dalam perangkat hati manusia. Nous terhubung dengan Allah di sebabkan karena Roh kudus. Hidup yang di pimpin oleh Roh kudus melakukan doa, nepsis, sehingga dengan melalui itu batin kita di penuhi pikiran kristus walaupun logismoi selalu datang untuk memberi godaan bagi kita tetapi karena kita di pimpin oleh Roh kudus maka kita bisa mengusir logismoi itu.

Hati atau kalbu yang sama yang dalamnya Allah mencurahkan kasih-Nya oleh Roh Kudus: “Karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita” (Roma 5: 5). Hati yang sama ini pula dapat menjadi tempat roh-roh jahat atau Iblis dalam Kisah Para Rasul 5: 3 “Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?”.

Dalam hati/kalbu terkubur segala sesuatu yang pernah kita lakukan (yang sekarang kita lupakan), maupun semua hawa nafsu yang telah kita warisi. Yesus secara khusus berbicara mengenai kebenaran ini ketika Dia mengatakan, “Sebab dari dalam hati orang yaitu dari alam bawah sadar, bukan pikiran yang sadar, timbul segala pikiran jahat, perjinahan, pembunuhan … semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang” dalam Markus 7: 21-23. Namun demikian, dari alam bawah sadar yang sama ini yang terkubur di dalam hati/kalbu kita juga telah mewarisi banyak hal yang baik misalnya suara hati nurani, rasa akan yang baik dan yang benar dalam Roma 2: 14-15 “Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela”. pengetahuan akan Allah dalam Roma 1:19 “arena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka”.

Philip Sherrad (seorang Orthodox, ahli filsafat dan penulis hal hal agama dan juga sebagai salah satu dari para penerjemah Philokalia ke dalam bahasa Inggris) mendefinisikan hati/kalbu sebagai berikut, “Sarana untuk menerima kasih karunia/rahmat Allah yaitu energi ilahi; tempat hadirat hidup Ilahi di mana kita berjumpa dengan Allah dan manunggal dengan Allah sehingga menjadi sosok yang terintegrasi (utuh dan bulat) dan transfigurasi (diubahmuliakan).” Ini adalah seni hidup rohani yaitu untuk menjadi sadar akan “harta karun yang terpendam di dalam hati,” untuk menjadi sadar akan hadirat Allah yang nyata namun tak dapat dipahami di dalam hati/kalbu, dan seni ini didayagunakan dengan mendorong akal budi yang bebas dari pemikiran-pemikiran atau khayalan-khayalan jahat yang berasal dari luar untuk “turun” ke dalam hati/kalbu dan dengan demikian menjadi sadar akan hadirat Ilahi yang tersembunyi di sana.

Jadi energi Ilahi sangat penting di dalam kehidupan kita karena ia merupakan saranan atau alat untuk menerima kasih Allah di dalam kehidupan kita. Di dalam hati juga kita berjumpa dengan Allah karena di hati itulah di curahkan energy Allah itu.  Dan di dalam energy Ilahi ini kata Philip Sherrad mendorong akal budi yang bebas dari pemikiran-pemikiran atau khayalan-khayalan jahat yang berasal dari luar.

St. Macarios menuliskan, ” Di dalam hati/kalbu ada satu kedalaman (Mazmur 64:7) yang tak dapat dibayangkan. Ada ruang resepsi dan kamar tidur di dalamnya, pintu-pintu dan jendela-jendela, serta banyak kantor-kantor dan jalan-jalan. Di dalamnya adalah lokakarya kehidupan benar dan juga kejahatan. Di dalamnya ada kematian, di dalamnya ada kehidupan … hati adalah istana Kristus. Di sana Kristus Sang Raja datang untuk beristirahat, dengan para malaikat dan roh para orang kudus, dan Dia tinggal di sana, berjalan di dalamnya serta menempatkan kerajaan-Nya di sana.”

Selain hati merupakan tempat energy ilahi di mana kita bisa berjumpa dengan Allah maka hati kita dan merupakan tempat Nous kita juga merupakan tempat Kristus bersemayang atau tinggal beristrahat dengan para malaikat dan orang-orang kudus.

Henry Nouwen menulis tentang hati, “From the heart arise unknowable impulses as well as conscious feelings, moods, and wishes. The heart, too, has its reasons and is the center of perception and understanding. Finally, the heart is the seat of the will: it makes plans and comes to good decisions. Thus, the heart is the central and unifying organ of our personal life. Our heart determines our personality and is therefore not only the place where God dwells but also the place to which Satan directs his fiercest attacks. It is this heart that is the place of prayer. The prayer of the heart is a prayer that directs itself to God from the center of the person and thus affects the whole of our humanness”. (“Dari hati timbul impuls yang tidak dapat diketahui serta perasaan, suasana hati, dan keinginan yang sadar. Jantung juga memiliki alasan dan merupakan pusat persepsi dan pemahaman. Akhirnya, jantung adalah pusat dari hati. akan: ia membuat rencana dan mengambil keputusan yang baik. Dengan demikian, hati adalah organ sentral dan pemersatu dari kehidupan pribadi kita. Hati kita menentukan kepribadian kita dan karena itu bukan hanya tempat di mana Allah tinggal tetapi juga tempat di mana Setan mengarahkannya. serangan yang paling sengit. Hati inilah yang menjadi tempat doa. Doa hati adalah doa yang mengarahkan diri kepada Allah dari pusat pribadi dan dengan demikian memengaruhi seluruh kemanusiaan kita”).(“The Way of the Heart.” Henri Nouwen. Seabury Press. NY. 1981. p. 77)

