Nama :
Ribala E. Gulo
Tingkat :
II
M. K :
Yunani II
Dosen :
Dr. Hendi Wijaya s.s
Tugas :
ke-1
Mar
12:29-30
Terjemahan
Literal :
Jesus answered him, “The first
of all the commandments is:`Hear, O Israel, the LORD our God, the LORD
is one. (Mk. 12:29 NKJ). And you shall love the LORD your God with all your
heart, with all your soul, with all your mind, and with all your strength.’
This is the first commandment. (Mk. 12:30 NKJ)
ἀπεκρίθη ὁ Ἰησοῦς ὅτι πρώτη
ἐστίν· ἄκουε, Ἰσραήλ, κύριος ὁ θεὸς ἡμῶν κύριος εἷς ἐστιν, (Mk. 12:29 GNT). καὶ ἀγαπήσεις κύριον τὸν θεόν σου ἐξ ὅλης τῆς καρδίας σου καὶ ἐξ ὅλης τῆς
ψυχῆς σου καὶ ἐξ ὅλης τῆς διανοίας σου καὶ ἐξ ὅλης τῆς ἰσχύος σου. (Mk. 12:30 GNT)
Jawab Yesus:
“Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita,
Tuhan itu esa.
(Mk. 12:29 ITB). Kasihilah Tuhan, Allahmu,
dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu
dan dengan segenap kekuatanmu. (Mk. 12:30 ITB)
Dijawab Yesus, bahwa hal pertama/perintah pertama
adalah dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita adalah Tuhan Allah
yang Esa, dan kasihilah Tuhan, Allahmu,
dari segenap hatimu,jiwamu, pkiranmu dan kekuatanmu.
Point-point
sintaktis(kompherension) (olah data)
- Yesus
menjawab apa itu perintah pertama
- Perintah pertama adalah:
- dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita,
Tuhan adalah Esa.
- Kasihilah
Tuhan Allahmu dari segenap hatimu, jiwamu, pikiranmu dan kekuatanmu.
Point-point
semantic (kompherension) (olah data)
- Yesus
sendiri yang memberi jawaban apa itu
perintah pertama sehingga perintah pertama adalah kebenaran
- Perintah
pertama berarti perintah yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum
mengerjakan perintah-perintah lain.
- Yesus
memerintahkan supaya bangsa Israel mengerti bahwa Allah itu Esa
- Setelah
mengerti atau mengenal Allah itu Esa lalu Yesus melanjtukan perintah mengasihi Allah yang Esa itu dari
segenap hati, jiwa, pikiran dan kekuatan bangsa Israel
- Mengenal
dan mengasihi Allah adalah satu kesatuan yang utuh
- Kata
Tuhan dan Allah menunjuk pada identitas yang sama yaitu Allah Bapa. pada
perkembangannya kata “Tuhan” menunjuk pada Yesus Kristus sehingga mengenal dan
mengasihi Kristus sama artinya mengenal dan mengasihi Allah Bapa atau mengenal
dan mengasihi Allah Bapa sama artinya mengenal dan mengasihi Kristus.
- Tidak
mengenal Kristus berarti tidak mengenal Allah Bapa
- Mengasihi
Allah itu harus bersumber dari dalam batin yaitu hati, jiwa dan pikiran
manusiayang terpancar keluar dalam wujud kekuatan atau energy/daya manusia yang
kita sebut sebagai terang.
- Mengasihi
Allah berarti menghasilkan hidup yang terang sebab kasih itu berwujud terang atau
energy ilahi.
- Hidup
terang berarti hati, jiwa, pikiran mengalami terang (batin mengalami
terang) terpancar keluar pada tubuh sehingga tubuh juga mengalami terang.
- Bukti
mengasihi Allah yang segenap batin dan kekuatan itu adalah mengasihi
orang-orang di sekitar kita.
- Mengasihi
orang-orang disekitar harus didahului mengasihi diri sendiri sebab diri
kita sendiri adalah orang paling dekat.
- Mengasihi
diri sendiri kemudian orang lain adalah satu kesatuan dan keseimbangan.
- Kedua
perintah di atas adalah inti atau fondasi dari perintah-perintah yang
lain.