Inner Man St. Theophan menjelaskan hati sebagai berikut: “The heart is to be understood here, not in its ordinary meaning, but in the sense of “inner man”. We have within us an inner man, according to the Apostle Paul, or a hidden man of the heart, according to the Apostle Peter. It is the Godlike spirit that was breathed into the first man, and it remains with us continuously, even after the Fall. It shows itself in the fear of God, which is founded on the certainty of God’s existence, and in the awareness of our complete dependence on Him, in the stirrings of conscience and in our lack of contentment with all that is material.” (“Hati harus dipahami di sini, bukan dalam arti biasa, tetapi dalam arti” manusia batin “. Kita memiliki di dalam diri manusia batin, menurut Rasul Paulus, atau seorang pria yang tersembunyi di hati, menurut Rasul Petrus. Roh yang seperti Allah yang telah menghembuskan ke dalam manusia pertama, dan itu tetap bersama kita terus menerus, bahkan setelah Kejatuhan. Roh itu menunjukkan dirinya dalam ketakutan akan Allah, yang didirikan pada kepastian eksistensi Tuhan, dan dalam kesadaran akan ketergantungan kita sepenuhnya pada-Nya, dalam gejolak nurani dan dalam kurangnya kepuasan kita dengan semua yang material”)

Tempat Tinggal Allah adalah Hati adalah tempat tinggal Roh Allah dan di situlah kita berjumpa dengan Allah (Mat 5: 8). Memasuki hati berarti memasuki Kerajaan Allah. St. Isaac of Syria berkata, “Try to enter the treasure chamber…that is within you and then you will discover the treasure chamber of heaven. For they are one and the same. If you succeed in entering one, you will see both. The ladder to this Kingdom is hidden inside you, in your soul. If you wash your soul clean of sin you will see there the rungs of the ladder which you may climb.” Sehingga tugas utama kita adalah memasuki hati ini. “Find the door of your heart and you will find the door to the Kingdom of Heaven,” tulis St. John Chrysostom. “Always keep your mind collected in your heart,” kata St. Theophan the Recluse. (“ Isaac dari Syria berkata, “Cobalah memasuki ruang harta … yang ada di dalam diri Anda dan kemudian Anda akan menemukan ruang harta surga. Karena mereka satu dan sama. Jika Anda berhasil memasukkannya, Anda akan melihat keduanya. Tangga menuju Kerajaan ini tersembunyi di dalam dirimu, di dalam jiwamu. Jika kamu membersihkan jiwamu dari dosa, kamu akan melihat di sana anak tangga tangga yang bisa kamu panjat. ” Ini adalah tugas utama kita. “Temukan pintu hatimu dan kamu akan menemukan pintu menuju Kerajaan Surga,” tulis St. John Chrysostom. “Selalu jaga agar pikiranmu terkumpul di dalam hatimu,” kata St. Theophan sang Pertapa”). Doa menjadi cara pikiran (NOUS) turun atau masuk ke dalam hati dan menjadi satu dan doa kita menjadi “Doa Hati” (prayer of the heart).

St. Dimitri of Rostov menuliskan : Dia ada di dalam hati kita. Hati kita menjadi tempat berdiamnya Allah sebab kita adalah Bait Allah (1 Kor 3:17). Rasul Yohanes menuliskan perkataan Yesus, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23).

St. Augustine juga berkata demikian, “Where can we find Him? Not on earth, for he is not here. And not in heaven, for we are not there. But in our own hearts we can find him. He ascended to heaven openly so that He could come back to us inwardly, and never leave us again.” Ini menunjukkan bahwa hati kita menjadi tempat pertemuan antara diri kita dan Allah. Hati menjadi tempat ibadah dengan doa-doa kita kepada Allah. St. Makarios of Egypt menulis, “The heart is a small vessel, but all things are contained in it; God is there, the angels are there, and there also is life and kingdom, the heavenly cities and the treasures of grace.” (“ Di mana kita dapat menemukan Dia? Bukan di bumi, karena dia tidak ada di sini. Dan tidak di surga, karena kita tidak ada di sana. Tetapi dalam hati kita sendiri, kita dapat menemukannya. Dia naik ke surga secara terbuka sehingga Dia bisa kembali kepada kita di dalam, dan tidak pernah meninggalkan kita lagi. ”Ini menunjukkan hati kita menjadi tempat pertemuan antara diri kita dan Allah. Hati menjadi tempat ibadah dengan doa-doa kita kepada Allah. St Makarios of Egypt menulis, “Hati adalah bejana kecil, tetapi segala sesuatu terkandung di dalamnya; Tuhan ada di sana, para malaikat ada di sana, dan ada juga kehidupan dan kerajaan, kota-kota surgawi dan harta karun kasih karunia“).

Allah ada di dalam hati kita yang tersembunyi bukan di jalan-jalan raya dan tempat-tempat ibadah yang bisa dilihat banyak orang seperti doa orang-orang Farisi.  Dengan doa turun ke hati di situlah kita menjumpai Allah. John Karpathios menulis, “It takes great effort and struggle in prayer to reach the state of mind which is free from all disturbance; it is heaven within the heart, the place, as the Apostle Paul assures us “where Christ dwells in us” (II Cor. 13:5).” (“ John Karpathios menulis, “Dibutuhkan upaya dan perjuangan besar dalam doa untuk mencapai kondisi pikiran yang bebas dari segala gangguan; itu adalah surga di dalam hati, tempat, sebagaimana Rasul Paulus meyakinkan kita “di mana Kristus tinggal di dalam kita” (II Kor. 13: 5 ”).

 Sebab itu sangat penting ketika kita berdoa, segala gangguan termasuk ingin dilihat dan dipuji orang lain harus disingkirkan (Mat 6:5) sehingga pikiran kita bisa fokus masuk ke dalam hati kita dan menjumpai Allah di sana. Masuklah ke tempat yang tersembunyi supaya kita bisa berdoa masuk ke dalam hati menjumpai Allah. Di situlah kita bisa menceritakan segala beban kita dan berbagi beban kita bersama-Nya. Bukankah Yesus mengajak kita yang berbeban berat dan letih lesu untuk datang kepada-Nya. Yesus pernah berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Mat 11:28-30).

Hati merupakan pusat hidup manusia St. Macarios mengembangkan konsep hati sebagai pusat hidup. Dia menuliskan, “The heart governs and reigns over the whole bodily organism; and when grace possesses the ranges of the heart, it rules over all the members and the thoughts. For there, in the heart, is the mind, and all the thoughts of the soul and its expectation; and in this way grace penetrates also to all the members of the body… Within the heart are unfathomable depths. There are reception rooms and bedchambers in it, doors and porches, and many offices and passages. In it is the workshop of righteousness and of wickedness. In it is death; in it is life…. The heart is Christ’s palace; there Christ the King comes to take His rest, with the angels and the spirits of the saints, and He dwells there, walking within it and placing His Kingdom there. The heart is but a small vessel: and yet dragons and lions are there, and there poisonous creatures and all the treasures of wickedness; rough, uneven paths are there, and gaping chasms. There likewise is God, there are angels, there life and the Kingdom, there light and the apostles, the heavenly cities and the treasures of grace: all things are there.” Hati adalah Istana Kerajaan Kristus. Anthony Coniaris menuliskan, “To descend into the heart, some ascetics say, is to climb Mt. Sinai where God revealed Himself to Moses. This descent into inner space (the heart) is a profound mystery. For, as we descend into the depths of our being, we begin to ascend to the heights of heaven. We descend in order to ascend.” Turun ke dalam pusat hidup kita berarti kita sedang naik ke atas Surga. Bishop Kallistos Ware menuliskan, “Into the heart, then, he descends—into his natural heart first, and from there into the ‘deep’ heart—into that ‘inner closet’ of the heart which is no longer of the flesh. Here, in the depths of the heart, he discovers first the ‘godlike spirit’ which the Holy Trinity implanted in man at creation, and with this spirit he comes to know the Spirit of God, who dwells within every Christian from the moment of baptism, even though most of us are unaware of His presence. From one point of view the whole aim of the ascetic and mystical life is the rediscovery of the grace of baptism. The man who would advance along the path of inner prayer must in this way ‘return into himself’, finding the kingdom of heaven that is within, and so passing across the mysterious frontier between the created and the uncreated”. (“Jantung mengatur dan memerintah seluruh organisme tubuh; dan ketika anugerah memiliki rentang hati, ia menguasai semua anggota dan pikiran. Karena di sana, di dalam hati, adalah pikiran, dan semua pikiran jiwa dan harapannya, dan dengan cara ini rahmat menembus juga ke semua anggota tubuh … Di dalam hati ada kedalaman yang tak terduga. Ada ruang penerimaan dan tempat tidur di dalamnya, pintu dan teras, dan banyak kantor dan lorong. Di dalamnya ada bengkel kebenaran dan kejahatan. Di dalamnya adalah maut, di dalamnya adalah kehidupan …. Hati adalah istana Kristus, di sana Kristus Raja datang untuk mengambil perhentian-Nya, dengan para malaikat dan roh-roh orang-orang kudus, dan Dia tinggal di sana, berjalan di dalamnya dan menempatkan Kerajaan-Nya di sana. Hati hanyalah sebuah kapal kecil: namun ada naga dan singa di sana, dan di sana ada makhluk beracun dan semua harta kejahatan, ada jalan yang kasar dan tidak rata di sana, dan jurang yang menganga. demikian juga Tuhan, ada malaikat, ada kehidupan dan K tidak ada, ada terang dan para rasul, kota-kota surgawi dan harta karun kasih karunia: segala sesuatu ada di sana. ” Hati adalah Istana Kerajaan Kristus. Anthony Coniaris mengutip, “Untuk turun ke dalam hati, beberapa pertapa mengatakan, adalah mendaki Gunung Sinai di mana Tuhan mengungkapkan diri-Nya kepada Musa. Turunnya ke ruang batin (hati) ini adalah misteri yang mendalam. Sebab, ketika kita turun ke kedalaman. dari keberadaan kita, kita mulai naik ke ketinggian surga. Kita turun untuk naik. ” Turun ke pusat hidup kita berarti kita sedang naik ke atas Surga. Uskup Kallistos Ware menulis, “Ke dalam hati, maka, dia turun — ke dalam hati yang alami, dan dari sana ke dalam hati yang ‘dalam’ – ke dalam ‘ruang batin’ hati yang tidak lagi menjadi daging. Di sini, di lubuk hati yang paling dalam, ia menemukan pertama-tama ‘roh seperti dewa’ yang ditanamkan Tritunggal Mahakudus dalam diri manusia pada penciptaan, dan dengan roh ini ia mengenal Roh Allah, yang berdiam di dalam setiap orang Kristen sejak saat pembaptisan. , meskipun kebanyakan dari kita tidak menyadari kehadiran-Nya. Dari satu sudut pandang, seluruh tujuan kehidupan asketis dan mistis adalah penemuan kembali rahmat baptisan. Orang yang akan maju di sepanjang jalan doa batin harus dengan cara ini ‘kembali ke dirinya sendiri’, menemukan kerajaan surga yang ada di dalam, dan dengan demikian melintasi perbatasan misterius antara yang diciptakan dan yang tidak diciptakan”). (“The Art of Prayer.” Chariton. Faber and Faber. London. 1966. p. 20-21)[7]

St. Theophan the Recluse menjelaskan hati sebagai tempat kehadiran Allah: “The heart is the innermost man, or spirit. Here are located self-awareness, the conscience, the idea of God and of one’s dependence on him, and all the eternal treasures of the spiritual life…. The physical heart is a piece of muscular flesh, but it is not the flesh that feels, but the soul; the carnal heart serves as an instrument for these feelings, just as the brain serves as an instrument for the mind. Stand in the heart, with the faith that God is also there. (“”Hati adalah manusia yang paling dalam, atau roh. Di sini terletak kesadaran diri, hati nurani, gagasan tentang Tuhan dan ketergantungan seseorang kepadanya, dan semua harta abadi dari kehidupan spiritual …. Jantung fisik adalah sepotong daging berotot, tetapi bukan daging yang terasa, melainkan jiwa; hati duniawi berfungsi sebagai instrumen untuk perasaan-perasaan ini, sama seperti otak berfungsi sebagai instrumen untuk pikiran Berdirilah di dalam hati, dengan iman bahwa Allah juga ada di sana”).[8]

            St. Macarios menyatakan tentang misteri hati manusia: “Within the heart there are unfathomable depths.  There are reception rooms and bedchambers in it, doors and porches, and many offices and passages.  In it is the workshop of righteousness and of wickedness.  In it is death; in it is life…. The heart is Christ’s palace: there Christ the King comes to take rest, with angels and the spirit of the saints, and he dwells there, walking within it and placing his Kingdom there” (“Di dalam hati ada kedalaman yang tak terduga. Ada ruang penerimaan dan tempat tidur di dalamnya, pintu dan beranda, dan banyak kantor dan bagian. Di dalamnya ada bengkel kebenaran dan kejahatan. Di dalamnya adalah kematian; di dalamnya adalah kehidupan …. Hati adalah istana Kristus: di sana Kristus Raja datang untuk beristirahat, dengan para malaikat dan roh orang-orang kudus, dan dia tinggal di sana, berjalan di dalamnya dan menempatkan Kerajaan-Nya di sana”)[9]. Jadi begitu penting hati ini.