Membuat
outline konsep: (kompherension /olah data)
Ide
utama: Dua perintah yang utama (yang terutama)
Ide-ide
pendukung:
- Mengenal dan mengasihi Allah Yang Esa adalah perintah
pertama.
- Perintah pertama menjadi dasar mengerjakan perintah
kedua.
- Perintah kedua yaitu mengasihi diri sendiri untuk
mengasihi orang-orang disekitar.
- Kedua perintah ini yaitu kasih menjadi fondasi dari
perintah-perintah yang lain.
Semantic
Content =
Analisis (menguraikan komponen-komponen)
Perintah manakah yang paling utama?
Demikian pertanyaan seorang ahli Taurat kepada Yesus. Jawaban Yesus ada 2 yakni
pertama, dengarlah, hai orang Israel, Tuhan, Allah kita, Tuhan adalah Esa, dan
kasihilah Tuhan, Allahmu, dari segenap hatimu, jiwamu, pikiranmu, dan
kekuatanmu. Perintah kedua ialah kasihilah orang-orang disekitarmu seperti
dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua
perintah ini.
- Mengenal dan Mengasihi Allah Yang Esa adalah Perintah
Pertama
Allah itu Esa. Ini adalah pengakuan
Yesus tentang Keesaan Allah atau Tauhid dan merupakan perintah atau hukum
paling utama. Tauhid adalah hukum paling utama sehingga menjadi fondasi dari
semua ajaran atau dogma dalam Kekristenan. Itulah sebabnya dalam Pengakuan Iman
Nikea (325) dimulai dengan “Aku percaya pada Satu Allah.” Tauhid adalah
kebenaran mutlak karena merupakan pengakuan Yesus sendiri dan tercatat di dalam
kitab suci. Dalam hal ini jelas bahwa Allah yang Esa tidak di sebut dalam
hitungan matematika atau satu dua tiga tetapi dalam Allah itu satu
tetapi tiga pribadi. Sering di sebut sebagai usia dan hipotasis di mana Allah
itu satu hakikat dan tiga titik kesadar yaitu Bapa, Anak dan Roh. Tiga bukan
dalam hitungan angka, jika di dalam hitungan mengapa bukan empat atau lima? Nah
seperti inilah yang perlu kita luruskan. Dimana Bapa merupaka sumber ciptaan,
Firman merupakan yang menjadikan ciptaan, dan Roh Kuduslah yang memberi
kehidupan(menghidupi). Kata “Allah” atau “Tuhan” sendiri
secara ontologis memang harus satu karena melekat pada sifat atau atribut-Nya
yang “Maha” itu. Karena Dia itu esa dalam keberadaan-Nya maka esa pula dalam
segala sifat-sifat-Nya sehingga tak ada satu pun yang dapat dibandingkan
dengan-Nya. Allah itu esa di dalam keilahian-Nya dan juga kepenguasaan-Nya. Dia
yang menjadikan segala sesuatu di alam semesta ini dan juga pemilik serta
pemelihara satu-satunya (Yesaya 44:24; Mazmur 24:1; 104: 10-27). Pengakuan atau
syahadat Yesus di atas tidak lepas dari syahadat Yahudi sehingga Yesus
mengatakan, “Dengarlah, hai orang Israel.” Syahadat Yesus untuk menunjukkan
bahwa Yesus datang bukan untuk menyingkirkan Taurat dan ajaran para nabi namun
untuk meneguhkan dan menegaskannya. Dengan demikian pengakuan akan Tauhid ini
merupakan ajaran pokok atau “Hukum yang terutama” menurut Yesus Kristus baik
dalam Taurat dan kitab para nabi ataupun dalam ajaran Yesus Kristus (Isa
Almasih) sendiri (lihat Ulangan 6:4, Yesaya 45:5-6; Matius 4:10; Yohanes 17:3;
Roma 3:10; 1 Korintus 8:4,6; Galatia 3:20; Efesus 4:6; 1 Timotius 2:5; Yakobus
2:10; Yudas 25). Ayat-ayat ini menegaskan bahwa syahadat orang Kristen adalah
Tauhid atau keesaan Allah. Karena Allah itu esa, sehingga mengasihi Allah juga
harus dengan “segenap” (bulat; utuh; keseluruhan) hidup (hati, jiwa, akal budi/pikiran,
dan daya upaya/kekuatan/energi) kita. Tidak ada tempat bagi ilah lain di dalam
hidup kita hanya Allah yang esa itu saja. Mengasihi Allah dengan segenap hidup
kita berarti hanya Allah yang kita kasihi dan tidak ada ilah lain di dalam
hidup kita.