Bab III

Kesimpulan

Hati merupakan pusat diri kita sebagai makhluk rohani. Hati adalah tempat moral manusia yang terdiri dari pikiran, kehendak dan emosi. Hati adalah salah satu pemberian Allah yang paling besar kepada manusia. Jika hati benar dihadapan Allah, maka dia dipenuhi oleh terang. Jika hatinya jahat maka dia akan mengalami kegelapan. di dalam hati ada perasaan, kehendak dan intelek. Sebabnya hati lebih besar ketimbang nous karena di dalamnya ada hati itu sendiri dan kehendak bebas untuk memilih menaati atau melawan Allah. Hati adalah inti atau identitas dari manusia dan ini merupakan bagian yang paling rumit, kudus dan intim dari seseorang atau dasar dari seluruh diri dan karakternya. Hati kita adalah kunci menunju jiwa, pikiran dan kekuatan kita. Hati manusia tidak ada seorangpun yang dapat melihatnya tanpa Allah karena ia mengenal kita sepenuhnya. Dalam hati/kalbu terkubur segala sesuatu yang pernah kita lakukan

Aplikasi atau obediance

Karena dari dalam hati terpancar keluar segala apa yang kita lakukan baik yang baik maupun yang jahat, maka saya membentengi hati saya dengan pikiran Kristus (Nous) dan meminta bantuan Roh Kudus untuk membantu serta menolong saya dalam keadaan hati yang tidak membuat orang (sesama) menyenangkan apalagi Allah. Dan mengisi hati dengan Firman Allah serta berdiam di hadapannya (mendengarkan Allah berbicara dalam hati kita dalam doa)

Berdirilah di dalam hati, dengan iman karena Allah juga ada di sana tetapi dalam hal itu kita harus murnikan atau sucikan hati ini.

Doa dalam keheningan :

Tuhan Yesus Anak Allah, inilah saya manusia yang berdosa ini, belaskasihanilah aku, berkatilah aku, kenyangkanlah aku, pulihkanlah hatiku yang luka supaya aku dapat melihat Engkau, terangilah aku, dan sembuhkanlah aku ya Tuhan. Bentengilah hatiku dari pikiran-pikiran yang jahat. Amin.

Daftar Pustaka

  1. Coniaris, Anthony M. 2004. Confronting and Controlling Thoughts: According to the Fathers of the Philokalia. Minneapolis: Light and Life Publishing Co.
  2. Hendi Inspirasi Kalbu II (2018)

[1] Coniaris, Anthony M. 2004. Confronting and Controlling Thoughts: According to the Fathers of the Philokalia. Minneapolis: Light and Life Publishing Co. 21

[2] (Coniaris 2004, 22).

[3] (Coniaris 2004, 22).

[4] (Coniaris 2004, 23)

[5] Coniaris, Anthony M. 2004. 23

[6] (Coniaris 2004, 23-24).

[7] Hendi Inspirasi Kalbu II (2018) hal 7-9

[8] (Coniaris 2004, 26)

[9] (Coniaris 2004, 26).

Annuncation

Nama               : Ribala Erniwati Gulo

Tingkat            : II

M. K.               : Dogma 3

Dosen              : Dr. Hendy Wijaya S.s

Tugas               : 6

Nilai                : 98

Annuncation

Langkah untuk menafsir Teks Alkitab:

Histori:

  1. Literal Sense
  2. Syntantic Form/content

Theoria:

  1. Spiritual sence
  2. Semantic content (christ centerd dan Eklessial)

Lukas 1:26-38

berhubungan antara Allah dengan Maria sedangkan dalam Gal 4:9 berhubungan antara Allah dengan kita

Terjemahan Literal

anak-anak yang kecil, demi engkau aku beruaha keras melahirkan lagi, sampai Kristus di bentuk dalam kamu.

Historia :

  1. Rasul Paulus berusaha keras/sakit melahirkan atau bersalin lagi sampai Kristus menjadi terbentuk di dalam Gereja di jemaat Galatia.
  2. Rasul Paulus melakukan itu semua untuk jemaat Galatia

Annucation adalah kabar baik. Yesus yang di lahirkan oleh Maria merupakan buah rahimnya Maria. Maria pertama yaitu Hawa di gantikan oleh Maria ibu Yesus. Karena Maria pertama tidak taat. Dan Adam ke dua di gantikan oleh Yesus kristus di mana Yesus kristus taat sedangkan Adam yang pertama tidak taat kepada Allah. Dan ular di gamtikan oleh Malaikan Gabriel. figur rahim Maria merupakan kemah tempat kediaman Allah.

Pertumbuhan Rohani Manusia

Nama               : Ribala Erniwati Gulo

Tingkat            : II

M. K.               : Dogma 3

Dosen              : Dr. Hendy Wijaya S.s

Tugas               : 5

Nilai                : 98

Pertumbuhan rohani manusia

Pertumbuhan rohani manusia seperti seorang bayi yang baru lahir di mana ia harus mengalami dulu pertumbuhan dalam 1 Kor 3:1-3. Ciri pertumbuhan rohani tidak di hidup di dalam daging. Dimana ia di sini mengalami kedewasaaan sehingga ia bisa memakan makanan keras. Orang yang pertumbuhan rohaninya hanya biasa-biasa saja dalam arti belum bisa menghadapi yang namanya masalah maka ia adalah seorang bayi yang hanya mampu minum susu. Spiritual manusia seperi pohon di mana ia mengalami kematin (mematikan keinginan daging. Sehingga dengan dia mati maka ada benih yang bertumbuh. Benih yang berumbuh ini akan menancamkan akarnya di mana akarnya merupakan fondasi/dasar yang menyerap makanan. Dengan benih inni mati makanya adanya benih ilahi yang berasal dari Allah dan benih ilahi ini adalah berasal dari Allah di mana ialah yang akan mati supaya menghasilkan yang namanya pertumbuhan. Mati di sini adalah dengan menyengkal diri, mematikan keinginana daging/nafsu bisa di katakana sebagai padang gurun kita. Mati di sini juga adalah adanya pertobatan yang terus menerus dengan air mata. Fondasi atau akar merupakan iman, dan iman harus di tambah dengan perbuatan-perbuatan dan inilah yang merupakan latihan jiwani (doa/nepsis/ready the bible/puasa dan pertobatan. Di dalam latihan jiwani (pikiran/doktrin) juga ada latihan badani (tubuh terang). Latihan badani dan jiwanni di terangi oleh anugrah. Dalam terang memerlukan minyak juga dalam anugerah memerlukan energy ilahi yang di salurkan oleh Roh kudus. Batang pohon merupakan manusia rohani yang bertumbuh menunju kepada kristus. Di mana di sini keinginannya semakin habis dan pertumbuhan rohaninya makin bertambah. Sedangkan buahnya adalah menunju pada Theosis atau penghakiman akhhir. Di mana di sini kita mempertaruhkan iman kita di hadapan Allah.  

Perumpamaan tentang hakim yang tidak benar Lukas 18:1-8

Nama               : Ribala Erniwati Gulo

Tingkat            : II

M. K.               : Dogma 3

Dosen              : Dr. Hendy Wijaya S.s

Tugas               : 4

Nilai                : 98


Perumpamaan tentang hakim yang tidak benar

Lukas 18:1-8

Poin-poin sintatis

  1. Yesus mengajar para muridnya tentang sebuah perumpamaan
  2. Perumpamaan tentang manusia harus selalu berdoa dan tidak kehilangan hati
  3. Cerita atau narasi tentang perumpamaan yaitu ada seorang hakim disebuah kota yang tidak takut kepada Allah dan tidak menghormati seorang pun
  4. Ada seorang janda di kota tersebut yang datang kepada hakim itu dan berkata belalah hakku terhadap lawanku/musuhku
  5. Hakim itu menolak permintaan janda tersebut selama beberapa waktu
  6. Namun setelah itu hakim berkata pada dirinya sendiri yaitu walaupun aku tidak takut kepada Allah dan tidak menghormati sesame tetapi karena janda ini menyusahkan aku maka aku akan memberikan dia keadilan supaya dia jangan terus datang kepadaku dan menyusahkan aku
  7. Kata Tuhan bahwa dengarlah apa yang dikatakan oleh hakim yang tidak adil itu
  8. Dan tidaklah Allah akan memberikan keadilan kepada orang-orang  pilihan-Nya yang berseru kepada Allah siang dan malam dan Allah bersabar terhadap mereka.
  9. Yesus berkata kepada mereka bahwa Allah akan cepat memberikan keadilan kepada mereka. Tetapi ketika Anak manusia datang, akankah Dia mendapati iman di bumi?

Comprehension (pemahaman) :

  1. Perumpamaan Tuhan Yesus ini mengajarkan tentang manusia harus selalu berdoa dan tidak kehilangan hati (ayat 1&2)
  2. Ajaran tentang harus selalu berdoa dan tidak kehilangan hati  dijelaskan dalam sebuah cerita yang dapat di mengerti sebagai berikut:
  3. Seorang janda yang memohon kepada sang hakim dan terus memohon namun dia tidak kehilangan hati atau putus asa terhadap permohonannya.
  4. Hakim ini adalah hakim yang tidak adil atau jahat namun dia memenuhi permohonan janda itu
  5. Akhirnya janda itu mendapat keadilan atau permohonan dia terpenuhi
  6. Ajaran di poin satu juga di jelaskan dalam penjelasan perumpamaan yang dapat kita mengerti sebagai berikut:
  7. Walaupun hakim itu jahat namun dia permohonan janda itu dikabulkan (poin 6 dan 7)
  8. Apalagi Allah yang maha baik pasti akan memberikan keadilan kepada mereka yang selalu berdoa atau berseru kepada-Nya senantiasa (poin 6,7 dan 8)
  9. Dan pasti Allah akan sabar mendengar segala permohonan mereka.
  10. Dan Allah dengan cepat akan menjawab permohonan mereka (Poin 9)
  11. Namun ketika hakim yang adil itu datang untuk menghakimi semua manusia pada hari penghakiman, apakah hakim itu akan mendapati orang-orang yang seperti janda itu? (9)

Outline konsep:

Ide utama: manusia harus selalu berdoa dan tidak kehilangan hati

Ide-ide pendukung     :

  1. Karena ada hari penghakiman
  2. Terus berjaga-jaga melalui doa dan tidak kehilangan hati sebab ketika penghakiman itu datang kita telah siap menghadapinya
  3. Tuhan mengampuni orang yang selalu berseru kepada Dia siang dan malam

Kristologi Gereja Orthodox Timur

Nama                           : Ribala Erniwati Gulo

Tingkat                        : II

Dosen                          : Dr. Hendy Wijaya S.s

Tugas                           : Laporan baca “Kristologi Gereja Orthodox Timur”

Kesimpulan

Gereja Orthodox Timur mula-mula berasal dari zaman Pararasul dan kemudian bertumbuh di wilaya Timur dari kerajaan Romawi yang terkenal di sebut sebagai Zitun

Sumber ajaran Iman Kristen Orthodox

  1. Berita rasulia

Pemberitaan pararasul pada awalnya di sampaikan dalam bentuk ajaran lisan karena PB belum di tulis apalagi di kanonkan. Gereja purba pada waktu itu telah didirikan di Korintus, Tesalonika, Galatia, Efesus dan lain-lain