- Perintah Pertama Menjadi Dasar Mengerjakan Perintah Kedua
Seiring dengan itu maka apa bukti
kita mengasihi Allah dengan segenap hidup itu? Rasul Yohanes dalam surat 1
Yohanes menuliskan, “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia
membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi
saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak
dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah,
ia harus juga mengasihi saudaranya” (1 Yohanes 4:20-21). Rasul Yohanes
menyatakan dengan jelas bahwa mengasihi Allah berarti mengasihi sesama. Sikap
mengasihi ini menunjukkan bahwa dia lahir dari Allah dan mengenal-Nya sebab
Allah adalah kasih dan kasih itu berasal dari Allah (1 Yohanes 4: 7-8). Jika
kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, kasih-Nya sempurna di dalam
kita (1 Yohanes 4: 12b). Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap berada di
dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia (1 Yohanes
4: 16b). Dengan mengasihi menunjukkan kita berada di dalam Allah.
Mengasihi sesama juga membuktikan
kita mengasihi Yesus yang adalah Firman-Nya yang berinkarnasi. Karena Allah itu esa sehingga mengasihi Allah berarti
juga mengasihi Firman-Nya. Mengasihi sesama merupakan perintah Yesus
(Yohanes 15:17). Ketaatan pada perintah Yesus membuktikan kita mengasihi Yesus
sehingga kita hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yohanes 2:6). Siapa
saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.
Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-ku dan Aku pun akan
mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya (Yohanes 14:21). Mengasihi
sesama berarti kita mengasihi Yesus karena kita menaati perintah Yesus.
Mengasihi Yesus berarti kita dikasihi Allah dan inilah kasih Allah itu bahwa
Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia supaya kita hidup
oleh-Nya (1 Yohanes 4:9). Ajaran Tauhid membuat kita mengerti bahwa Allah yang
telah lebih dahulu mengasihi manusia dengan mengutus Yesus Kristus sebagai
pendamaian bagi dosa-dosa manusia (1 Yohanes 4:10). Sehingga pengakuan kepada
Allah yang Esa itu dan mengasihi Dia yang membawa kita mengasihi sesama
merupakan respons atas kasih Allah kepada kita. Benarlah yang dikatakan oleh
Rasul Yohanes bahwa kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1
Yohanes 4:19).Perintah Kedua: Mengasihi Diri Sendiri untuk Mengasihi
Orang-orang Di sekitar
Perintah Kedua:
Mengasihi Diri Sendiri untuk Mengasihi Orang-orang Di sekitar
Mengasihi
orang-orang di sekitar kita harus dimulai dari mengasihi diri sendiri sebab
diri kita sendirilah orang yang paling dekat itu. Mengasihi diri sendiri dan
orang lain di sekitar kita adalah mengasihi mereka yang tampak oleh mata kita
seperti yang dituliskan oleh Rasul Yohanes bahwa kita tidak mungkin bisa
mengasihi Allah yang tidak tampak oleh mata kita jikalau kita tidak mengasihi
mereka yang tampak oleh kita. Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang
dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya (1 Yoh 4:20).
Dan diri kita sendiri adalah yang paling tampak dan dekat pada kita setiap
hari.
Apa arti
mengasihi orang lain? Menurut Rasul Yohanes harus ada bukti kasih. Ada 2 bukti
mengasihi. Pertama, dia tidak membenci saudaranya (1 Yohanes 2:9). Apa arti
membenci? Kalau kita lihat Rasul Yohanes memberikan contoh di 3:12 tentang Kain
membunuh Habel. Membenci berarti mengorbankan orang lain supaya binasa untuk
hidupnya sendiri. Dan kebalikan dari kebencian adalah kasih sehingga Rasul
Yohanes memberikan perintah selanjutnya. Kedua, mengasihi saudaranya (1 Yohanes
2:10). Kata kasih dikontraskan dengan kebencian. Hanya ada dua pilihan yaitu
membenci atau mengasihi. Jika kita tidak mengasihi, maka kita pasti membenci.