  • Bentuk ajaran Rasulia

Bentuk ajaran Rasulia memiliki dua bentuk yaitu lisan dan tulisan

  • Bentuk ajaran lisan
  • Ibadah dan Sakramen
  • Kidung-kidung Agung
  • Rumusan Kristologi dari ke-7 konsili Ekumenis
  • konsili Ekumenis pertama pada tahun 325 Masehi di Nikea dalam melawan Arianisme yang menentang keilahian kristus
  • kedua pada tahun 381 Masehi di konstatinopel dalam melawan Makedonianisme keilahian Roh kudus
  • ketiga pada tahun 431 Masehi di Efesus dalam meolawan Nestorianisme yang menetang kristus hanya memilikki satu pribadi sehingga menolak menyebut Maria sebagai Theotokos
  • keempat pada tahun 451 di Kalsedon melawan ajaran Monophysitisme yang mengatakan kristus hanya memiliki satu kodrat saja
  • kelima pada tahun 553 Masehi yang menegaskan ulang makna kristus
  • keenam pada tahun 680-681 Masehi melawan ajaran Monothelitisme yang menentang kristus memiliki dua kehendak yaitu kehendak manusia dan Ilahi
  • ketujuh pada tahun 787 Masehi dalam melawan ajaran Ikonoklasme yang menentang kesungguhan dari kemanusiaan kristus dalam Inkarnasi-Nya
  • pengakuan Iman Gereja
  • tulisan-tulisan para Bapa Gereja
  • seni ikonografi, arsitektur dan bangunan gedung gereja
  • kisah kehidupan para orang kudus

Kebangkitan Kristus sebagai Inti Berita Rasulia

Karena melalui kebangkitan-Nya Gereja Orthodox berdasarkan ajaran Rasulia melihat keunikan pribadi dan karya kristus dan melalui keunikan pribadi inilah Gereja Orthodox memahami siapa Allah sehingga sampai pada pemahaman tentang sifat Allah Tritunggal dari Allah yang Esa itu. Serta Kristus adalah dasar/fondasi 1Kor 3:11.

Implikasi dari Kebangkitan Kristus

  1. Dalam kaitannya pemahaman kita akan Allah

selama hidup Kristus Ia mengajarkan akan adanya Allah yang Esa Mar 12:29, Yoh 17:3 yang Ia sebut sebagai Bapa.

  • Dalam kaitannya dengan pemahaman kita akan ciptaan, terutaman manusia

Yaitu kita manusia memiliki arti mengapa kita hidup di dunia ini dan bagaimana kehidupan kita kelak.

  • Kristus sebagai Tuhan

Kata Tuhan yang di gunakan kepada Yesus dalam PB ada tiga latar belakang antara lain :

  1. Kata YHWH sebagai nama Allah sendiri dalam kitab Ibrani
  2. Kata Kyrios menunju pada sebutan penghormatan, kepenguasaan atau kepada sesuatu yang di pertuan.
  3. Ketika Yesus di permuliahkan sebutan kyrios “Tuhan” untuk Yesus mempunyai makna sebagai penguasa atau yang di pertuan yaitu Sang Junjungan Agung Yang Maha Kuasa.

Yesus diangkat sebagai Tuhan karena ia memiliki tida tujuan antara lin :

  1. Untuk menunjukan bahwa ia adam yang terakhir
  2. Untuk menunjukan bahwa Yesus yang Firman Allah itu sungguh-sungguh manusia
  3. Untuk tujuan keselamatan manusia

Mengenai Pribadi Yesus kristus

  1. Keilahian-Nya sebagai Firman Allah Yoh 1:1, firman Allah itu adalah merupakan kebenaran yang ada dalam Allah secara kekal. Firman Allah bukan di ciptakan karena melalui Dia Allah menciptakan alan semesta. Firman Allah berada di dalam diri Allah sehingga Ia juga mengambil bagian dalam Essensi Ilahi yang sama dari Allah Yang Esa itu.
  2. Satu Hypostasis dari Firman Allah atau titik kesadaran  ada tiga yaitu
  3. Allah yang Esa itu sendiri sebagai sumber asal dan terlahirnya Firman atau Anak dan keluarnya Roh Allah atau Roh kudus sehingga Hypostasis pertama ini di sebut Bapa
  4. Firman Allah yang Esa ini bersemayang dalam Bapa namun juga di peranakkan atau di nyatakan keluar oleh Bapa, ini di sebut Anak di mana melalui-Nya Allah mewahyukan diri-Nya dan mencip-takan alam semesta
  5. Roh atau prinsip hidup dan berkuasa yang kudus dari Allah yang Esa yang bersemayang di dalam Bapa
  6. Hubungan antara kemanusaian dan keilahian dari Firman Allah Yang Menjelma Kol 2:9. Kristus memiliki dua kodrat yang tidak bisa di pisahkan dan kedua kodrat ini di jaga kesempurnaannya dan keutuhannya sehingga tidak campur baur atau kacau balau namun keduanya di manunggalkan dalam satu pribadi yaitu Yesus kristus.

Aplikasi :

Dengan membaca buku ini saya terberkati ternyata masalah teolog tidak penting untuk di permasalahkan jika kita tidak mempraktekannya di dalam kehidupan kita. Percuma kita mengenang bangkitan Kristus jika kita tidak menanyakan apa dampaknya bagi diriku?. Sekarang ini banyak orang pintar berteologi tetapi pada kenyataannya kehidupan mereka agak sedikit melesek dengan apa yang mereka katakan. Memang setiap orang bisa jatuh dalam dosa tetapi jika kita berdebat tentang masalah teolog tidak ada gunanya tetapi marilah kita menambah yang kurang dan memperbaiki yang salah.