Konsep kasih adalah kebalikan dari konsep benci. Membenci berarti mengorbankan
orang lain supaya binasa untuk kepentingannya sendiri. Mengasihi berarti
mengorbankan diri sendiri untuk orang lain supaya mereka hidup. Mengasihi
sesama berarti mengorbankan diri sendiri untuk sesama supaya mereka menjadi
hidup atau tidak binasa.
Konsep ini
semakin jelas karena kasih itu relasional dengan orang lain. Kita lihat di 1
Yohanes 2:8. Di ayat tersebut dituliskan bahwa kegelapan sedang hilang dan
mulai diterangi. Kegelapan ini bisa secara komunal maupun personal yang tidak
terlihat orang lain. Kegelapan sedang lenyap dan mulai diterangi oleh kasih.
Kasih itu sifatnya komunal (melibatkan orang lain) bukan perasaan tetapi
berkaitan dengan orang lain. Kita lihat contoh kasih Kristus. “Demikianlah kita
ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita;
jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.
Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan
tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah
dapat tetap di dalam dirinya?” (1 Yohanes 3:16-17)
Kasih Kristus
adalah mati untuk manusia berdosa. Kristus harus mati karena manusia berdosa.
Kristus harus mati karena manusia membutuhkannya supaya manusia hidup tidak
binasa melainkan hidup kekal. Kasih Kristus adalah pengorbanan, relasional
dengan orang lain yang membutuhkan, dan membuat orang lain menjadi hidup. Hal
yang sama ketika kita akan mengasihi dengan mengikuti teladan kasih Kristus.
Kasih itu
mengorbankan diri, relasional dengan orang lain, dan membuat orang lain menjadi
hidup. 1 Yohanes 3:16-17 menjelaskan bahwa puncak kasih adalah mengorbankan
nyawa. Puncak kasih Allah adalah mengorbankan Kristus di atas kayu
salib. Begitu juga dengan manusia. Puncak kasih kita adalah ketika kita
mengorbankan nyawa kita untuk orang lain, namun sebelum sampai ke puncak,
Yohanes menyatakan kita bisa mengasihi orang lain dengan memberi harta benda
kita yang dibutuhkan oleh orang lain. Sehingga benarlah yang dikatakan oleh
Yohanes bahwa anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau
dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (1 Yohanes 3:18). Mengasihi
sesama berarti melakukan sesuatu bagi sesama (kasih dengan perbuatan bukan
dengan perkataan) sehingga dia meiliki kehidupan (kasih dalam kebenaran). Lihat
juga penjelasan kasih di artikel berikut https://hendisttrii.wordpress.com/2017/05/30/matius-712-kasih/
Kasih Menjadi
Fondasi
Mengapa kedua
perintah ini menjadi fondasi atau lebih tepatnya mengapa kasih menjadi dasar
untuk mengerjakan perintah-perintah lain? Sebab kasih itu menggenapkan semua
perintah hukum Taurat atau kasih itu kegenapan hukum Taurat (Rom 13:10). Dan
Kristus datang untuk menggenapkan hukum Taurat (Mat 5:27) yaitu menjadikan
nyata atau memberikan makna sebenarnya dari hukum Taurat itu. Lihat juga
pembahasannya di artikel berikut: https://hendisttrii.wordpress.com/2019/01/16/
karya-kristus-karya-penggenapan-hukum-taurat/. Sehingga karya Kristus adalah
karya kasih dan kasih yang harus kita tunjukkan adalah kasih Kristus yaitu
kasih penggenapan hukum Taurat atau kasih yang telah diberi makna baru oleh
Kristus. Kasih yang harus kita pancarkan sekarang baik kepada Allah, diri
sendiri, dan orang lain adalah kasih Kristus.
Kasih Kristus
Mengasihi Allah
dan manusia adalah ringkasan Hukum Taurat yang digenapi oleh Kristus. Kristus
telah menggenapi Hukum Taurat yang berarti Dia telah mengasihi Allah dan
manusia secara sempurna sehingga Dia mewakili manusia yang gagal menaati Hukum
Allah karena ketidaktaatan manusia atau dosa. Sebab dosa adalah pelanggaran
terhadap Hukum Allah yang berarti ketidaktaatan manusia kepada perintah Allah.
Kristus menggantikan manusia sebab Dia mengasihi manusia dengan cara ketaatan
secara total kepada Allah. Di balik kasih ada ketaatan. Sebab itu ketika
Kristus menggenapi Hukum Taurat dengan mangasihi Allah dan sesama, Dia
menunjukkan ketaatan sampai mati (Fil 2:8). Ketaatan adalah bukti kasih. Tanpa
ketaatan tidak ada kasih. Kristus menyatakan, “Jikalau kamu menuruti
perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah
Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” (Yoh 15:10) Itulah sebabnya Kristus
taat sampai mati menggantikan ketidaktaatan manusia. Hanya Dia yang sempurna
menaati Hukum Allah itu. Dia dengan ketaatan bukan dengan paksaan mengosongkan
diri menjadi seorang hamba.
Kemudian
Kristus memberikan perintah yang sama kepada kita. Dia telah mengasihi Allah
dan manusia begitu juga kita harus mengasihi Allah dan sesama supaya kita
menjadi sama seperti Kristus. Mengasihi Allah dan sesama sama artinya kita
mengasihi Kristus. Sebab kita telah menaati perintah Kristus yaitu saling
mengasihi. “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang
mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan
Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Jawab Yesus:
“Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan
mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.
Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang
kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.”
(Yoh 14:21, 23-24) Apa perintah Kristus? “Inilah
perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi
kamu.” (Yoh 15:12) Kristus memberikan perintah supaya kita mengasihi sesama dan
dengan mengasihi sesama ini berarti kita menaati perintah Kristus dan sekaligus
mengasihi Dia. Mengasihi Kristus juga berarti kita mengasihi Allah karena
melihat Kristus adalah melihat Allah sebab itu kita juga akan dikasihi Allah.
Kuncinya adalah ketaatan kita pada perintah Kristus yaitu melakukan kasih tadi.
Ringkasan =
Sintesis (menyimpulkan/menyusun kembali)
Mengapa kasih? Sebab
kasih adalah kegenapan Hukum Taurat dan kasih itu adalah kasih Kristus.
Oleh kasih Kristus Hukum Taurat telah digenapi dengan sempurna. Oleh kasih
Kristus kita telah diselamatkan dari dosa, Iblis, dan maut. Sebab itu, dengan
kasih Kristus kita taat sama seperti Kristus taat. Dengan kasih Kristus kita
memancarkan terang kepada dunia yang gelap sama seperti Kristus menerangi dunia.
Dengan kasih Kristus kita melakukan apa yang telah Kristus lakukan. Sehingga
dengan kasih dalam ketaatan kita sedang menjadi serupa seperti Kristus.
Obedience
(Ketaatan)
Dengan membahas hal diatas apa yang pelu kita lakukan untuk menurunkan ke
dalam Psimotorik kita sebagai sesuatu hal yang akan kita kerjakan. Berarti
mengasihi Allah sama sengan mengasihi sesama dan kasih kepada sesama tidak
memandang muka contohnya karena ia teman bahkan sahabat kita ataupun keluarga
famili kita maka kita mengasihinya
tetapi dalam hal ini kasih kita kepada Allah yaitu mengasihi sesama. Jika
Kristus mengasihi kita mengapa kita tidak bisa menyalurkan kasihnya.
Aplikasi
(Penerapan)
- Kita harus terlebih dahulu
mengenal atau memahami siapa Allah yang Esa itu.
- Setelah itu, kita harus menerapkan
pengenalan itu dalam wujud mengasihi Allah dengan segenap batin dan
kekuatan.
Bukti mengasihi Allah adalah mengasihi Kristus, Bukti kita mengasihi
Kristus adalah dengan mengaasihi sesama. siapa sesama kita? yaitu orangt-orang
yang berada di sekitar kita.