2 Timotius 4:6-8

Nama               : Ribala Erniwatu Gulo

Tingkat            : II

Tugas               : Latihan + Ujian

Dosen              : Hendy Wijawa S.s

M. K                : Yunani 2

2 Timotius 4:6-8

Ayat 6

For I am already being poured out as a drink offering, and the time of my departure is at hand. (2 Tim. 4:6 NKJ)

Ἐγὼ γὰρ ἤδη σπένδομαι, καὶ ὁ καιρὸς τῆς ἀναλύσεώς μου ἐφέστηκεν. (2 Tim. 4:6 GNT)

Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. (2 Tim. 4:6 ITB)

Diagram

Ayat 6

Penjelasan Syntactic Form

Ayat 6

Ada dua kalimat atau klausa di ayat 6 yaitu pertama Ἐγὼ  ἤδη σπένδομαι. Subjeknya adalah Ἐγὼ dan predikatnya adalah ἤδη σπένδομαι. Klausa kedua adalah ὁ καιρὸς τῆς μου ἀναλύσεώς ἐφέστηκεν. Subjeknya adalah ὁ καιρὸς τῆς μου ἀναλύσεώς dan predikatnya adalah ἐφέστηκεν.

Parsing:

  • Ἐγὼ  nominative subjek berfungsi sebagai subjek dari σπένδομαι (aku)
  • σπένδομαι  indicative, present, passive, singular. Ini adalah present of progressive artinya pencurahan darah Rasul Paulus sebagai korban sedang terjadi
  • ὁ καιρὸς  nominative subjek berfungsi sebagai subjek dari ἐφέστηκεν.
  • ἀναλύσεώς  genitive of description menjelaskan kata ὁ καιρὸς
  • μου  genitive of possessive menjelaskan milik dari ἀναλύσεώς
  • ἐφέστηκεν  perfect of intensive menjelaskan hasil tindakannya dari masa lampau sampai sekarang

Terjemahan literal

Sebab aku sedang di curahkan sebagai korban persembahan darah dan waktu keberangkatanku sudah dekat.

Syntantic form

  1. Sebab aku sedang di curahkan sebagai korban persembahan darah
  2. waktu keberangkatanku sudah dekat.

Poin-poin semantic:

  1. nyawa Rasul Paulus sedang di pertaruhkan  atau di curahkan kepada Allah
  2. hidup sampai kematian Rasul Paulus adalah satu korban kepada Allah
  3. kematian Rasul Paulus sudah dekat
  4. kematian Rasul Paulus adalah demi Injil Kristus atau pelayanannya kepada Kristus.

konsep Theologis:

ide Utama : kematian Rasul Paulus

ide Pendukung:

  1. kematian rasul Paulus adalah korban kepada Allah
  2. kematiannya sudah dekat dengan cara mencurahkan darah atau kematian martir
  3. kematiannya demi pelayanannya kepada Kristus dan Injil Kristus

penjelasan semantic conten:

kematian Rasul Paulus di ibaratkan seperti korban darah yang di persembahkan kepada Allah (Fil 2:17). Ini artinya kematiannya adalah satu persembahan korban kepada Allah. Bapa Gereja John Chrysostom juga mengatakan bahwa  “He has no said of my sacrifice; but, what is much more, “of my being poured out. “For the whole of the sacrifice was not offered to God, but the whole of the drink-pffering was.”[1]Kematiannya yang di persembahkan kepada Allah adalah untukkepentingan jemaat atau  Gereja (Fil 2:17). Darah yang di curahkan disini berarti nyawa yang di persembahkan sebagai korban kepada Allah demi kepentingan jemaat atau pelayanan kepada Kristus (Fil 2:17). Rasul Paulus mempersembahkan darahnya atau nyawanya di atas korban yang di persembahkan oleh jemaat kepada Allah. Menurut Hendi yang menafsirkan Fil 2:17 yaitu “Paulus mati martir  dan ini seperti pengorbanan darah yang di curahkan di atas korban yang kamu persembahkan kepada Allah atas dorongan percayamu kepada-Nya.”[2]

Nyawa yang di persembahkan kepada Allah adalah kembali berada bersama dengan Kristus (fil 1:23) dan ini adalah keuntungan bagi Rasul Paulus sebab dia berada bersama dengan Kristus yang ia layani (Fil 1:21). Itulah sebabnya Rasul Paulus juga bersukacita (Fil 2:17) dan mengajak jemaat Filipi ikut bersukacita bersamanya (Fil 1:18). John Chrysostom menuliskan

For this he implies, when he says, “Yea, and if I am offered upon the sacrifice and service, I joy and rejoice with you all; and in the same manner do ye also joy and rejoice with me.” Why dost thou rejoice with them? Seest thou that he shows that it is their duty to rejoice? On the one hand then, I rejoice in being made a libation; on the other, I rejoice with you, in having presented a sacrifice; “and in the same manner do ye also joy and rejoice with me,” that I am offered up; “rejoice with me,” “who rejoice in myself.” So that the death of the just is no subject for tears, but for joy. If they rejoice, we should rejoice with them. For it is misplaced for us to weep, while they rejoice.[3]

Ringkasan  personal (hati)

Darah yang di curahkan oleh Rasul Paulus adalah nyawa yang di persembahkan sebagai korban kepada Allah demi kepentingan jemaat atau pelayanan kepada Kristus. Dan Rasul Paulus menganggap itu semua adalah suatu keuntungan dan dia bersukacita. Kematian bagi orang percaya adalah sukacita dan keuntungan bukan suatu yang menakutkan dan menyedihkan sebab ketika kematian itu datang kita sudah mempersembahkan hidup kita kepada Allah sebagai korban yang berkenan kepada-Nya.

Aplikasi  Ketaatan

  1. setia dalam melayani Allah sampai akhir hidup
  2. meneladani hidup Rasul Paulus yang setia melayani Gereja dan  memberitakan Injil Kristus kepada orang-orang di luar Gereja
  3. melayani dan taat sampai mati  seperti Rasul Paulus

Ayat 7-8

I have fought the good fight, I have finished the race, I have kept the faith. (2 Tim. 4:7 NKJ)

Finally, there is laid up for me the crown of righteousness, which the Lord, the righteous Judge, will give to me on that Day, and not to me only but also to all who have loved His appearing. (2 Tim. 4:8 NKJ)

ἀγῶνα ἠγώνισμαι, τὸν δρόμον τετέλεκα, τὴν πίστιν τετήρηκα· (2 Tim. 4:7 GNT)

λοιπὸν ἀπόκειταί μοι ὁ τῆς δικαιοσύνης στέφανος, ὃν ἀποδώσει μοι ὁ κύριος ἐν ἐκείνῃ τῇ ἡμέρᾳ, ὁ δίκαιος

κριτής, οὐ μόνον δὲ ἐμοὶ ἀλλὰ καὶ πᾶσιν τοῖς ἠγαπηκόσιν τὴν ἐπιφάνειαν αὐτοῦ. (2 Tim. 4:8 GNT)

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Tim. 4:7 ITB)

Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. (2 Tim. 4:8 ITB)

Diagram

Penjelasan Syntatic form

di ayat 7-8 ada dua klausa di mana pertama τῆς δικαιοσύνης στέφανος subjeknya adalah στέφανος dan predikatnya adalah τῆς δικαιοσύνης dan yang kedua ὁ δίκαιος ὁ κριτής κύριος subjeknya adalah  ὁ κύριος sedangkan predikatnya adalah δίκαιος κριτής

Parsing

  • τῆς δικαιοσύνης  (kebenaran) noun genitive feminine singular from δικαιοσύνη ini genetiveDeskription menjelaskan  kata στέφανος (mahkota)
  • καλὸν ἀγῶνα adjective accusative masculine singular ini acussative of possesife (kepemilikan) dimana perjuangan yang baik telah di miliki Paulus dalam pertandingan
  • δρόμον τετέλεκα, τὴν πίστιν  noun accusative masculine singular from δρόμος ini accusative purpose/result di mana jalan akhir ini merupakan tujuan Paulus dalam memelihara iman atau hasil akhir dalam menjaga imannya kepada Kristus
  • ἀπόκειταί (meletakkan) verb indicative present middle or passive deponent 3rd person singular from ἀπόκειμαι ini indicative declarative (fakta)
  • μοι noun pronoun dative 1st person singular from ἐγώ ini dative of direct objek (objek langsung di mana kepada Pauluslah di letakkan Mahkota kebenaran.
  • δίκαιος κριτής adjective nominative masculine singular from δίκαιος ini nominative (Apposition) tambahan dari Kristus bahwa kristus yang mempunyai keadilan dan kebenaran.
  • ἠγαπηκόσιν verb participle perfect active dative masculine plural from ἀγαπάω inii participle yang menjelaskan kata sifat
  • αὐτοῦ noun pronoun genitive masculine 3rd person singular from αὐτός Ini Genetive possessive yang menunjukan kata kepunyaan bahwa rasul Paulus melihat (ἐπιφάνειαν)

Terjemahan Literal

Paulus telah mengakhiri pertandingan perjuangan yang baik, dengan memelihara/menjaga  iman.

bagiku terletak akhirnya mahkota kebenaran itu setiap hari yang di berikan kristus yang merupakan hakim dan kebenaran. Dan bukan aku seorang diri tetapi tiap-tiap orang dalam kasih.

Syntantic form

  • pertandingan perjuangan yang baik, hadiah jalan akhir dengan pencaharian iman
  • bagiku terletak akhirnya mahkota kebenaran itu setiap hari yang di berikan kristus yang merupakan hakim dan kebenaran
  • Dan bukan aku seorang diri tetapi tiap-tiap orang dalam kasih

Poin-poin semantic:

  • Perjuangan rasul Paulus jalan akhir dalam memeliharan iman
  • Rasul Paulus dengan usaha kerja keras menjaga imannya supaya ia memperoleh hadiah itu.
  • Mahkota kebenaran hanya ada di dalam Kristus yang merupakan hakim yang adil dan benar di dalamnya tidak ada kesalahan
  • Hadiah yang di dapat Paulus dalam usaha kerja kerasnya adalah mahkota kebenaran yang di berika Kristus bagi orang yang menjaga imannya
  • Bukan hanya Paulus yang memperoleh mahkota yang di berikan Kristus tetapi bagi semua orang yang berusaha memelihara/ menjaga imannya kepada Kristus.

Konsep Theologis

Ide utama : memperoleh mahkota kebenaran

Ide pendukung

  1. menjaga/memelihara iman
  2. usaha kerja keras

penjelasan semantic conten:

Bagi Paulus dalam perjuangan memelihara iman kepada kristus ia tidak menghiraukan nyawanya sekalipun Kis 20:24 karena baginya yang lebih penting adalah Kristus Fil 2:21. Bagi Paulus jika kristus menderita sampai akhir mengapa kita orang percaya tidak bisa menderita dengan menjaga dan memelihara iman kita?

 Menurut Bapa Gereja Chrysostom “Remember that Jesus Christ, of the seed of David, was raised from the dead, according to my Gospel. Wherein I suffer trouble as an evil-doer, even unto bonds.” (ingat Yesus Kristus dari keturunan Daud. Dia di tinggikan dari kematian menurut ajaran. Dimana Dia menderita kesusahan kepada seoran yang bertindak atau berbuat kejahatan sampai mati[4]. hal 489.


[1] John Chrysostom, The Homilies of St. John Chrysostom On The EPISTLES ST. PAUL THE APOSTLE to Timothy, Titus, and Philemon, Volume XIII dari Nience and Post Nience Fathers of the Christian Chruch, Philip Schaff ed, (Grand Rapids: Eerdmans Publishing Company; 1887), 511

[2] Hendi, Tafsiran Surat Filipi: Sebuah Analisisi Colon (Yogyakarta:Leutikaprio, 2017), 59.

[3] Chrysostom, The Homilies of St. John Chrysostom Oh the Epistle of St. Paul the Apostle to Philippians, Colossians, and Thesalonians, 223.

[4] John Chrysostom Homilies of St. John Chrysostom, Archbishop of Constantinople, on the Second Epistle of St. Paul the Apostle to Timothy  VOLUM XIII dari Nicene and Post-Nicene Fathers of the Christian Church. Edited by Philip Schaff, d.d., ll.d.,  Professorof Church History in the Union Theological Seminary, New York. in Connection With a Number of Patristic Scholars of Europe and America. oxford, 1843